Ada juga teori yang mengatakan bahwa tubuh, ketika menyadari kematian sudah dekat, secara alami mengarahkan aliran darah ke bagian-bagian otak yang paling penting pusat bahasa, emosi, dan memori.
Seakan tubuh memberi ruang terakhir bagi jiwa untuk menyampaikan pesan perpisahan.
Namun di luar semua teori, ada pula yang percaya bahwa ini bukan sekadar reaksi biologis. Bahwa mungkin, di antara dunia nyata dan alam keabadian, ada jendela kecil yang terbuka sebentar cukup untuk satu pelukan, satu senyuman, satu kata terakhir yang menyatukan kembali hati-hati yang telah lama menanti.
Entah dari sisi medis, psikologis, atau spiritual, satu hal pasti: terminal lucidity adalah momen langka yang penuh makna.
Sebuah isyarat bahwa sebelum seseorang pergi, ada ruang sejenak bagi jiwa untuk berpulang dengan cara yang paling manusiawi penuh cinta, sadar, dan damai.
- Desakan Insan Pers, Hukum Polisi yang Merampas HP Wartawan Saat Meliput Pengungkapan Sabu 1 Kg di Jeneponto
- LPS Gandeng Unhas Bekali Generasi Muda Makassar Bentengi Finansial di Era Digital
- Dari Pendidikan hingga Infrastruktur, Wali Kota Appi Pastikan Perhatian Pemkot Menjangkau Wilayah Kepulauan
- Dr. Aswati Asri Nahkodai Prodi Pendidikan Bahasa Makassar, Fokus Perkuat Mutu Akademik
- Pemkot Makassar Hadirkan Pete-pete Laut Gratis untuk Pelajar, Nakes, dan Warga Kepulauan
Ia mengingatkan kita bahwa kematian bukan selalu tentang perpisahan yang dingin. Kadang, ia datang dalam bentuk pertemuan yang hangat.
Dalam pelukan yang tertunda. Dalam kalimat terakhir yang begitu berarti: “Aku sayang kamu.”
Semoga kita semua, ketika waktunya tiba, dipanggil dalam keadaan khusnul khotimah dengan kesadaran penuh, wajah tenang, dan hati yang telah siap pulang sang pencipta Allah SWT.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
