Pengamat: Ganjar Pranowo Bukan Gubernur Istimewa, Modal Politik Juga Masih Banyak Celah

Terkini.id, Jakarta – Pengamat Politik menyebut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bukanlah figur yang istimewa. Lebih dari pada itu, secara modal politik juga ganjar masih “banyak celah” jika didorong untuk pemilu 2024 mendatang.

Ketidak istimewaan Ganjar juga ditandai dengan beberapa rekam jejaknya saat menjabat gubernur. 

Antara lain, mulai dari tingkat angka kemiskinan yang meningkat signifikan sejak 2021 sebagaimana terpantau Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, hingga pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur di Jateng yang masih kalah jauh dengan provinsi di sekitarnya.

Baca Juga: Diduga Sindir Ganjar Pranowo Soal Kemiskinan, Rizal Ramli: Ada Gubernur...

Ini sebetulnya sudah menandai bahwa secara kualitas Ganjar bukan Gubernur yang istimewa,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah, dikutip dari kantor berita RMOL, Kamis, 12 Mei 2022.

Dedi menyebut bahwa ditinggalnya Ganjar oleh PDIP juga mempengaruhi modal politiknya untuk maju ke pemilu 2024, dimana ini adalah celah yang akan membuat ganjar terpuruk.

Baca Juga: Foto Erick Thohir dan Puan Berbusana Muslim Beredar, Netizen: Identitas...

“Kemudian secara modal politik juga sebetulnya banyak celah yang akan membuat Ganjar terpuruk, salah satunya adalah ketika Ganjar kehilangan PDIP,” ujarnya.

Menurut eks Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta itu, selain tingkat elektabilitas Ganjar yang cenderung stagnan karena hanya didominasi oleh masyarakat Jateng dan kader PDIP.

“Tingkat keterusungan Ganjar yang rendah, kemudian porsi elektabilitas Ganjar yang sebetulnya juga tidak istimewa karena hanya didominasi di Jateng dan kader PDIP,” katanya.

Baca Juga: Foto Erick Thohir dan Puan Berbusana Muslim Beredar, Netizen: Identitas...

Sementara itu, ia membandingkan kader PDIP yang lebih loyal daripada Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah

“Sementara kader PDIP kader yang sangat loyal terhadap partai dibandingkan ketokohan,” ujarnya.

“Artinya ketika PDIP tidak mengusung Ganjar mau tidak mau suara yang hari ini simpati pada Ganjar besar kemungkinan juga akan bergeser ke tokoh lain di PDIP, misalnya di Puan Maharani,” sambungnya.

Kemudian, kata Dedi, Ganjar juga dinilai terlalu over load dalam bersolek diri mengemas citra politiknya. Oleh karena itu, banyak agenda-agenda di Jateng mulai dari pembangunan SDM sampai dengan yang berkaitan dengan infrastruktur, Jateng mengalami stagnansi.

“Bahkan tertinggal untuk ukuran provinsi yang mapan. Misalnya dibandingkan dengan DKI Jakarta, Jatim, apalagi Jabar. Jateng saya kira tertinggal di antara provinsi di sekelilingnya,” katanya.

“Ini sebetulnya sudah menandai bahwa secara kualitas Ganjar bukan Gubernur yang istimewa,” tutupnya.

Bagikan