Pemprov DKI Dinilai Ketakutan Kasus Covid-19 Bertambah 1.000 Per Hari, Diminta Lanjut PSBB

Pemprov DKI Dinilai Ketakutan Kasus Covid-19 Bertambah 1.000 Per Hari, Diminta Lanjut PSBB

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Peningkatan angka kasus covid-19 di Ibukota DKI Jakarta semakin mengkhawatirkan,

Jumlah pasien positif Covid-19 di Ibukota RI ITU masih terus meningkat drastis. Bahkan, dalam sepekan terakhir, rata-rata penambahan kasus positif berada di angka 1.000 per hari.

Pada Selasa 8 September 2020 misalnya, jumlah pasien positif Covid-19 di Jakarta bertambah 1.015. Sementara, kumulatif pasien positif Covid-19 di DKI Jakarta hingga saat ini adalah 48.811 orang. Angka positivity rate sepekan terakhir adalah 13,4 persen. Sedikit turun dari angka sebelumnya, yakni 14,2 persen.

Di tengah tingginya jumlah penambahan kasus itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti justru mengatakan, orang yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 hanya perlu menjalani isolasi mandiri selama 14 hari, tanpa perlu tes PCR.

Isolasi mandiri dilakukan sejak kontak terakhir dengan pasien Covid-19. Aturan tersebut sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 revisi kelima. “Jika setelah dilakukan karantina selama 14 hari tidak muncul gejala, maka pemantauan dapat dihentikan,” kata Widyastuti dalam keterangannya, Kamis 4 September 2020.

Baca Juga

Tri Yunis Miko Wahyono, epidemiolog dari Universitas Indonesia kemudian angkat bicara. Ia menilai bahwa langkah yang dilakukan DKI terkesan ketakutan dengan banyaknya jumlah pasien positif yang tercatat.

“Iya kelihatannya Pemprov DKI takut (dengan jumlah pasien positif Covid-19 saat ini),” kata Miko dikutip dari Kompas.com, Rabu 9 September 2020.

Miko cukup terheran-heran dengan pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI. Padahal, dalam melakukan penanganan Covid-19, tracing dengan tes PCR terhadap seluruh orang yang kontak erat dengan pasien positif wajib hukumnya.

Sementara, pemprov DKI hanya akan melakukan tes PCR apabila orang yang kontak erat dengan pasien positif menunjukkan gejala selama 14 hari isolasi mandiri.

“Ya enggak boleh seperti itu, seharusnya kan lakukan tracing yang benar, isolasi semuanya, enggak usah takut,” ujar Miko.

Jakarta disarankan kembali perketat PSBB

Ketimbang tak melakukan PCR, Miko justru menyarankan Pemprov DKI kembalmelanjutkan PSBB degan lebih ketat. Seperti di awal masa pandemi.

Menurut Miko, kasus positif Covid-19 sudah sangat mengkhawatirkan. Penyebaran virus terlihat sudah jauh dari kata terkontrol. Walaupun kasus Covid-19 dinilai tak terkendali, Pemprov DKI masih memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi yang akan berakhir tanggal 10 September besok.

Anies Baswedan justru mengeluarkan Keputusan Gubernur yang mengatur perpanjangan PSBB transisi secara otomatis, tanpa menunggu pengumuman resmi dari Pemprov DKI Jakarta.

“(Dengan kondisi saat ini) jadikan seperti kayak pertama, jadikan PSBB seperti semula,” kata Tri. Menurut dia, penerapan PSBB transisi dengan pengawasan minim seperti saat ini hanya akan memperparah situasi di tengah pandemi.

Pembelaan Gubernur Anies

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beralasan tingginya angka covid-19 di daerahnya karena banyaknya warga dari daerah lain yang dites dan dirawat di Jakarta karena corona.

Anies mengungkapkan, karena tes yang terbatas, banyak warga daerah seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang memilih ikut tes covid kemudiam dirawat di Jakarta.

Dalam satu periode, klaim Anies, jumlah orang luar pernah sampai 30 persen dari pasien Covid-19 di Jakarta.

“Lalu sebagian yang dirawat di Jakarta bukan warga Jakarta. Pernah lebih dari 30 persen yang berada di Jakarta bukan warga Jakarta,” ujar Anies di gedung DPRD DKI, Senin 7 September seperti dikutip dari suaracom.

Akan tetapi saat ini, kata Anies, jumlahnya sudah tidak terlalu banyak. Sekitar 10-15 persen pasien Covid-19 bukan warga Jakarta masih dirawat di Ibu Kota.

Namun hal ini disebutnya menjadi bukti dalam menangani Covid-19 Jakarta tak bisa sendirian. Perlu kerja sama dari daerah lain untuk memutus rantai penularan Covid-19.

“Saat ini itu ada sekitar 10-15 persen, tapi naik turun angkanya. Artinya bagi DKI Jakarta ini warga yg membutuhkan pelayanan perawatan untuk menyelamatkan sesama,” jelasnya.

Selain itu, kata Anies, peningkatan kapasitas tes ini sudah diperintahkan oleh Presiden Joko Widodo. Setiap daerah seharusnya bisa memiliki kapasitas tes agar bisa melihat kondisi wabah corona dan mencegah penularan dengan cepat.

“Kita berharap kemampuan testing ditingkatkan sesuai dengan instruksi Presiden,” tuturnya.

Jumlah pasien positif Covid-19 di Jakarta terus bertambah. Hingga hari ini, Senin 7 September dilaporkan 1.105 orang kembali dilaporkan positif terjangkit virus corona baru tersebut.

Total akumulasi seluruh pasien positif Covid-19 di Jakarta berjumlah 47.796 orang, 35.431 orang dinyatakan sudah sembuh. Sementara, 1.318 orang meninggal dunia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.