Mengejutkan! Epidemiolog Ini Ungkap Varian Omicron Sudah Masuk Indonesia Dua Minggu Lalu

Mengejutkan! Epidemiolog Ini Ungkap Varian Omicron Sudah Masuk Indonesia Dua Minggu Lalu

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Mengejutkan! Epidemiolog ini ungkap varian Omicron sudah masuk Indonesia dua minggu lalu. Ada kabar mengejutkan terkait Covid-19 varian Omicron di Tanah Air. Pasalnya, epidemiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto mengungkapkan, varian yang terdeteksi perdana di Afrika Selatan itu sudah masuk ke Indonesia sejak dua minggu atau dua pekan lalu.

Menurut laporan awal, sebut Tonang, penyebarannya sudah sedemikian luas tetapi lantaran yang terkena cenderung hanya memiliki gejala ringan bahkan tanpa gejala, membuatnya tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan.

Ia menjelaskan, memang tidak ada data akurat yang mendekati dugaan itu sebab jumlah tes yang dilakukan di Indonesia masih kurang.

“Tetapi diestimasikan, prevalensi antibodi dari infeksi alami, vaksinasi maupun hybrid infeksi-vaksinasi sudah relatif tinggi setelah melewati Juli (2021) kemarin,” imbuh Tonang di grup WhatsApp Liputan Covid-19, Selasa 7 Desember 2021 pagi.

Selain itu, seperti dilansir dari Tempo.co, Selasa 7 Desember 2021, angka cakupan vaksinasi juga sudah di angka 36,37 persen dari seluruh penduduk yang mendapat suntikan dua dosis. Jika kecepatan pertambahan ini bertahan hingga akhir Desember 2021, maka akan mencapai setidaknya 42 persen penduduk sudah mendapat dua kali dosis yang targetnya minimal 40 persen di akhir 2021.

Menurut Tonang, dengan tetap mempertahankan protokol kesehatan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang konsisten, hal ini bisa menjadi bekal berharga untuk melawan gempuran Omicron.

“Baik karena yang terkena cenderung ringan, juga penyebarannya tidak leluasa karena sudah banyak yang memiliki antibody,” katanya.

Saat ini, sebut Tonang, antibodi dari infeksi alami Juli 2021 lalu sudah menurun. Hanya paparan Omicron cenderung tidak menimbulkan gejala berat, laporannya gejala ringan sehingga diharapkan memicu antibodi kembali meninggi.

“Dengan demikian, dugaan saya, Omicron sudah ada, sudah mulai menyebar di Indonesia,” ungkapnya.

Lantas, kenapa belum teridentifikasi? Tonang yang juga dokter spesialis patologi klinis itu menjelaskan alasannya. Pertama, karena sebagian besar kasus Omicron tanpa atau hanya gejala ringan seperti juga laporan dari Afrika Selatan dan beberapa negara lain yang sudah melaporkannya. Kedua, jumlah tes PCR di Indonesia masih di bawah ambang.

Sejatinya, rata-rata tes dilaporkan antara 180-200 ribu per hari, namun yang banyak itu tes antigen, sekarang PCR tinggal sekitar 15 persen saja dari total tes.

“Rata-rata sekitar 30 ribu per hari, padahal minimal 39 ribu per hari. Itu minimal, juga dengan syarat merata. Sayangnya, 40-50 persen dari jumlah PCR itu di Jakarta saja. Sisanya, dibagi 33 provinsi lainnya,” imbuh Tonang.

Ia menambahkan, memang tes antigen bisa mendeteksi Omicron lantaran targetnya protein N, bukan protein S. Kendati begitu, tes antigen itu baru positif bila viral load tinggi, Jika sudah menurun, PCR yang tepat untuk mendeteksinya. Kendati pun antibodi sedang atau sudah mulai menurun, tetapi yang pernah terinfeksi atau tervaksinasi itu masih memiliki sel memori.

Ketika terpaksa terinfeksi lagi, maka cenderung viral load-nya atau jumlah virus yang berhasil menginfeksi, rendah dan shedding-nya atau masa bertahannya di dalam saluran nafas signifikan lebih singkat.

“Maka mudah terjadi terinfeksi tetapi ‘tidak terdeteksi’ pada tes antigen,” beber Tonang.

Sementara sequencing, dosen tetap ilmu patologi klinis di UNS itu menjelaskan memang bisa mendeteksi varian Omcron, namun hanya dilakukan jika ada indikasi awal.

“Pertama, jika didapatkan kasus dengan CT value rendah sekali yang berarti viral load tinggi. Padahal terdeteksinya kasus perlu PCR dan bila terpaksa dengan tes antigen lebih dulu,” papar Tonang.

Kedua, jika terjadi S gene target failure (SGTF) pada tes yang memiliki target gen S. Artinya, PCR mendeteksi dua target gen lain, tetapi target S-nya justru negatif.

“Jika ketemu demikian, curiga kuat virusnya mengalami mutasi. Tidak pasti varian apa, tetapi Omicron salah satu kemungkinannya,” kata Tonang.

Menurutnya, masalahnya 85 persen lebih kit PCR di Indonesia saat ini tidak menggunakan gen S sebagai target mengingat memang rentan bermutasi.

“Yang rata-rata digunakan adalah N, E, RdRp, Orf1b dan Helicase. Jadi, memang tidak mudah mendapatkan varian Omicron walau kemungkinan besar sudah ada di Indonesia,” tegas Tonang.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.