Pasca Bencana Banjir Henan China, PPI: Kebutuhan Sembako WNI Aman!

Terkini.id, Beijing – Pasca bencana banjir Henan China, PPI: kebutuhan sembako WNI aman! Usai tiga hari banjir bandang yang melanda Provinsi Henan di China, kebutuhan dan stok sembako di wilayah itu dipastikan aman.

Hal itu diungkapkan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) China cabang Zhengzhou, Haris Setiawan. Ia menjelaskan, tidak terdapat hambatan berarti untuk memperoleh sembako di toko-toko terdekat.

“Untuk sembako kita masih beli di toko-toko di sini,” beber Haris ketika dihubungi wartawan, Jumat 23 Juli 2021.

Baca Juga: Refly Harun Sebut China Mayoritas Tak Beragama, FH: Dia Seperti...

Menurut Haris, seperti dilansri dari rri.co.id, Sabtu 24 Juli 2021, kemudahan akses memperoleh sembako itu juga menjadi dasar pihaknya belum meminta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing untuk menyalurkan bantuan.

“Kalau bantuan dari KBRI sebenarnya mereka menawarkan apabila kita memerlukan, tapi nyatanya teman-teman dan WNI di sini juga tidak ada yang melaporkan kebutuhan mendadak,” imbuhnya.

Baca Juga: Singgung China, Refly Harun: Hati-Hati Mereka Mayoritas Tak Beragama

Haris menambahkan, toko di sana masih ada yang beroperasi.

“Kita masih beli. Hanya saja waktu awal-awal ketika banjir bandang hari Selasa itu memang (untuk) air (minum) mereka agak naikin harga,” terang mahasiswa yang tengah menempuh studi S2 di Universitas Zhengzhou.

Ia menjelaskan, hanya akses air bersih masih sulit didapatkan pasca banjir, termasuk akses terhadap koneksi internet.

Baca Juga: Singgung China, Refly Harun: Hati-Hati Mereka Mayoritas Tak Beragama

“Untuk kebutuhan teman-teman di sini relatif dari asrama mungkin kebutuhan air bersih. Karena, di beberapa asrama masih tidak ada air dan yang lain seperti internet. Karena, juga internet lagi low seperti wifi belum menyala. Internet mobile phone juga kadang nyambung kadang tidak,” beber Haris.

Seperti diketahui, di Ibu Kota Zhengzhou setidaknya terdapat 40 WNI serta dua mahasiswa yang menempuh studi di Universitas Zhengzhou.

Banjir menyebabkan 12 orang meninggal, setelah sempat terjebak di kereta bawah tanah bersamaan dengan terjangan air yang masuk secara deras.

Banyak pihak menyalahkan otoritas berwenang, yang tidak menghentikan operasional kereta bawah tanah sebelum banjir menggenang.

Seorang penumpang mengatakan, ia hampir kehilangan tenaga sebab arus banjir yang datang sangat kuat.

“Banjir sangat kuat dan orang-orang ikut terseret. Ada orang lain dan saya, kami hampir saya menyerah. Sebab, kami tidak memiliki kekuatan lagi. Tapi, lengan saya terus berpegangan di rel,” ungkap penumpang pria itu.

Menyusul bencana banjir tersebut, pemerintah China menerjunkan ribuan pasukan militer guna mengevakuasi warga.

Anggota militer Republik Rakyat China (RRC) Zhang Zhonghua mengungkapkan, para pasukan disebar ke sejumlah kota dengan fokus penyelamatan dan evakuasi massal.

“Tim kami telah bergegas ke Zhengzhou, Luoyang, Kaifeng, dan tempat-tempat lain di wilayah tersebut. Kami fokus pada pengalihan banjir dan pencegahan pada penyelamatan dan evakuasi massal,” paparnya.

Operasi penyelamatan, sebut Zhang Zhonghua, masih berlangsung.

“Pasukan lain di Henan juga siap untuk berpartisipasi,” demikian penjelasannya dalam wawancara di stasiun CCTV.

Hingga Kamis 22 Juli 2021, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang di Henan bertambah menjadi 33 orang.

Sebelumnya, hujan dengan intensitas lebat telah terjadi sejak Sabtu 17 Juli 2021 sehingga menyebabkan Sungai Kuning dan waduk meluap.

Kendati kerap dilanda hujan dengan intensitas tinggi setiap tahunnya, namun hujan dan banjir yang terjadi di wilayah Henan kali ini disebut yang terburuk dalam seribu tahun terakhir di Tiongkok.

Bagikan