Terkini.id, Makassar – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar Yeni Rahman menantang pemerintah kota menciptakan inovasi untuk membuat anak-anak tertarik terhadap kuliner tradisional.
Pasalnya, makanan tradisional Makassar kian hari tergerus zaman lantaran kalah saing kuliner modern yang cenderung menyesuaikan bentuk dengan tuntutan zaman.
Ia menilai eksistensi makanan cepat saji lebih digemari anak-anak ketimbang makanan tradisional. Menurutnya, fenomena ini menjadi penting agar tak menjauhkan anak dari budaya asalnya.
“Bagaimana membuat anak-anak tertarik, misalnya onde-onde, kue bolu, kue lapis, dan putu dibuat dengan tampilan modern,” ujar Yeni, Selasa, 23 Agustus 2022.
Tantangan pemerintah, kata dia, bagaimana anak-anak mencintai kuliner Makassar dengan penuh kesadaran. Ia menilai, saat ini, anak-anak lebih menyukai mengonsumsi makanan instan yang cenderung tak sehat.
- May Day 2026 di Makassar Disiapkan Meriah, Wali Kota Munafri: Harus Jadi Momentum Kebahagiaan Buruh
- Kepala Bapenda Makassar Dampingi Wali Kota Terima Penghargaan Nasional di Hari Otda 2026
- Satu-satunya dari Luar Jawa, Makassar Raih Predikat Kinerja Tertinggi di Hari Otda 2026
- Hadiri HUT KPI Gereja Toraja, Wali Kota Munafri : Kota Makassar Dibangun dengan Semangat Kebersamaan
- Pemkot Makassar Perkuat Ketahanan Pangan, Dorong Sinergi Nasional di Tengah Tantangan Global
Yeni pun meminta pemerintah kota melakukan pelatihan dengan menurunkan chef ke pelaku usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM di lorong. Dengan begitu, kata dia, eksistensi kuliner tradisional bisa kembali bangkit.
“Memperbanyak pelatihan, ajarkan masyarakat buat taripang, bassang, baroncong, bagaimana biar rasanya enak dan orang datang berkali-kali,” sebutnya.
Selain itu, Yeni mengatakan pemerintah kota harus memastikan bahwa setelah memberi pelatihan, hasil olahan tersebut tetap dapat dijangkau dengan harga bersahabat.
“Bagaimana cara membuat nasi kuning rasa bintang lima tapi harga kaki lima. Persoalan meramu bumbu kan murah, ini perpaduan rajikan, membantu orang di lorong, kan hampir di tiap lorong ada penjual nasi kuning. Jadi jangan buat rasanya sama,” tuturnya.
Menurutnya, program Dinas Kebudayaan yang tiap tahun mengadakan perayaan Hari Kebudayaan tak memberi efek sama sekali. Program tersebut dinilai tak lebih dari program seremonial semata.
“Tidak ada indikatornya dan buang-buang anggaran. Tugas pemerintah saat ini bagaimana kue-kue tradisional bisa eksis di kalangan generasi muda,” paparnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
