MUI: Harusnya Hari Libur Ikuti Hari Besar Keagamaan, Bukan Malah Sebaliknya

Terkini.id, Jakarta- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik pemerintah terkait penggeseran hari libur keagamaan. Menurutnya, langkah pemerintah menggeser hari libur keagamaan untuk membatasi mobilitas warga sudah tidak relevan.

Menko PMK Muhadjir Effendy angkat bicara menanggapi kritik tersebut.

“Itu kritik positif dan konstruktif. Apa yang disampaikan oleh MUI itu juga sudah menjadi bahan pertimbangan ketika keputusan untuk menggeser hari libur diambil,” ujar Muhadjir pada Senin, 11 Oktober 2021.

Baca Juga: Bicara Soal SDM Bangsa, Muhadjir Berkomentar Bahwa Gizi Kurang Akan...

Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan bahwa hari libur keagamaan yang digeser hanya yang jatuh di hari ‘terjepit’. Sebab, itu dikhawatirkan akan membuat jangka waktu libur menjadi panjang.

Menurut Muhadjir, kebijakan ini diambil setelah berkaca dari hari-hari libur panjang sebelumnya. Di mana orang-orang melakukan pergerakan besar-besaran jika terdapat hari kejepit.

Baca Juga: Abu Bakar Ba’asyir Kini Akui Pancasila, Ini Kata Cholil Nafis

Hal itu akan sangat berisiko untuk penyebaran kasus Covid-19. Hal ini dapat terjadi, karena sebgaian besar masyarakat akan memanfaatkan waktu luang pergi ke luar kota.

“Untuk situasi saat ini risiko itu masih sangat mungkin terjadi dan harus dihindari. Dan menurut kaidah agama menghindari risiko itu lebih diutamakan daripada faedah yang ada dalam liburan itu,” kata Muhadjir.

“Pertimbangan lain bahwa hari besar keagamaan yang waktu liburnya digeser itu di dalamnya tidak ada kegiatan ritual yang wajib diselenggarakan,” lanjutnya.

Baca Juga: Abu Bakar Ba’asyir Kini Akui Pancasila, Ini Kata Cholil Nafis

dilansir dari DetikNews, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menyebut digesernya hari libur keagamaan bukan berarti masyarakat tidak diperbolehkan merayakan Maulid Nabi. Peringatan Maulid Nabi tetap boleh dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

“Mengeser hari libur semata untuk menghindari potensi mobilitas massa secara massif karena berpotensi libur panjang. Walau pandemi sudah melandai, kita tetap harus waspada. Tidak boleh kendor menerapkan prokes dan masih harus sepenuhnya menyadari bahwa kita masih dalam masa pandemi,” kata Kamaruddin.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis mengkritik langkah pemerintah menggeser hari libur keagamaan.

“Saat WFH dan COVID-19 mulai reda, bahkan hajatan nasional mulai normal sepertinya menggeser hari libur keagamaan dengan alasan agar tak banyak mobilitas liburan warga dan tidak berkerumun sudah tak relevan. Keputusan lama yang tak diadaptasikan dengan berlibur pada waktunya merayakan acara keagamaan,” kata Cholil dalam akun Twitter-nya, @cholilnafis (ejaan sudah disesuaikan), Senin 11 Oktober 2021.

Cholil mengatakan seharusnya hari libur mengikuti hari besar keagamaan. Bukan malah sebaliknya.

Seperti diketahui, Libur Maulid Nabi 2021 telah ditetapkan pemerintah. Namun libur Maulid Nabi tahun ini mengalami perubahan dan tidak sesuai dengan kalender sebelumnya.

Bagikan