Karena itu, pendidikan perempuan bukan semata-mata persoalan hak individu. Pendidikan perempuan adalah investasi peradaban.
Mendidik seorang perempuan berarti membuka kemungkinan lahirnya generasi yang lebih berilmu, berakhlak, dan memiliki visi masa depan.
Perempuan dan Kekuatan Sebuah Bangsa
Urgensi peran perempuan dalam pembangunan peradaban juga mendapat perhatian dari banyak pemikir lintas zaman.
Ibnu Khaldun, melalui pemikirannya tentang masyarakat dan peradaban dalam Muqaddimah, menunjukkan pentingnya lingkungan keluarga dalam pembentukan karakter dan solidaritas sosial. Keluarga menjadi ruang pertama tempat seseorang mengenal nilai, tanggung jawab, dan ikatan sosial.
Dalam ruang itulah perempuan, terutama seorang ibu, memainkan peran yang sangat penting.
- Dari Kasatpol PP hingga Sekda Definitif, Jejak Pengabdian Dr Aspa Muji di Birokrasi Jeneponto
- Bupati Paris Yasir Lantik Dr Aspa Muji Jadi Sekda Definitif Kabupaten Jeneponto
- Cetak Peternak Unggul, Polbangtan Kementan Bangun Peternakan Sapi Perah Terintegrasi di Bone
- KulinerRun 2026 Hadir di Makassar, Gabungkan Lari, Kuliner dan Pemberdayaan UMKM
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Pastikan Stok BBM dan LPG 3 Kg di Bone Aman, Alokasi Ditambah
Syaikh Muhammad Al-Ghazali juga menegaskan bahwa masyarakat yang mengabaikan potensi perempuan dan membiarkannya terperangkap dalam kebodohan sama saja dengan melumpuhkan sebagian besar kekuatannya sendiri.
Pandangan serupa hadir dalam pemikiran Raden Adjeng Kartini. Ia menyadari bahwa kemajuan bangsa sangat berkaitan dengan kemajuan perempuan.
Kartini menulis:
“Dari tangan ibulah anak pertama-tama menerima didikannya. Oleh karena itu, jiwa perempuan harus dimajukan demi kemajuan bangsa.”
Pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
