Terkini.id, Makassar – Nelayan dan perempuan di pulau-pulau kecil serta Pesisir Galesong kini mulai was-was dengan tingginya arus dan ombak yang terjadi beberapa pekan terakhir.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan menyebut fenomena alam tersebut berhubungan dengan aktivitas tambang pasir laut yang dimulai sejak akhir tahun 2017 sampai tahun 2020 di perairan Sulawesi Selatan.
Slamet Riadi, Staf Advokasi dan Kajian WALHI SulSel mengatakan ekosistem pelindung hancur akibat tambang pasir laut.
Menurutnya, saat angin musim barat seperti sekarang, perairan Sulawesi Selatan dipengaruhi oleh angin yang berhembus dari barat laut dan barat daya dengan kecepatan angin sekitar 4-27 Knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25-2,5 Meter.
Dengan fenomena alam seperti itu, maka tiga ekosistem laut yang penting dan harus terjaga ialah hutan bakau, padang lamun, dan terumbu karang.
- PT Vale Terus Perkuat Tata Kelola ESG, Skor Risiko Keberlanjutan Turun Hampir 20 Persen pada 2025
- Wali Kota Munafri: Makassar Half Marathon 2026 Hidupkan Pariwisata dan UMKM, Effect bagi PAD Kota
- PT Nindya Karya Sampaikan Duka Mendalam Atas Musibah di Proyek Sekolah Rakyat Takalar
- Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar Kompak Hadiri Sannipata Waisak 2570 BE/2026
- LP3M Harakah Bakomubin Sulsel Siap Gelar Pelantikan dan Raker, Perkuat Dakwah dan Pemberdayaan Umat
Namun, kondisi eksisting morfologi dasar laut di barat daya Pulau Kodingareng yang merupakan lokasi tambang pasir laut telah berubah dan ekosistemnya pun kritis.
“Hal ini dapat memperlancar arus serta ombak yang berhembus dari barat laut,” kata Slamet, Minggu, 31 Januari 2021.
Selain itu, Slamet mengatakan pada bulan Januari ini sudah ada dua kapal nelayan yang rusak parah dari Pulau Kodingareng yang dihantam ombak saat sedang melaut. Sejumlah desa di pesisir Galesong tengah berjaga-jaga akibat munculnya potensi abrasi dalam beberapa hari ini.
“Angin musim barat seperti saat sekarang merupakan tantangan terberat bagi para nelayan di Pulau Kodingareng. Sebab, meskipun cuaca buruk, mereka tetap harus melaut untuk menafkahi keluarganya,” ungkapnya.
Menurutnya, risiko ini ditempuh karena saat angin musim timur tahun lalu, nelayan dan perempuan di Pulau Kodingareng tidak bisa menabung untuk menghadapi angin musim barat karena menurunnya hasil tangkapan akibat aktivitas tambang pasir laut di wilayah tangkap mereka.
Slamet pun mendesak Gubernur Sulawesi Selatan untuk bertanggungjawab serta memperhatikan nasib keluarga nelayan di pesisir dan pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan.
“Segera cabut serta revisi RZWP3K yang melegalisasi wilayah tangkap nelayan sebagai lokasi tambang pasir laut,” ungkapnya.
Sementara, Sumarti, salah seorang istri nelayan Pulau Kodingareng yang kapal suaminya dihantam ombak saat melaut mengatakan kapal suaminya dihantam ombak saat perjalanan pulang melaut dan belum mendapatkan hasil tangkapan.
“Dari tahun ke tahun kalau melaut tidak beginiji ombaknya dan ini dampak dari penambangan pasir laut Boskalis,” tutupnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
