Terkini, id — Konon, manusia tidak hidup dari roti saja. Tapi dalam republik yang terus mengibarkan panji “pembangunan manusia”, tampaknya kita kini kembali menengadah pada piring makan sebagai simbol penyelamat.
Pemerintah, dengan gegap gempita, mengangkat program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu janji suci pembangunan. Di permukaannya, niat ini tampak luhur—memberi makan anak-anak sekolah, menjaga tumbuh-kembang, mengikis angka stunting.
Tapi di balik nasi dan lauk yang dibagikan, saya melihat sesuatu yang lebih pelik: bangsa yang ingin mengobati luka dengan perban yang cantik, tapi enggan mencuci lukanya terlebih dahulu.
Pertanyaannya: sejak kapan kita menyerahkan martabat gizi bangsa kepada paket makanan negara?
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bergantung pada subsidi mulut, tapi bangsa yang memampukan tiap warganya berdiri di dapur mereka sendiri, memilih, memasak, dan mengerti mengapa makan itu soal budaya, bukan hanya kalori.
- Aktivitas Bongkar Muat Pasar Kubis Kini Dipusatkan di Terminal Malengkeri
- BNI Jamin Kelancaran Transaksi Nasabah Selama Libur Panjang Iduladha
- Podium Perdana Ramadhipa Warnai Debut Moto3 Junior di Spanyol
- Terbukti Terima Suap Rp1 Miliar, Hakim YM di Pengadilan Tinggi Makassar Dipecat!
- Perkuat Posisi di Selat Malaka, Pelindo Gelar Soft Launching NTAA di Perairan Nipa
Apakah kita pernah bertanya, dari mana bahan-bahan makanan itu didatangkan? Siapa yang memasak? Apakah ini membuka lapangan kerja baru, atau justru menciptakan jejaring kontraktor dan rente yang lama?
Saya teringat pada pidato Bung Karno, yang berbicara tentang revolusi bukan sebagai aksi sekejap, tapi sebagai perubahan jiwa. Makan bergizi gratis, jika hanya ditakar dari sisi angka ekonomi dan logistik, akan gagal menjadi revolusi. Ia hanya akan menjadi proyek. Proyek, seperti kita tahu, selalu bisa ditenderkan, bisa dicicil, bisa dikorupsi.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika masyarakat diajak memaknai “makan” hanya dari segi isian perut. Seolah-olah martabat manusia cukup diukur dari kenyangnya nasi dan lauk-pauk.
Di sinilah letak bahaya itu: ketika negara mengasuh terlalu jauh, ia mulai mengganti peran keluarga, komunitas, bahkan petani.
Apakah program ini penting? Tentu. Tapi lebih penting lagi untuk bertanya: mengapa selama ini rakyat tidak bisa memberi makan bergizi kepada anak-anaknya sendiri?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
