Terkini.id, Jakarta – Habib Noval Assegaf turut menaggapi pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf yang mengatakan jika penggunaan kategori kafir tidak cocok digunakan di negara modern.
Terkait hal ini,Noval Assegaf mengatakan jika bagi orang liberal hanya yang menurut akalnya saja yang akan dianggap relevan.
Narasi sindiran Noval Assegaf untuk Gus Yahya ditulis melalui sebuah cuitan di media sosial Twitter, sebagaimana dilihat pada, Kamis 31 Maret 2022.
“Bagi Liberal tidak ada yang relevan kecuali akalnya sendiri”, tulis Noval Assegaf.

Selain itu, Noval Assegaf mengatakan jika tidak ada masalah terkait penggunaan kata kafir atau yang lainnya.
- Himbau Politisi dan Partai Politik Tak Gunakan Politik Identitas, Gus Yahya: Jangan Sampai Memperalat Identitas Sebagai Senjata
- Gus Yahya Tegaskan Tak Pecat Mardani Maming Meski Terlibat Kasus Korupsi: Dia Tidak Diberhentikan Lho Ya
- PBNU Akan Beri Bantuan Hukum Tersangka KPK Mardani Maming, Netizen: Ormas Islam Bela Tersangka Maling, Dimana Kesucian Agama?
- Soal Perseteruan Dengan PBNU, PKB: Baik-Baik Saja
- Pengamat Politik Sarankan Cak Imin Tinggalkan Nahdlatul Ulama, Apa Alasannya?
Noval Assegaf kemudian menegaskan jika sebagai umat muslim, yang perlu ditaati adalah yang tertulis di dalam Al-Quran.
“Sebenarnya mau pakai kata kafir atau lainnya tidak ada masalah, Cuma kami akan mengikuti kata yang dipakai dalam Al-Qur’an, kenapa? Karena kami muslim dan percaya apa yang ada di dalam Al-Qur’an adalah yang terbaik”, tulisnya lagi.

Sebelumnya, Gus Yahya mengatakan jika kategori kafir tidak relevan digunakan di negara modern. Gagasan itu disampaikan berdasarkan kesimpulan yang telah disepakati PBNU.
Pernyataan Gus Yahya ini dilandasi dengan alasan untuk mengurangi permusuhan atau perselisihan antar umat beragama.
“Kami pada waktu itu dengan membuat kasimpulan bahwa kategori non muslim atau kafir sesungguhnya tidak relevan dalam konteks negara bangsa modern”, kata Gus Yahya dalam webinar Majelis Ulama Indonesia (MUI), dikutip dari laman CNN Indonesia.
Menurut Gus Yahya, hal semacam ini juga telag dilakukan oleh umat beragama lain seperti di Vatikan dan kelompok dalam umat Yahudi.
Pada 2016 lalu, kata Gus Yahya, muncul kelompok yang menamakan diri sebagai Yahudi Konservatif. Kelompok ini mengaku masih memegang Taurat namun membuka peluang penafsiran baru.
Kelompok ini berbeda dengan Yahudi Ortodoks yang memegang Taurat dan tidak mau membuat interpretasi sama sekali serta Yahudi Reformis yang membangun nilai baru tanpa melihat teks Taurat.
Gus Yahya kemudian mengungkapkan bahwa Yahudi Konservatif mengumumkan dokumen pertobatan. Mereka menyebut secara terang-terangan bahwa dalam wacana Yahudi Klasik terdapat wawasan agama yang merendahkan kelompok di luar Yahudi.
“Dalam wacana Yahudi klasik, memang ada wawasan keagamaan yang misalnya merendahkan kelompok di luar Yahudi, menganggap ras di luar Yahudi yang inferior”, tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
