Makassar Terkini
Masuk

Pendidikan dan Keagamaan Camba, Dulu dan Kini

Terkini.id, Makassar – Perjalanan Makassar Bone, rute yang dapat dilalui salah satunya Camba. Sampai awal abad 21, penamaan kecamatan masih Camba dan Mallawa saja. Kini, sudah mekar menjadi, Camba, Mallawa, dan Cenrana.

Adapun Mallawa, juga sepenuhnya merupakan pemekaran dari Camba. Ketika duduk di bangku sekolah dasar antara 1983 sampai dengan 1989, perhelatan acara sekolah dasar masih menyatukan warga Camba dan Mallawa. 

Nama-nama seperti Batu Putih, Wanua Waru, Rompegading masih menjadi pertemanan dalam aktivitas murid-murid. Kini, dari yang awalnya hanya satu kecamatan. Berkembang menjadi tiga kecamatan. 

Nama-nama yang tadinya dekat di tenda Agustusan, pentas seni, dan juga perkawanan. Kini semakin jauh. Tidak lagi berkemah dan beraktivitas di kecamatan yang sama.

Lintasan tiga kecamatan inilah yang kemudian dijalani setelah menyelesaikan wilayah hutan Karaenta. Sekarang ini, kita bisa menyaksikan moyet mengiringi perjalanan di dua sisi.

Kawan yang tak melalui rute ini dalam empat tahun terakhir, menyatakan ‘sejak kapan monyet ini turun dan berinteraksi dengan pengendara jalan?”. Sayapun melihatnya dengan teliti, dalam tiga tahun terakhir ini. Ketika itu, di awal pandemi.

Area yang iconik di Camba adalah lapangan Andi Baso. Di sisi Barat lapangan, ada Madrasah DDI, SMP Negeri 3 Camba, dan Perguruan Muhammadiyah. Begitu pula di sisi selatan, ada Masjid Tua Al Amin Camba. Merupakan masjid yang kali pertama dibangun.

Ketiganya menjadi bagian kelengkapan sekeliling lapangan. Dalam percakapan sebelumnya justru ini kemudian menjadi Sekolah, Masjid, dan Lapangan (Wekke, 2022).

Keberadaan Panti Asuhan dan juga pengembangan Bustanul Athfal Aisyiyah merupakan bagian dari prakarsa Aisyiyah yang dimotori diantara allahuyarham Andi Nurhayati. Dimana akrab dipangil Puang Bau.

Salah satu tokoh masyarakat Camba, H. Darwis Daud menyebutnya sebagai orang dengan tipikal riang dan tidak punya masalah sama sekali.

Saya melihatnya dalam sisi sebagai orang yang selalu peduli pada kepentingan umum. Menimpali percakapan tersebut, saya tambahkan bahwa Puang Bau selalu mengganggap setiap yang muda dengan panggilan anak. Sehingga membangun kedekatan tersendiri dengan beliau.

Bahkan rumahnyapun kemudian diwariskan ke Aisyiyah dengan menjadikannya panti asuhan kini. Ketika itu pengungsi Timor Leste mencari tempat yang aman untuk berteduh. Salah satunya, ditempatkan di panti asuhan putri di Balle. Sementara untuk putra di Baroko.

Saya belum mendapatkan cerita lengkapnya, namun saat itu anak-anak pengungsi dari Timor Leste justru diasuh di Camba. Sebuah langkah yang cepat, justru melewatkan sekian banyak panti asuhan yang ada di Makassar, dan juga Maros.

Camba kini, sudah bertambah pendidikan swasta. Ada pesantren tahfidz, kemudian di Sawaru, tempat kelahiran dan kepemimpinan Arung Sawaru, Baddare Situru.

Tidak lagi hanya institusi pendidikan negeri. Awal tahun 1980-an, ketika itu salah satu tanah yang dibebaskan pemerintah untuk pembangunan SMA Negeri 2 Maros yang bertempat di Lappa-pai merupakan tanah nenek kami allahuyarham Hj. Hamidah.

Dengan menumpang kendaraan umum, beliau pulang pergi ke tempat pertemuan untuk menyelesaikan proses pembebasan lahan. Kini, sekolah menengah atas itu menjadi pilihan belajar. Dimana sebelumnya, untuk menempuh pendidikan menengah atas, paling tidak jarak terdekat harus ke Maros. Menumpang di rumah keluarga selama masa pendidikan. Tante saya yang menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah keperawatan, perlu menumpang di rumah keluarga untuk menikmati pendidikan sekolah menengah atas.

Lappa-pai kini menjadi pemukiman tersendiri. Dulunya juga bergabung dengan Kelurahan Cempaniga. Saat ini sudah dimekarkan menjadi Kelurahan Mario Pulana. Bahkan penduduk bertambah dari waktu ke waktu. Begitu pula dengan pemukiman yang semakin meluas.

Sebagai kecamatan induk sebelum pemekaran, Camba menjadi identitas awal yang masa ini sudah menyebar dengan Mallawa dan Cenrana. Bahkan dalam soal konsolidasi, masyarakat Camba tidak memerhatikan itu. 

Dalam DPRD Kabupaten Maros, tak ada satupun warga Camba yang duduk dari 30 anggota DPRD yang ada. Sementara Mallawa, terdapat tiga sekaligus. Soliditas politik ini juga menjadi satu tanya, jangan sampai konsolidasi pendidikan, dan juga keagamaan tidak lagi dapat digerakkan dengan langkah yang sama.

Ismail Suardi Wekke
Dewan Pendidikan Kabupaten Maros