Nyinyir Istri Tentara Itu

SEPEKAN telah berlalu, tapi kisah ironis tentang istri tentara itu – juga tentang tentara itu sendiri – masih juga ramai terhampar di media cetak dan online.

Dibincang di media sosial, pun juga tak terkecuali. Istri tentara itu, telah memposting pernyataan nyinyir di halaman facebook, tak jelas pada siapa nyinyirannya dituju, hanya saja, selang waktu sebelumnya terjadi peristiwa nasional menimpa seorang jenderal, tak ayal “teks” nyinyiran itu ditafsir ke arah “konteks” peristiwa itu.

Tak dinyana, sekejap petaka datang menguntiti. Suami, tentara itu, memanggul risiko postingan nyinyir istrinya. Tentara berprestasi internasional itu, sebagai Mantan Atase Darat Kantor Atase Pertahanan RI di Moscow-Rusia, dicopot dari jabatannya Komandan Distrik Militer 1417 Kendari yang baru dua bulan lalu “tongkat komando” diterimanya. “Saya prajurit setia dan kesatria yang dididik bertanggungjawab dan patuh pada perintah komando,” tegas tentara itu dengan tegar.

Seketika, nyinyiran pembawa petaka itu, tanggung meluas dinyinyiri. Tak hanya di lapis bawah, tapi juga dilapisan atas. Banyak yang ikutan menyinyiri, berbalik dinyinyiri oleh yang lain. Meski tak paham apa substansi dinyinyiri. Pokoknya ikut saja menyinyiri, mumpung ada hal yang mau dinyinyiri. Lebih lagi, karena toh memang ramai dinyinyiri. Risikonya, “teks” dan “konteks” kian samar. Tafsir sumir berbalas tafsir absurd. Demikianlah kondisi negara dihadapi tentara saat ini.

Cukup sepekan saya mengintip alur kisah istri tentara itu, juga tentang tentara itu, lamat-lamat malah saya merasa sedang duduk di kursi balkon, asyik menikmati tontonan pementasan drama tendens – kepincangan sosial – di panggung teater. Di balik tangis, muka murung istri tentara itu, justru saya seolah menyaksikan rona di wajah idola siswa SMA Negeri 3 Medan itu, kala dilamar seorang lelaki atletis. Lebih lagi karena lelaki itu lulusan AKABRI, 1993. Pastilah membanggakan.

Jodoh tak pernah salah memilih. Berbukti, lelaki itu benar-benar membanggakan. Dikala istrinya dirundung duka akibat kekhilafan dibuatnya, sosok tentara dibanggakannya, tak murka, juga tak kian menimpukinya wasangka. Sosok tentara itu, malah mengambil sikap bijak sebagai seorang patriot sejati, tampil memanggul untuk mengalih. Sekalipun bertaruh risiko, kehilangan jabatan. “Jabatan pada saatnya pastilah dilepas, tapi istrilah yang kelak menemani hingga akhir hayat”.

Aakh, rasa-rasanya, benar-benar sedang menonton teater yang sudah langka dipentas di antara kita. Atau mungkin pada diri kita sendiri. Mengingatkan saya pada bacaan – masa terlibat aktifis kepemudaan – buku Sachiko Murata, “The Tao of Islam” (1996). Berdasar relasi gender, apapun dalihnya, istri tentara itu tak lagi bisa menampik, selain ikut berdisiplin kedinasan suami. Tetapi filsafat eksistensialisme melerai, bahwa tiap diri individu, juga memiliki kebebasan berekspresi.

Sedemikianlah dialektisnya kehidupan kata Sachiko. Topik utama kajian para teolog itu mewanti bahwa manusia di posisi eksistensialnya tak bisa dilepas dari dualitas dan selanjutnya pluralitas. Dan sesampai batas pemahaman itulah, saya ingin memaknai pernyataan bijak dilontar tentara itu. “Ambil hikmahnya untuk kita semua”. Semoga ini bukan nyinyiran baru, jika dipetik hikmah, jangan-jangan nyinyir istri tentara itu, ekspresi banyak nyinyir terpendam di negeri kita saat ini.

Makassar, 15 Oktober 2019

Berita Terkait
Komentar
Terkini