Nasib UMKM Makassar Kian Terpuruk di Tengah PPKM Skala Mikro

Terkini.id, Makassar – Nasib pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin terpuruk di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro di Makassar.

Sejak pandemi, sejumlah pelaku UMKM harus gulung tikar karena terdampak pandemi Covid-19. Kebanyakan UMKM mengalami masalah kesehatan arus kas, sehingga harus merumahkan tenaga kerjanya.

Selain itu, pelaku UMKM terkendala dari sisi suplai karena terganggunya distribusi selama masa pandemi Covid-19. Juga terjadi pelemahan dari sisi permintaan lantaran jam operasional terbatas hingga pukul 17.00 Wita.

Baca Juga: 3 OPD Pemkot Makassar Bakal Dirombak, Danny Pomanto Sebut Akan...

“Saya yang jualan mulai sore di Aroepala Food City sangat terdampak. Saya putuskan buka pagi sampai sore, tapi berbeda psikologis orang nongkrong, kalau pagi sampai sore orang sibuk kerja,” kata Owner Gula-Gula Milo, Nugroho, Rabu, 7 Juli 2021.

Menurutnya, PPKM skala mikro yang berlaku sejak 6-20 Juli 2021 di Makassar minim kajian. Sebab, kata dia, keputusan tersebut langsung datang dari pemerintah pusat. 

Baca Juga: Detektor Covid-19 Keluhkan Honor, Danny Pomanto: Ini Awalnya yang Berat

Kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus wilayahnya masing-masing seharusnya jadi acuan penanganan wabah Covid-19.

“Kalau kajiannya tidak jelas itu buat kami bertanya-tanya, mana kuasa pemerintah daerah untuk menjelaskan ke pemerintah pusat soal situasi di Makassar. Untuk apa itu otonomi daerah?” ucap Nuge, sapaannya.

Menurutnya, pemerintah daerah yang paling memahami situasi terkini di daerahnya, bukan dari surat edaran pemerintah pusat.

Baca Juga: Detektor Covid-19 Keluhkan Honor, Danny Pomanto: Ini Awalnya yang Berat

Di sisi lain, Nuge meminta pemerintah kota memberikan bantuan bagi pelaku UMKM selama PPKM berskala mikro diterapkan. Salah satunya, memberikan pelatihan yang berbasis pada strategi penjualan digital. 

“Bukan hanya bantuan uang, meski saya belum pernah terima. Kita minta diberi akses ketika mengubah strategi dari jualan offline ke online, apa yang dilakukan pemerintah agar UMKM mendukung PPKM mikro,” ujarnya.

Saat ini, ia mengaku kesulitan untuk beradaptasi ke penjualan daring secara cepat. Pasalnya, kata dia, pelaku UMKM diminta beradaptasi namun tanpa bimbingan.

“Kita minta diberi pelatihan soal itu,” keluhnya.

Sementara, Owner One Salad (Salad buah) Irwan mengatakan pemangkasan jam operasional pelaku usaha hingga pukul 17.00 Wita secara otomatis menurunkan pendapatan. 

Pasalnya, penjualan melalui daring sebagai upaya untuk tetap bertahan tak membuahkan hasil yang maksimal. Sebab itu, jumlah pegawai di One Salad pun terus mengalami pengurangan dari waktu ke waktu.

“Dulu 30 sekarang tinggal 23 dan masih berpotensi terjadi pengurangan. Kita belum tahun kapan pandemi akan berakhir,” kata Irwan.

Di sisi lain, Irwan menyoroti kebijakan PPKM skala mikro lantaran tak ditunjang solusi dari pemerintah. Ia mengatakan selama pandemi Covid-19 belum pernah menerima bantuan apa pun.

“Sejak awal pandemi tak pernah ada bantuan dari pemerintah,” ucapnya.

Irwan menuturkan seluruh tempat jualan salad buah di beberapa wilayah terus mengalami penurunan pendapatan. Seperti di BTP, Hertasning, Sungai Saddang, Pasar Segar, Areola Food City, dan Jalan Nuri.

Ia pun meminta keringanan dari pemerintah kota dengan kembali menambah jam operasional pelaku usaha. “Kalau hanya sampai jam 5 sore setengah mati kita,” paparnya.

Irwan mengatakan dirinya juga prihatin dengan situasi pandemi saat ini. Namun, di sisi lain, dirinya kesulitan membayar air, listrik, tempat jualan, dan pegawai tiap bulan.

“Bantuan juga tidak ada sama sekali, mau ambil dari mana kita kalau jam operasional terus dipangkas,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto meminta untuk sementara waktu pelaku UMKM mengalihkan jualan dari luring ke daring. Ia menilai hal itu sebagai solusi bersama untuk memerangi Covid-19.

“Bikin yang online pakai handphone, 24 jam ji kalau online tidak terbatas,” kata Danny.

Bagikan