Terkini.id, Jakarta – Mewaspadai lalilulelo, bahaya yang mengintai pasien sembuh corona! Sejak melonjaknya penularan virus corona belakangan ini, maka masif tersiar penyebutan istilah Lalilulelo untuk para penyintas Covid-19. Istilah itu sebenarnya merujuk pada singkatan dari labil, linglung, lupa, lemot, dan logika menurun.
Hal itu juga diklaim sebagai penggambaran terhadap gejala yang timbul sebagai dampak jangka panjang usai sembuh dari Covid-19. Namun, ada penjelasan yang perlu diketahui mengenai istilah ini.
Sejatinya, penyintas Covid-19 dapat mengalami berbagai dampak pada kesehatan mereka kendati sudah sembuh. Tidak hanya ‘long covid’, masalah kesehatan lain seperti istilah Lalilulelo juga mengintai para penyintas.
Istilah tersebut merupakan juga merupakan gambaran terhadap gejala dari penurunan fungsi kognitif. Mereka yang mengalaminya cenderung menjadi pelupa dan lemot.
Beberapa waktu lalu, seperti dikutip Terkini.id dari halodoc.com, Minggu 22 Agustus 2021, dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI), dr Pukovisa Prawirohardjo mengatakan penurunan fungsi kognitif yang gejalanya lupa sampai pikiran melambat atau lemot, dapat dialami mereka yang sembuh dari Covid-19.
Kendati demikian, menurutnya, terkait istilah itu tentunya masih perlu ada kajian khusus dan pembahasan yang lebih dalam untuk mengetahui bahaya apa yang dapat timbul ke depannya.
Sebenarnya, istilah Lalilulelo bukanlah masalah atau istilah kesehatan. Namun, penggunaannya dipakai untuk merujuk terhadap gejala penurunan fungsi kognitif pada penyintas Covid-19.
Selain lalilulelo, kondisi penurunan fungsi kognitif seseorang setelah sembuh dari Covid-19 juga disebut dengan istilah ‘Brain Fog’.
Hal ini berdasarkan studi yang direpresentasikan dalam konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer atau Alzheimer’s Association International Conference (AAIC) di Denver, Colorado pada 29 Juli 2021 lalu.
Studi tersebut menunjukan, ada hubungan antara Covid-19 dan defisit kognitif yang persisten, termasuk percepatan gejala penyakit alzheimer.
Penelitian tersebut juga menunjukkan, banyak penyintas Covid-19 mengalami kondisi brain fog atau ‘kabut otak’ dan gangguan kognitif lainnya beberapa bulan setelah pemulihan. Gejala yang timbul pun identik dengan istilah lalilulelo.
Temuan ini menambah deretan hasil studi terkait gejala long covid, seperti mudah lupa, bingung, serta tanda-tanda hilangnya ingatan yang tidak dapat disepelekan. Hasil penting lainnya yang dilaporkan dari AAIC 2021 meliputi:
Adanya indikasi biologis cedera otak, peradangan saraf, dan alzheimer memiliki kaitan yang kuat dengan adanya gejala neurologis pada pasien Covid-19.
Individu yang mengalami penurunan kognitif pasca infeksi Covid-19 lebih cenderung memiliki kadar oksigen darah yang rendah. Kondisi ini dapat terjadi setelah aktivitas fisik singkat, serta kondisi keseluruhan yang buruk.
Studi tersebut dilakukan ahli dari University of Texas Health Science Center bersama Asosiasi Alzheimer. Mereka mempelajari kognisi dan indra penciuman pada hampir 300 orang dewasa di Argentina yang mengalami Covid-19.
Partisipan yang dipelajari adalah mereka yang tiga dan enam bulan setelah terinfeksi Covid-19. Lebih dari separuhnya menunjukan terjadinya gangguan, yaitu menjadi pelupa. Diperkirakan, satu dari empat partisipan memiliki masalah tambahan dengan disfungsi kognitif lainnya.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Ada beberapa gejala yang dapat mengindikasikan terjadinya brain fog pada penyintas Covid-19. Ini mulai dari sakit kepala, sulit konsentrasi, merasa kebingungan, dan mental yang terganggu.
Kondisi lain juga dapat menyertainya, seperti sering terlihat lesu. Namun, beberapa hal lain juga dapat menjadi faktor pemicu brain fog, seperti misalnya stres. Pasalnya, stres dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan memicu depresi.
Kondisi stres juga dapat mengakibatkan kelelahan mental, yang dapat menimbulkan penurunan fungsi kognitif. Sebab, ketika stres seseorang akan cenderung mengalami kesulitan untuk berpikir jernih secara fokus.
Hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut terkait pengobatan khusus untuk gejala pasca Covid-19. Namun, bila Anda mengalaminya maka dapat menyikapinya dengan pikiran yang positif.
Pasalnya, banyak strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan dan fungsi otak. Ini agar dapat membantu proses penyembuhan.
Salah satu cara yang direkomendasikan para ahli kesehatan adalah berolahraga secara rutin dan tidak berlebihan. Anda juga dapat meningkatkan durasi tidur agar dapat beristirahat lebih banyak.
Selain itu, mengonsumsi makanan sehat yang tinggi serat seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian juga dianjurkan. Akan tetapi, beberapa hal yang dapat menurunkan kinerja otak juga harus dihindari, seperti misalnya konsumsi alkohol, dan merokok.
Namun, bila Anda mengalami berbagai gejala Lalilulelo pasca sembuh dari Covid-19, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
