Pemkot Makassar Kejar Target Zero BAB Sembarangan 2024

Pemkot Makassar Kejar Target Zero BAB Sembarangan 2024

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Pemerintah Kota Makassar bakal membangun septic tank di sejumlah kelurahan yang masih terjebak dalam kebiasaan buruk buang air besar sembarangan (BABS). Tidak hanya mempengaruhi lingkungan, praktek BABS juga dapat mengancam kesehatan masyarakat, mulai dari penyakit diare hingga stunting.

Sebagai bagian dari persyaratan standar kota sehat, salah satu target yang dikejar adalah memastikan 80 persen dari total kelurahan di Kota Makassar menjadi Open Defecation Free (ODF), atau bebas dari praktik BABS sembarangan. Hal ini menjadi langkah strategis dalam menjaga kualitas lingkungan dan kesejahteraan warga.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Air dan Limbah (UPT PAL) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar, Hamka Darwis, menjelaskan bahwa upaya ini akan direalisasikan melalui pembangunan 2.559 septic tank hingga tahun 2024.

“Tahun 2024, kami berkomitmen mencapai nol BABS,” ujar Hamka Darwis, Rabu, 9 Agustus 2023.

Lebih lanjut, Hamka menjelaskan bahwa praktek BABS terbagi menjadi dua jenis, yaitu BABS terbuka dan BABS tertutup. BABS terbuka merujuk pada BABS tanpa WC, sementara BABS tertutup berkaitan dengan sanitasi yang belum memenuhi standar.

Baca Juga

Dalam perjalanannya, Kota Makassar telah berhasil mengeliminasi BABS terbuka, namun masih perlu mengatasi BABS tertutup. Data dari DPU mengungkapkan bahwa sekitar 8 ribu warga masih terjebak dalam kebiasaan ini.

“Upaya kami melalui pengadaan septic tank ini dimulai sejak tahun lalu untuk mengurangi angka BABS. Tahun depan, kami akan memasukkan 2009 septik tank dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) yang akan diperbincangkan dengan DPRD Makassar,” tambah Hamka Darwis.

Tak hanya mengenai pengadaan septic tank, Hamka Darwis juga menyebut bahwa terdapat 2009 titik sambungan rumah yang masih belum memiliki septic tank sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Dalam upaya serupa, DPU dan Dinas Kesehatan bakal bekerja sama untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sanitasi yang baik. Sosialisasi masif dilakukan oleh Dinkes, yang kemudian dipadukan dengan upaya fisik dari DPU guna mendukung pencapaian tujuan ini.

Sebelumnya, Program Officer WASH UNICEF, Wildan Setiabudi, menyoroti kondisi tersebut. Pasalnya, dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, hanya Kota Makassar yang masih menghadapi kebiasaan BABS.

“Itu terdapat di tujuh kelurahan,” kata Wildan, Selasa, 1 Agustus 2023.

Menurutnya, wilayah tersebut belum mendapatkan akses sanitasi yang layak meskipun berada di tengah kota besar. Masalahnya, sanitasi yang buruk dapat menyebabkan beberapa penyakit menular, salah satunya diare.

Data WHO/UNICEF menyatakan bahwa Indonesia adalah negara kedua terbesar di dunia yang penduduknya masih mempraktekkan buang air besar sembarangan.

Keadaan itu menyebabkan sekitar 150.000 anak Indonesia meninggal setiap tahun karena diare dan penyakit lain yang disebabkan sanitasi yang buruk.

Saat ini, angka masyarakat Indonesia yang masih melakukan kebiasaan BABS mencapai 4 persen dari total penduduk, yaitu sekitar 11 juta orang.

Berdasarkan data UNICEF, pada 2015 lalu jumlah penduduk yang masih melakukan kebiasaan BABS sekitar 32 juta jiwa. Lalu angkanya menjadi 25 juta pada 2018.

Meskipun angkanya terus menurun, Wildan menekankan bahwa pemenuhan hak dasar sanitasi bukan sekadar menyelesaikan masalah BABS semata, melainkan memastikan bahwa akses sanitasi layak dan aman bagi seluruh masyarakat.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan, khususnya bagi masyarakat miskin dan terbelakang. Mereka merupakan kelompok yang paling rentan terhadap kesulitan mendapatkan akses sanitasi yang layak.

“Bagi mereka, akses sanitasi yang layak tetap menjadi hak dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi hingga saat ini,” kata Wildan.

Wildan berpendapat bahwa memerangi permasalahan ini membutuhkan dukungan dan pembiayaan yang luas, tidak hanya berasal dari rumah tangga, tapi juga dari pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat.

Selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, target penurunan angka BABS hingga 0 persen pada akhir tahun 2024 harus dikejar bersama.

Namun, upaya tersebut masih perlu ditingkatkan, baik dalam hal dukungan dana maupun sosialisasi agar pemahaman masyarakat semakin meluas.

Wildan berharap, dengan kerja sama yang sinergis, akses sanitasi yang layak akan segera mewujud dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat Kota Makassar. Masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sehat dan layak akan menjadi modal penting bagi pertumbuhan kota yang lebih maju dan berdaya saing.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.