Ambisi Politik yang Tak Kunjung Tercapai
ASS bukan nama baru di kancah politik Sulawesi Selatan. Ia pernah mencoba maju sebagai Wali Kota Makassar pada 1999, tetapi gagal mendapatkan dukungan yang cukup.
Langkah serupa ia tempuh dalam Pilgub Sulsel 2024 melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS), namun ambisinya kembali kandas karena minim dukungan internal.
Kegagalan demi kegagalan ini memunculkan dugaan bahwa ASS mencari jalan pintas untuk membiayai ambisi politiknya, salah satunya melalui peredaran uang palsu.
Pilkada dan Uang Palsu
- HUT Dekranas 2026 dan HKG PKK Dongkrak Okupansi Hotel di Makassar hingga 90 Persen
- Makassar Raup Manfaat Besar dari HUT Dekranas 2026, Transaksi Pameran Capai Rp5 Miliar
- Munafri Dampingi Fadli Zon Tinjau Benteng Rotterdam, Revitalisasi Ditargetkan Dimulai Tahun Ini
- Wabup Gowa dan Kodim 1409 Perkuat Silaturahmi Lewat Nobar Piala Dunia 2026
- Olymrun 2026 Makassar Target 5.000 Pelari, PaninBank Dukung Gaya Hidup Sehat
Kepolisian mengungkapkan bahwa uang palsu ini sempat viral pada September 2024, memperkuat dugaan keterlibatan ASS. Jika benar, kasus ini menjadi gambaran suram bagaimana ambisi politik dapat mendorong seseorang melanggar hukum.
Pilkada sering kali menjadi arena mahal yang memaksa kandidat mencari cara instan, termasuk jalur ilegal. Fenomena ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan ketatnya persaingan politik di tingkat lokal.
Tantangan Hukum dan Reputasi yang Dipertaruhkan
Sebagai figur publik, ASS pernah dikenal sebagai pengusaha sukses dan pemimpin organisasi besar seperti Pemuda Pancasila Sulsel. Namun, dugaan keterlibatannya dalam kasus ini mengancam reputasinya.
Dengan status buron yang disandangnya, ASS kini menghadapi dua pilihan: melawan kasus ini secara hukum atau terus bersembunyi dari sorotan publik.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
