Membedakan Bahasa Fakta dan Opini dalam Masa Kampanye Pemilu 2024

Membedakan Bahasa Fakta dan Opini dalam Masa Kampanye Pemilu 2024

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Dalam menghadapi masa kampanye Pemilu 2024, warga negara perlu waspada terhadap bercampurnya opini dengan fakta, yang seringkali menimbulkan kebingungan.

Penting bagi kita untuk memperoleh informasi yang berlandaskan fakta guna membuat keputusan yang tepat.

Namun, tak dapat diabaikan bahwa ada peserta Pemilu yang cenderung mempengaruhi kita dengan menggunakan bahasa opini, tanpa menyajikan bukti atau informasi yang valid.

Sebagai panduan, perbedaan antara bahasa fakta dan opini dapat dikenali melalui penggunaan bahasa. Bahasa menjadi kunci untuk menentukan apakah suatu pernyataan didukung oleh bukti dan telah diverifikasi.

Ataukah itu mencerminkan sudut pandang, penilaian, atau keyakinan pribadi.

Menurut Ohio State University, bahasa fakta menggunakan informasi obyektif yang mencerminkan temuan penelitian atau perspektif lain yang tidak bias.

Sebagai contoh: “Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup aktif mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes.” Atau “Studi dari Brown University Medical School menunjukkan bahwa orang berusia dua puluhan mengonsumsi 25 persen lebih banyak makanan cepat saji pada usia ini dibandingkan saat mereka remaja.”

Sementara itu, bahasa opini menggunakan kalimat subyektif, menggambarkan perspektif atau interpretasi seseorang atau organisasi yang dapat mendistorsi informasi.

Meskipun ada opini yang disertai dengan informasi obyektif, seperti: “Pada usia tiga puluhan, wanita seharusnya menambah persediaan kalsium untuk memastikan tulang yang kuat dan padat serta mencegah osteoporosis di kemudian hari.”

Pentingnya memahami perbedaan ini karena, seperti dilansir oleh BBC Skillwise, fakta dan opini bisa dimanipulasi. Opini pun bisa disajikan seolah-olah sebagai fakta dengan menggunakan bahasa fakta.

Contohnya: “DPRD kota menyatakan bahwa sebagian besar warga tidak menginginkan pengembangan sistem jalan satu arah.”

Meskipun menggunakan bahasa fakta, kita perlu berhati-hati karena pernyataan tersebut mungkin hanya mencerminkan argumen yang lemah dan sepihak dari DPRD, tanpa bukti survei atau tanggapan warga yang terekam.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.