Masuk

Pendeta Saifudin Ibrahim: Pesantren Pusat Teroris, Mereka Lahirkan Kaum Radikal

Komentar
DPRD Kota Makassar

Terkini.id, Jakarta – Pendeta kontroversial, Saifudin Ibrahim melontarkan tudingan keras terhadap pesantren di Indonesia. Menurutnya, pesantren merupakan pusat teroris yang melahirkan kaum radikal.

Tudingan Pendeta Saifudin Ibrahim yang menyebut pesantren adalah pusat teroris itu ia sampaikan lewat videonya yang viral usai diunggah pengguna Twitter Cybsquad_, seperti dilihat pada Selasa 15 Maret 2022.

Dalam video itu, awalnya Saifuddin Ibrahim meminta kepada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk mengatur kurikulum di madrasah hingga perguruan tinggi.

Baca Juga: Dampingi Inkubasi Usaha Pesantren, LPPM Kalla Institut Gelar Pelatihan Pengelolaan Bisnis

“Jangan sekedar mengatur suara azan, atur juga kurikulum yang ada di madrasah, tsanawiyah, aliyah sampai perguruan tinggi,” kata Saifuddin Ibrahim.

Sebab, menurut Pendeta Saifudin, sumber kekacauan muncul dari kurikulum yang tidak benar. Maka dari itu, ia meminta Menag Yaqut agar jangan takut mengubah kurikulum di pesantren.

“Sumber kekacauan itu dari kurikulum yang tidak benar. Dari kurikulum di pesantren pak, jangan takut untuk dirombak,” tegasnya.

Baca Juga: Santri Baru Ponpes Al Bayan Hidayatullah Makassar Masuk Pondok

Lebih lanjut, Saifudin Ibrahim juga menyebut bahwa semua pesantren melahirkan kaum radikal. Hal itu, menurutnya lantaran ia juga pernah radikal gara-gara mengajar di Pesantren Az-Zaitun.

“Pesantren itu melahirkan kaum radikal semua. Seperti saya ini dulu radikal karena saya mengajar di pesantren Zaitun Indramayu,” tuturnya.

Selain itu, Saifudin juga menyebut pesantren adalah pusat teroris. Ia mengetahui hal itu lantaran dirinya pernah mengajar di Pesantren Az-Zaitun tersebut.

“(Pesantren) itu pusat teroris pak. Tapi teroris kelas berdasi yah di Pesantren Az-Zaitun. Saya gurunya, dan saya mengerti,” ungkapnya.

Baca Juga: Cak Imin Minta Kemenag Kembali Buka Izin Pesantren Shiddiqiyah: Pastikan Semua Harus Berubah Lebih Baik

Tak hanya menyebut pesantren pusat teroris, Pendeta Saifudin Ibrahim juga meminta kepada Menag Yaqut untuk menghapus 300 ayat dalam Alquran.

“Bahkan kalau perlu pak 300 ayat yang menjadikan hidup intoleran, pemicu hidup radikal, itu direvisi atau dihapuskan dari Alquran Indonesia,” ujarnya.