Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan Jatuh Pada 18 Februari, Observatorium Unismuh Tetap Fasilitasi Rukyatul Hilal Kemenag

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan Jatuh Pada 18 Februari, Observatorium Unismuh Tetap Fasilitasi Rukyatul Hilal Kemenag

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Ketinggian bulan tercatat lebih dari 5 derajat dengan elongasi lebih dari 8 derajat. Karena parameter sudah terpenuhi, maka awal bulan sudah bisa ditetapkan.

Hisbullah menjelaskan, KHGT merupakan sistem kalender yang menyatukan penanggalan hijriah secara global dengan basis astronomi modern.

Prinsipnya, apabila hilal telah memenuhi kriteria visibilitas di suatu wilayah di muka bumi, maka seluruh kawasan yang masih berada dalam rentang malam yang sama mengikuti tanggal tersebut.

“Pendekatan ini memungkinkan keseragaman awal bulan kamariah di tingkat global. Muhammadiyah memandangnya sebagai ijtihad kolektif yang selaras dengan perkembangan ilmu falak kontemporer,” katanya.

Kepribadian Muhammadiyah

Baca Juga

Meski telah memiliki ketetapan sendiri, Muhammadiyah—termasuk Unismuh sebagai bagian dari Persyarikatan—tetap bersedia memfasilitasi rukyatul hilal pemerintah.

Wakil Rektor III Unismuh, Dr KH Mawardi Pewangi, menyebut langkah itu sebagai pengejawantahan Kepribadian Muhammadiyah.

“Muhammadiyah memiliki prinsip membantu pemerintah dan bekerja sama dengan berbagai golongan dalam membangun kehidupan berbangsa. Perbedaan metode penetapan awal Ramadan tidak boleh menghalangi kerja sama dan ukhuwah,” ujar Mawardi.

Menurut dia, kesediaan menjadi tuan rumah pengamatan hilal justru menunjukkan kedewasaan beragama dan berorganisasi.

“Kami ingin kampus ini menjadi ruang dialog ilmiah sekaligus ruang kebersamaan. Observatorium Unismuh terbuka untuk kepentingan umat dan bangsa,” katanya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.