Penghapusan Mural Dinilai Anti Kebebasan, Teddy: Menghapus kan Bagian dari Kebebasan

Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial, Teddy Gusnaidi menanggapi pihak yang marah terkait penghapusan mural mirip wajah Presiden Jokowi ‘404: Not Found’.

Seperti diketahui, aparat daerah Tangerang menghapus mural wajah mirip presiden Jokowi lantaran dinilai telah menghina Kepala Negara.

Melihat tindakan aparat yang menghapus mural tersebut, banyak pihak yang menilai bahwa aparat telah mematikan kebebasan berekspresi.

Baca Juga: PKS Ditantang Teddy Gusnaidi, Coba Larang Habib Rizieq Dkk Pakai...

Herlambang P. Wiratman selaku pakar hukum sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlannga (Unair) menilai, aksi penghapusan mural merupakan salah satu bentuk pembungkaman kritik.

Menurutnya, langkah aparat tersebut tak sejalan dengan aturan hukum yang berlaku.

Baca Juga: Mardani Ali Sera Ditantang Larang HRS Pakai Gamis, Eks Menteri:...

“Sebenarnya kritik itu terhadap Presiden, bukan personal Jokowi. Presiden sebagai penyelenggara pemerintah. Kritik publik terhadap pejabat diperbolehkan dijamin dan dilindungi,” tegas Herlambang, dikutip terkini.id dari suara surabaya.

Atas banyaknya pihak yang marah dengan sikap aparat, Teddy menilai bahwa sebenarnya yang anti dengan kebebasan adalah pihak yang mengkritik.

Tanggapan itu dilontarkan Teddy melalui akun Twitternya @TeddyGusnaidi pada Kamis, 19 Agustus 2021.

Baca Juga: Mardani Ali Sera Ditantang Larang HRS Pakai Gamis, Eks Menteri:...

“Mural menghina Jokowi dihapus, mereka ngamuk, katanya anti kebebasan. Loh? Sebenarnya yang anti kebebasan itu adalah pihak yang ngamuk,” ucapnya.

“Orang buat mural menghina boleh, lalu kenapa kalian melarang orang menghapus mural? Menghapus juga kan bagian dari kebebasan. Iya gak?” paparnya.

Seperti yang terlihat, beberapa netizen juga ikut memberikan komentar.

“Kebebasan kok menghapus mural. kebebasan ya,, balas juga dengan mural. Otaknya didengkul,” komentar HusainFayz.

“Para pengkritik yang mendukung oposisi termasuk orang-orang bermasalah kejiwaan. Kritik pada pemerintah, tetapi yang diserang adalah pribadi Jokowi,” komentar @WillySurpiyono.

“Orang waras akan tahu dan bisa membedakan mengkritik dan penghinaan,” lanjutnya.

“Iya juga ya. Kalo gak mau disentil, iya jangan sentil gitu juga kok repot,” komentar @nonaaWang.

Bagikan