Terkini.id, Makassar – PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia atau BNSI melakukan peletakan batu pertama pembangunan smelter nikel di Desa Sambalagi, Kabupaten Morowali. Smelter nikel tersebut berdiri di lahan seluas 1.272 ha.
PT BNSI merupakan perusahaan patungan dari PT Vale, TISCO, dan Xinhai.
Ketiganya berkolaborasi melakukan pengolahan nikel yang terdiri dari konstruksi fasilitas penambangan dan konstruksi pabrik pengolahan atau pemurnian bijih nikel di Blok Bahodopi dengan investasi sebesar Rp37,5 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan proyek yang direalisasikan ini membuka dimensi baru dalam ekosistem hilirisasi hasil tambang di Tanah Air.
Menurut dia, proyek smelter IGP Morowali itu tidak saja memadukan penambangan dan manufaktur secara integral, tetapi juga menjadi manifestasi nyata pada praktik hilirisasi dengan orientasi ekonomi hijau (green economy).
- Dorong Peningkatan Daya Saing dan Percepatan Investasi, Pemerintah Deregulasi Sektor Industri Padat Karya
- Airlangga Hartarto Digoyang Isu Munaslub Hingga Korupsi Ekspor CPO
- Airlangga Sebut Poundsterling Terdepresiasi Sampai 20 Persen
- Tujuh Dekade Kerja Sama Indonesia-Jerman, Airlangga: Makin Menguntungkan
- Proyek PLTA Terbesar di Asia Tenggara Diluncurkan, Airlangga: Net Zero Emisi Tahun 2060
“Proyek ini merupakan green smelter pertama yang saya lihat. Proyek smelter pertama di Indonesia yang menggunakan LNG sebagai sumber energi. Tentu ini menjadi solusi mewujudkan green mining, green product dan green economy,” ucapnya dalam Ground Breaking IGP Morowali, Jumat, 10 Februari 2023.
Fasilitas yang disebut sebagai Indonesia Growth Project (IGP) Morowali itu bahkan diklaim sebagai proyek pemurnian bijih nikel dengan emisi karbon terendah kedua setelah smelter serupa milik perseroan yang berada di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan.
Secara terperinci, pada IGP Morowali itu terdapat nantinya aktivitas penambangan yang dilakukan langsung oleh PT Vale berlangsung di Bungku Timur, Sorowako.
Kemudian bijih nikel dari penambangan kemudian diolah pada fasilitas pengolahan atau smelter berteknologi RKEF di Desa Sambalagi, Morowali.
Pabrik pemurnian bijih nikel ini akan berproduksi dengan kapasitas hingga 73 ribu ton nikel per tahun serta menjadi pabrik berteknologi pirometalurgi rotary kiln-electric furnace (RKEF) RKEF pertama di Indonesia yang didukung pembangkit listrik tenaga gas (LNG), dengan kapasitas hingga 500 megawatt (MW).
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
