Karena itu, pendidikan perempuan bukan semata-mata persoalan hak individu. Pendidikan perempuan adalah investasi peradaban.
Mendidik seorang perempuan berarti membuka kemungkinan lahirnya generasi yang lebih berilmu, berakhlak, dan memiliki visi masa depan.
Perempuan dan Kekuatan Sebuah Bangsa
Urgensi peran perempuan dalam pembangunan peradaban juga mendapat perhatian dari banyak pemikir lintas zaman.
Ibnu Khaldun, melalui pemikirannya tentang masyarakat dan peradaban dalam Muqaddimah, menunjukkan pentingnya lingkungan keluarga dalam pembentukan karakter dan solidaritas sosial. Keluarga menjadi ruang pertama tempat seseorang mengenal nilai, tanggung jawab, dan ikatan sosial.
Dalam ruang itulah perempuan, terutama seorang ibu, memainkan peran yang sangat penting.
- PDAM Makassar Kerahkan Tangki Air Gratis hingga 24.00 Wita, Ini Nomor Layanannya
- Jelang Munas VIII PSMTI, Dukungan Wilianto Tanta Mengalir dari Sejumlah Daerah
- Di Tengah Musim Kemarau, Pendapatan PDAM Makassar Justru Meningkat
- MLS 2026 Dorong Makassar sebagai Episentrum Kepemimpinan, Bangun Dialog dengan Pemerintah Kota
- 9.9 Special All You Can Eat di Hana Resto, Nikmati Sajian Favorit Sepuasnya Hanya Rp99.026 NET/Pax
Syaikh Muhammad Al-Ghazali juga menegaskan bahwa masyarakat yang mengabaikan potensi perempuan dan membiarkannya terperangkap dalam kebodohan sama saja dengan melumpuhkan sebagian besar kekuatannya sendiri.
Pandangan serupa hadir dalam pemikiran Raden Adjeng Kartini. Ia menyadari bahwa kemajuan bangsa sangat berkaitan dengan kemajuan perempuan.
Kartini menulis:
“Dari tangan ibulah anak pertama-tama menerima didikannya. Oleh karena itu, jiwa perempuan harus dimajukan demi kemajuan bangsa.”
Pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
