Opini : Terkikisnya Naluri Ibu

Terkini.id, Makassar – Anak adalah anugerah dan amanah dari Allah, SWT. Setiap anak memiliki hak untuk hidup aman, nyaman dan bahagia. Tetapi tidak semua anak bisa menikmati haknya, rentetan peristiwa kekerasan terhadap anak menunjukan lemahnya perlindungan terhadap anak.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa cluster pertama yang berperan terhadap perlindungan anak dari kasus kekerasan adalah keluarga. Namun apa jadinya ketika keluarga sendiri yang menjadi pelaku kekerasan terhadap anak. Sungguh menjadi sesuatu yang sangat disayangkan dan menjadi sebuah keprihatinan bagi siapapun.

Sebagaimana yang terjadi pada seorang ibu berinisial NP (21) yang tega menggelondong anak kandungnya sendiri ZNL (2,5) dengan air galon hingga tewas. NP mengaku stress karena diancam akan diceraikan oleh suaminya.

“Istrinya stress diancam diceraikan apabila anaknya ini dalam kondisi kurus tidak bisa gemuk,” kata Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Irwandhy Idrus kepada wartawan di kantornya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (25/10/2019).

Meski NP sempat mengakui menyesal telah melakukan hal tersebut kepada anaknya, namun penyesalan apapun itu sudah tak berarti lagi, karena nyawa ZNL tak bisa tertolong lagi.

Kasus semacam ini, bukan pertama kalinya terjadi. Bahkan sebelumnya masyarakat dihebohkan dengan seorang ibu yang tega menikam bayinya sendiri hingga tewas akibat depresi pasca melahirkan.

Sebagaimana yang dilansir dari kumparan.com, seorang wanita berinisial FM di Cibeunying Kaler, Bandung, Jawa Barat ramai diberitakan karena membunuh bayi yang ia lahirkan sendiri. Akibat membunuh bayi berusia 3 bulan itu, FM diringkus tim Satreskrim Polrestabes Bandung di kediamannya pada Minggu (1/9).

Keluarga adalah unit terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama serta tempat perlindungan terbaik bagi anak. Ibu adalah sosok yang lemah lembut penuh jasa, sayang dan perhatian. Tempat yang nyaman bagi anak-anaknya. Sayangnya, stress dan depresi membuat para ibu kehilangan kewarasan. Naluri keibuannya terkikis.

Puluhan kasus ibu membunuh anaknya sendiri, diantaranya yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan psikologi (takut dicerai, malu pada tetangga, dll) adalah bukti bahwa makin hilangnya naluri keibuan akibat kapitalisme dan juga tidak adanya jaminan negara terhadap kesejahteraan perempuan.

Ibu yang merupakan ummu warobatul bait memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik, merawat dan membesarkan anak-anaknya. Akan tetapi akibat kehidupan dalam sistem sekular kapitalisme, naluri keibuan seolah terkikis karena persoalan ekonomi dan psikologi.

Kebutuhan hidup yang melambung tinggi, semua serba mahal akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis sekular yang tidak mampu menjamin kesejahteraan kaum perempuan.
Berbeda halnya dengan Islam yang merupakan satu-satunya konsep kehidupan yang telah mengangkat kedudukan perempuan sebagai ibu yang penuh dengan kemuliaan. Memiliki peran penting dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang semata-mata karena kewajiban yang telah dibebankan Allah kepadanya yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Disamping itu Islam mewajibkan negara untuk memenuhi seluruh kebutuhan dasar warga negaranya dalam sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Memfasilitasi warga negara terutama kaum pria dalam mencari nafkah. Juga, wajib menjaga kaum ibu agar tidak melepas fitrahnya dalam mengurus keluarga dan membesarkan serta mendidik anak-anaknya.  Sehingga, kasus yang menimpa ibu dan anak dapat diminimalisir.

Ibu dan ayah pun mampu melaksanakan perannya masing-masing tanpa terbebani masalah ekonomi dan psikologi. Sebab, Peran ibu dan ayah ibarat neraca keseimbangan yang akan menciptakan keharmonisan dalam keluarga. Wallahu a’lam []

 

Citizen : Rahmawati, S. Pdi.

Berita Terkait
Komentar
Terkini