Mattoanging Tanpa Kekerasan

Jika lebih setengah abad lalu, tokoh Sulsel Mayjen TNI (Purn) H Andi Mattalatta harus berhadapan dengan kekerasan sekelompok orang saat hendak membangun Stadion Mattoanging, kini, putranya, Andi Ilham Mattalatta, terpaksa berhadapan dengan penguasa yang akan mengambil-alih stadion tanpa memperdulikan budaya Bugis-Makassar, Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakainge (saling mengingatkan), Sipakalebbi (saling menghargai).

SEKELOMPOK orang berbekal parang, linggis, sekopang, alu, badik dan bermacam alat, berhamburan keluar dari rumah dan gubuk.

Mereka menyambut kedatangan rombongan dari Yayasan Stadion Mattoanging, dipimpin Kepala Staf Teritorial VII-Wirabuana, Letkol Kretarto, saat melakukan peninjauan di lokasi bekas peternakan milik perusahaan asing dijaman kolonial Belanda, Boerderijk & Melkerij “Frisian” lokasi yang akan dibangun Stadion Mattoanging.

Baca juga:

Lahan tersebut sebagian besar telah diserobot masyarakat. Mereka membuat rumah, gubuk-gubuk, di situ terdapat banyak mantan Tentara Pejuang Kemerdekaan Indonesia yang biasa dijuluki “Tentara No School” karena sebagian besar tidak pernah bersekolah dan di masa perjuangan mereka memiliki keberanian bertempur hingga ke Tanah Jawa untuk membebaskan negeri ini dari para penjajah.

Ketegangan menjadi penghambat rencana pembangunan stadion, padahal itu menjadi prioritas.

Jika gagal, semua tokoh-tokoh di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan dan Tenggara akan menanggung siri’ (malu) sebab Makassar telah menyatakan siap menjadi tuan rumah Pekan Olah Raga Nasional (PON) IV/ tahun 1957 dan disambut baik oleh Presiden Bung Karno.

Beberapa kali upaya peninjauan lokasi stadion gagal, akhirnya, Letkol Inf Andi Mattalatta, Ketua Panitia Pembangunan sarana Olahraga Mattoanging yang menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) ketika itu terpaksa turun tangan, dibantu stafnya, bersama Wali Kota Makassar, Yunus Daeng Mile, mendatangi lokasi.

Tapi, lagi-lagi mereka disambut dengan sikap siap ‘tempur’ para penghuni, berbekal senjata tajam dan aneka peralatan untuk mempertahankan lokasi.

Melihat kehadiran Andi Mattalatta,  para pejuang yang mengenalinya dan menjadi motor dalam perlawanan itu langsung menurunkan senjatanya, ada yang berusaha menyembunyikan.

“Hei, lanubunoa ? (Hei, kalian mau bunuh saya ?), kata Andi Mattalatta dalam dialek Makassar, menegur salah seorang yang mendekat.

“Angngapa naki kana kamma Karaeng, sa’dang kisuroi’ mange lamate andallekangi Balandayya, na tena nakisitangnga-tangnga, apaseng punna lanisurojaki’ ampilarii tampaka anne,” (Mengapa Bapak mengatakan demikian ? sedangkan Bapak suruh saya pergi untuk kemungkinan mati menghadapi Belanda, saya tidak ragu-ragu, apalagi kalau mau disuruh saja meninggalkan tempat ini), jawab seorang pejuang.

Para penghuni lokasi itu merasa lega setelah bertemu Andi Mattalatta, mereka bergantian menyampaikan terima kasih, mencium tangannya, karena mereka yakin tidak akan disengsarakan, malah diberi uang dan lokasi perumahan untuk hidup tenang.

Kisah ini pernah diceriterakan Andi Mattalatta kepada penulis yang pernah mewawancarainya untuk edisi “Mattalatta Tokoh Ski Air Nasional” dan  juga sejarah itu tercatat dalam buku Asal Usul Tanah dan Complex Sarana Olahraga Mattoanging.

Ancaman sikap kekerasan yang terjadi enam puluh delapan tahun silam, tepatnya Maret 1952,  itu kembali terulang di Stadion Andi Mattalatta, Mattoanging, Rabu, 15 Januari 2020, tat kala Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengirimkan ratusan pasukan Polisi Pamong Praja, membongkar paksa pintu pagar untuk menguasai Stadion yang rencananya akan direnovasi, tanpa memperdulikan proses hukum yang masih berjalan atas gugatan Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS), yayasan yang selama ini mengelola Stadion Mattoanging dan  menjaga kredibilitas stadion tersebut. 

Stadion itu pernah terbengkalai dan untuk memastikan pengelolaan dan perawatannya, dibentuklah Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS), diperkuat dengan Akta Notaris 146 tertanggal 22 Januari 1982, Dewan Pendiri, yaitu Andi Mattalatta, Andi Abd LAtief, A.R Malaka,SH, Sjafiuddin dan H Mas Junus Dg Mile.

Gubernur Sulsel, ketika itu Brigjen TNI (Purn) H Andi Oddang memperkuat peran YOSS dengan Surat Keputusan No 114/II/1982, tertanggal 15 Februari 1982.

Untuk menghindari simpang siur wewenang terhadap semua peninggalan fasilitas PON IV/57 dan untuk melaksanakan Keputusan Rapat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel ke-XIV No.02 tahun 1984, tanggal 19 Mei 1984, maka diserahterimakan Stadion Mattoanging, salah satu fasilitas itu dari pimpinan KONI Sulsel kepada Dewan Pendiri YOSS melalui Berita Acara Serahterima No.055 tahun 1985, tertanggal 3 Januari 1985, disaksikan dan ditandatangani Gubernur Sulsel, DR H Achmad Amiruddin. Dan dari tahun ke tahun pengurus YOSS pun silih berganti hingga 2020.

Jika lebih setengah abad lalu, tokoh Sulsel Mayjen TNI (Purn) H Andi Mattalatta harus berhadapan dengan kekerasan sekelompok orang saat hendak membangun Stadion Mattoanging.

Kini, putranya, Andi Ilham Mattalatta, Ketua Umum YOSS terpaksa harus berhadapan dengan penguasa yang akan mengambil alih stadion tanpa memperdulikan budaya Bugis-Makassar, Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakainge (saling mengingatkan), Sipakalebbi (saling menghargai).

Kekerasan pun tak terelakkan, mereka yang mendukung YOSS siap dengan berbagai peralatan menghadapi petugas yang juga saudara kita. Haruskan persoalan Stadion Mattoanging  itu diselesaikan dengan ‘Perang Saudara ?

M Kiblat Said (Wartawan)

Komentar

Rekomendasi

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Vaksin Lebaran

Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Memaafkan dan Dimaafkan

Keluarga Dokter

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar