Pengamat Sebut Kemarahan Jokowi di Bali adalah ‘Politik Cuci Tangan’: Dia sedang Meletakkan Problemnya pada Menteri!

Pengamat Sebut Kemarahan Jokowi di Bali adalah ‘Politik Cuci Tangan’: Dia sedang Meletakkan Problemnya pada Menteri!

LA
R
Lilis Adilah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Pengamat Politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto mengatakan jika berdasarkan penilainnya, kemarahan Presiden Joko Widodo di Bali kepada para Menteri beberapa waktu lalu merupakan strategi politik cuci tangan.

Arif menilai jika Presiden Jokowi melalui kemarahnnya kepada para Menteri bahwa dia hendak memperlihatkan semua masalah yang terjadi belakangan seperti masalah pangan dan jasa beberapa waktu terakhir adalah kesalahan para pembantunya.

Dengan melakukan strategi politik cuci tangan, Arif menilai jika Jokowi tetap menajaga citranya sebagai Presiden dan tren kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya.

“Jadi ketika mereke (presiden) marah kepada Menteri, itu sebenaranya Jokowi sedang meletakkan problemnya kepada Menteri, bukan pada presiden”, kata Arif, dikutip dari laman CNN Indonesia, Minggu 27 Maret 2022.

Kemarahan Jokowi dinilai adalah sesuatu hal yang wajar oleh Arif, dan menurutnya ekspresi kemarahan yang ditunjukkan seorang presiden merupakan sebuah simbol politik.

Lebih lanjut, Arif mengatakan jika cara yang dilakukan oleh Jokowi adalah untuk menunjukkan sense pf crisis dengan tujuan agar publik lebih mudah memahami.

Menurut Arif, car aitu lebih mudah menarik simpati dari masyarakat dibandingkan seorang pemimpin yang menunjukkan citranya lewat penyusunan kebijakan publik.

“Politik kita memang menyediakan banyak panggung untuk bisa diakses secara mudah oleh publik sebagai bahasa yang lebih mudah dimengerti, jadi kalau presiden marah itu kan ekspresinya terlihat”, lanjutnya.

Selain itu, Arif menilai jika ekspresi kemarahan yang ditunjukkan oleh Jokowi bisa dibaca sebagai tekanan kepada mitra koalisi. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat masih menjabat sebagai presiden.

“Jadi kemarahan presiden kepada menterinya di hadapan publik, itu sebenarnya memberikan kita jebakan politik simbolisme. Seolah-olah marah itu berarti bekerja, dan ini satu potensi buruk dalam politik nasional”, tandasnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.