Menyusul Ketegangan dengan Amerika, Rusia-China bakal Gelar Latihan Perang Bersama

Terkini.id, Beijing – Menyusul ketegangan mereka dengan Amerika Serikat (AS), Rusia dan China akan melakukan latihan militer bersama pada Agustus 2021 mendatang. Dilaporkan, latihan tempur yang melibatkan 10 ribu tentara itu rencananya bakal digelar di wilayah otonomi Ningxia Hui, China.

“Tujuan dari latihan ini adalah untuk mengkonsolidasikan dan mengembangkan kemitraan kerja sama strategis yang komprehensif antara China dan Rusia,” demikian Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian pada Kamis 29 Juli 2021, seperti dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Jumat 30 Juli 2021 kemarin.

Menurutnya, latihan itu juga akan semakin menunjukkan tekad dan kemampuan kedua belah pihak guna memerangi pasukan ‘teroris’ dan bersama-sama menjaga perdamaian dan keamanan kawasan.

Baca Juga: China Waspada, Varian Delta Menyerang Munculkan Wabah Baru Corona

Wu Qian sendiri mengatakan, pihaknya dalam hal ini pasukan Komando Teater Barat Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) akan ambil bagian dalam latihan tersebut. Mereka akan bergabung dengan pasukan Rusia dari Distrik Militer Timur.

“Latihan ini akan melibatkan sejumlah alat tempur, pesawat, artileri, dan peralatan lapis baja. Latihan juga meningkatkan kemampuan pasukan dalam melakukan pengintaian bersama, peringatan dini, serangan informasi dan elektronik, serta serangan bersama,” bebernya.

Baca Juga: Ade Armando: Lewat Kebijakan PPKM, China Hendak Lumpuhkan Ekonomi Indonesia

Sementara itu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu memastikan negaranya menyambut undangan dari China untuk ambil bagian dalam latihan tersebut.

“Kami telah menemukan bentuk kerja sama baru melalui upaya bersama dan terus melakukan kerja sama yang efektif,” terang Shoigu seperti dilaporkan kantor berita Sputnik, Rusia.

Rusia telah berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan China sejak 2014, ketika hubungan politiknya dengan Barat merosot ke titik terendah pasca Perang Dingin atas pencaplokan Krimea dari Ukraina.

Baca Juga: Ade Armando: Lewat Kebijakan PPKM, China Hendak Lumpuhkan Ekonomi Indonesia

Latihan perang ini dilakukan saat kedua negara sama-sama tengah menghadapi hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat.

Pada Kamis 29 Juli 2021 lalu, Kementerian Pertahanan China menuduh Amerika Serikat sebagai penyebab terbesar gesekan di Selat Taiwan. Hal itu setelah kapal perusak USS Benfold melewati daerah tersebut.

China juga menuduh Negeri Paman Sam itu sebagai ancaman keamanan siber terbesar.

Washington dan Moskow juga saling bertikai atas berbagai masalah termasuk serangan siber dan pengaruh Rusia di Ukraina.

Pengamat militer Song Zhongping melihat China dan Rusia sama-sama saling berupaya meningkatkan hubungan.

“Pertama, sangat penting bagi China dan Rusia untuk mengadakan latihan bersama ini untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional, terutama pada saat hegemoni AS masih ada,” imbuh mantan instruktur PLA itu.

Menurutnya, memperkuat kerja sama militer dengan Rusia akan membantu menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan mematahkan ancaman yang ditimbulkan Amerika Serikat.

“Kedua, terorisme adalah masalah global, dan latihan bersama yang ditujukan untuk kontraterorisme dapat membantu menyelesaikan masalah ini di kawasan (masing-masing negara),” tegas Song Zhongping.

Bagikan