Media Sosial dan Opini Publik

Terkini.id, Makassar – Media sosial (Medsos) kini banyak digunakan masyarakat untuk memperoleh informasi. Dalam analisis, dipilih karena lebih mudah diakses dibanding media konvensional. Terlebih, pesan bisa ditanggapi dan disebarkan.

Media sosial merupakan sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. Seperti dalam pandangan Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam buku “Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media”.

Selain itu, diartikan sebagai sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam pandangan nimda dalam buku “Apa itu Sosial Media”.

Baca Juga: Seorang Ibu-ibu Ludahi dan Pukul Petugas KRL: Biarin-Biarin Sabar-Sabar

Dikutip dalam konten pemberitaan, pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini telah mencapai 202,6 juta jiwa.

Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh layanan manajemen konten HootSuite, dan agensi pemasaran media sosial “We Are Social dalam laporan bertajuk “Digital 2021”.

Baca Juga: Cara Hapus Akun Facebook Secara Permanen Tanpa Ribet

Adapun media sosial yang sering digunakan masyarakat saat ini adalah Instagram, TikTok, Facebook, Youtube, Twitter, dan lain sebagainya.0,

Karakternya, hampir sama yaitu tergolong bebas. Netizen sapaan pengguna internet, membanjiri kolom komentar dengan pesan yang tidak terkontrol. 

Jika informasi mungkin saja menarik untuk diperbincangkan. Selain berita positif, dalam media sosial juga banyak beredar berita bohong (hoax) atau berita palsu.

Baca Juga: Cara Hapus Akun Facebook Secara Permanen Tanpa Ribet

Contohnya saja saat hadirnya tim detektor bentukan pemerintah kota Makassar langsung ke rumah-rumah. Tujuannya, untuk memeriksa status kesehatan masyarakat.

Opini pengguna bermunculan. Ada yang pro dan kontra. Mereka yang protes memandang program itu sia-sia dan buang-buang anggaran. 

Terlebih, postingan dilengkapi foto sebagai bukti pelanggaran tim di lapangan. Seperti berboncengan tiga, berkerumun dan tidak memakai masker.

Dalam dereran komentar yang dikutip dari berbagai akun. Biasanya, ada beberapa oknum yang mengeluarkan pendapat tentang apa yang ada di pikirannya. 

Jika menarik, pernyataan itu menggiring seseorang dalam persepsi hingga membuat opini publik.

Contoh lainnya, postingan pemberitaan terkait keluhan warga yang merasa dipersulit saat ingin menjalani isolasi di asrama haji sudiang.

Pengakuan Ridwan Marzuki yang berprofesi sebagai karyawan swasta. Pihak puskesmas hanya memberi izin rujukan di isolasi apung atau kapal KM Umsini.

Netizen yang berkomentar menyoroti hal itu. Disebabkan, anggapan konflik antara pemerintahan.

Selain itu, ada yang memandang hal itu sebagai gerak lambat pemerintah dalam penanganan Covid 19.

Untungnya, pemerintah bergerak cepat. Wali Kota Makassar, Ir. Ramdhan “Danny” Pomanto meluruskan informasi yang beredar. 

Dikutip dalam sejumlah laman pemberitaan, penolakan terjadi karena warga yang bersangkutan tidak memiliki bukti terkonfirmasi Covid 19 berdasarkan hasil tes alat PCR. 

Olehnya, dianggap belum memenuhi standar rujukan atau SOP yang ditetapkan.

Cara ini merupakan upaya pengendalian informasi yang beredar. Dalam prespektif, langkah itu selaras dengan konsep komunikasi publik.

Komunikasi publik didefinisikan sebagai kegiatan dan strategi komunikasi yang ditujukan kepada khalayak sasaran.
 
Tujuannya, untuk menyediakan informasi kepada khalayak sasaran dan untuk meningkatkan kepedualian dan mempengaruhi sikap atau perilaku khalayak sasaran. Menurut pandangan ahli, Dennis Dijkzeul dan Markus Moke (2005).

Sementara, Judy Pearson dan Paul Nelson (dalam Srisadono 2018) mengartikan komunikasi publik (public speaking) sebagai proses menggunakan pesan untuk menimbulkan kesamaan makna dalam sebuah situasi.

Dimana sumber mentransmisikan pesan ke sejumlah penerima pesan yang memberikan umpan balik berupa pesan atau komunikasi nonverbal dan terkadang berupa tanya jawab.

Dalam struktur pemerintahan, tugas ini merupakan wewenang humas. Perannya sangat penting untuk membantu agar penyebaran informasi hoax terbendung.

Di era digital seperti ini, penulis menyarankan adanya penyusuaian dalam menyusun strategi dan taktik komunikasi. Hingga mendesain ulang perencanaan yang telah dibuat.

Misalnya, saat ada isu apapun yang beredar di tengah masyarakat. Humas perlu menangkap hal itu dan menyajikan fakta yang terjadi. 

Disampaikan melalui seluruh kanal media sosial. Dengan catatan, narasi harus berimbang dan tidak ada kesan arogan dalam penyampaian.

Acuannya, dibuatkan dalam bentuk SOP khusus. Termasuk, adanya prosedur menjawab permasalahan warga.

Keterlibatan pegawai juga diperlukan, dengan menyebar informasi untuk memperluas cakupan.

Sehingga output yang diinginkan bisa tercapai. Dalam artian, argumen dapat diterima dengan baik dan dimaknai sebagai informasi yang berimbang sekaligus positif untuk masyarakat.

Sementara khusus untuk pengguna medsos, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengunggah informasi agar kita tidak menjadi bagian dari penyebar berita hoaks.

Seperti membaca keseluruhan informasi dan menghindari hanya membaca judul. Pasalnya, terkadang judul dan keseluruhan informasi memiliki isi yang berbeda. 

Kedua, mengecek sumber berita. Disarankan pembaca mengecek kembali apa yang diterima dengan informasi serupa yang terdapat di media tepercaya.

Jika berlainan dengan informasi di situs resmi, dapat dikatakan informasi yang bersumber dari medsos tersebut hoaks atau disinformasi.

Selain itu, memperhatikan situs yang menyebarkan informasi. Jika menggunakan domain blog, berita yang disajikan masih belum dapat dikatakan valid.

Di era digital saat ini, pemanfaatkan sosial media untuk mendapatkan informasi menjadi hal yang tidak terbendung. Kita dituntut menerima dan beradaptasi agar tidak ketinggalan zaman.

Dengan mengedepankan sikap bijak, agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Penulis: Irnawati M.Ikom, Dosen Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar

Bagikan