Terkini, Jeneponto – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jeneponto, Arifin Nur, membuka secara resmi pertemuan evaluasi intervensi spesifik percepatan penurunan stunting yang digelar di Aula Assyfa Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Rabu, 31 Juli 2024.
Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam menangani masalah stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Jeneponto.
Dalam sambutannya, Arifin Nur menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk mencapai hasil yang signifikan dalam penurunan angka stunting. Ia menggarisbawahi bahwa masalah stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan anak-anak tetapi juga pada masa depan daerah itu sendiri.
“Stunting adalah masalah serius yang harus kita tangani bersama. Ini bukan hanya soal tinggi badan, tetapi soal masa depan generasi kita,” kat Arifin Nur.

Pertemuan evaluasi ini dihadiri oleh berbagai stakeholder, diantaranya, setiap OPD, Staff Ahli, Asisten, para Camate, Kepala Puskesmas, LSM dan Organisasi Kemasyarakatan.
- Pilu, Bocah di Bulukumba Menangis Histeris Ibunya Meninggal Terlindas Truk Tronton Pengangkut Ekskavator
- Ponpes VTHQ Malino Wisuda 52 Santri, Direktur: Alumni Kami Banyak Diterima di Berbagai Kampus Ternama
- Perkuat Link and Match dengan Industri, Polbangtan Kementan dan Syngenta Buka Peluang Karier bagi Mahasiswa dan Alumni
- Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Prestasi Nasional pada Lomba Karya Tulis Ilmiah ISMAPETI XXI
- Kadispora Syamsul Bahri Buka Makarena Season 2, E-Sport Jadi Ruang Kreativitas dan Prestasi Anak Muda
Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk menilai efektivitas program intervensi yang telah dilaksanakan selama setahun terakhir dan merumuskan langkah-langkah strategis ke depan.
Arifin Nur menjelaskan, intervensi spesifik yang telah dijalankan mencakup pemberian makanan tambahan, peningkatan akses terhadap layanan kesehatan ibu dan anak, serta edukasi tentang gizi dan kesehatan.
“Kita harus memastikan bahwa setiap program yang kita jalankan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, prevalensi stunting di wilayah ini mengalami penurunan dari 38 persen pada tahun 2022 menjadi 27 persen pada tahun 2023. Meskipun demikian, angka tersebut masih di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 24 persen,”Ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Kita tidak boleh berpuas diri,” kata Arifin Nur.
Dalam sesi diskusi, beberapa kepala puskesmas menyampaikan tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti minimnya akses ke daerah terpencil, rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi, dan keterbatasan sumber daya manusia.
Mereka juga memberikan masukan mengenai cara-cara untuk meningkatkan efektivitas program, seperti dengan meningkatkan pelatihan bagi kader kesehatan dan memperkuat kerjasama dengan pihak swasta.
Dari sejumlah masukan, strategi ke depan pemerintah daerah akan fokus pada tiga strategi utama ke depan, meningkatkan alokasi anggaran untuk program kesehatan dan gizi, memperkuat kerjasama dengan sektor swasta dan organisasi non-pemerintah untuk memastikan keberlanjutan program, meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat.
Arifin Nur mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam upaya penurunan stunting,”Tidak ada satu pun pihak yang bisa bekerja sendiri. Kita harus bergerak bersama, saling mendukung dan menguatkan,” tegasnya.
Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan dorongan baru dalam upaya penanganan stunting di Kabupaten Jeneponto, serta menjadi motivasi daerah dalam mengatasi masalah serupa. Melalui kerja keras dan kolaborasi, diharapkan generasi masa depan Kabupaten Jeneponto dapat tumbuh sehat dan kuat, siap menghadapi tantangan zaman.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
