Terkini.id, Jakarta – Pandemi Covid-19 masih dirasakan di berbagai negara, terutama di Indonesia. Varian Omicron diperkirakan akan mengalami peningkatan di akhir bulan Februari 2022.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan peningkatan akan terjadi sekitar dua atau tiga peken kedepan. Olehnya itu semua pihak diminta untuk mewaspadai lonjakan ini.
Umumnya orang yang terjangkit Omicron sulit diidentifikasi karena rata-rata tanpa gejala.
“Kita akan melihat tren peningkatan sampai kita prediksi bahwa di akhir Februari atau di awal Maret 2022 ini merupakan puncak kasus Omicron yang bisa diprediksi itu 3 kali sampai dengan 6 kali lebih tinggi daripada variasi Delta,” kata Nadia dalam konferensi pers secara virtual, dikutip dari laman Kompas.com, Kamis 10 Februari 2022.
Nadia menambahkan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit akan dipastikan memadai sebagai bentuk penanganan kasus Covid-19.
- Menteri Kesehatan RI: Campak Jauh Lebih Menular Daripada COVID-19
- Waspada Lonjakan Kasus COVID-19, Kemenkes Instruksikan Pemda dan Faskes Siap Siaga
- Waspadai Covid-19, Tingkat Keterisian Tempat Tidur Rumah Sakit Meningkat
- Warga China Pilih Lawan Cuaca Dingin dan Lonjakan Covid-19
- Sejumlah Negara Perketat Pintu Masuk Untuk Turis Dari China
Pasien Omicron dengan gejala ringan disarankan untuk isoman ataupun isolasi terpusat yang disediakan pemerintah.
“Batuk, pilek, demam kemudian sakit tenggorokan dan saturasi oksigen lebih dari 95 persen tidak memiliki komorbid diharapkan untuk dapat melakukan isolasi mandiri baik di rumah ataupun di tempat-tempat isolasi terpusat yang sudah disediakan,” ujar Nadia, dikutip dari laman Kompas.com.
Disamping itu, lonjakan Omicron tidak bisa dianggap sepele, meski gejalanya tidak nampak tetapi harus tetap waspada.
Lebih lanjut, Nadia mengatakan, vaksinasi Covid-19 masih menjadi salah satu upaya penanganan Covid-19 untuk memberikan perlindungan agar terhindar dari keparahan Covid-19.
“Untuk itu mari kita ajak lansia untuk mendapatkan vaksinasi karena saat ini vaksinasi lansia masih cukup rendah baru 55 persen,” pungkasnya, dikutip dari laman Kompas.com.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
