PERNAHKAH Anda membayangkan, betapa sulitnya awal mula kehidupan manusia dimulai?
Sebagai Dokter spesialis kandungan yang mendampingi pasangan suami istri dalam program kehamilan, saya sering ditanya,
“Dok, kenapa sperma suami perlu dibantu? Kenapa harus inseminasi buatan?”
Ini adalah pertanyaan yang sangat wajar.
Inseminasi buatan, atau Intrauterine Insemination (IUI), adalah proses medis untuk membantu sperma suami masuk ke dalam rahim istri, agar lebih dekat ke tempat sel telur berada.
Prosedur ini sederhana, namun menyimpan makna perjuangan yang luar biasa. Angka keberhasilannya sekitar 15–20 persen per siklus, tergantung banyak faktor. Tapi ini lebih dari sekadar angka, ini adalah tentang harapan dan perjuangan.
- Membangun Bulukumba dengan Kerja, Bukan Sekadar Kata
- Guru di Sulsel Bikin Inovasi untuk Siswa Buta Warna dan Permainan Matematika di Bakti BCA Teacher Tech Championship
- Musim Kemarau, Debu Jalanan Bisa Picu Kerusakan Komponen pada Motor Anda
- Cek Promo Honda Scoopy September 2026, Ada Gratis Angsuran hingga 3 Kali
- Celah Busi Tak Tepat Bisa Bikin Motor Susah Nyala dan Boros BBM
Dalam satu kali ejakulasi, pria sehat mengeluarkan sekitar 200 hingga 300 juta sperma.
Di vagina, ratusan juta itu langsung berhadapan dengan lingkungan asam (pH 3,5–4,5) yang mematikan. Hanya sekitar 1 juta sperma yang berhasil lolos dari zona ini.
Saat menuju leher rahim (serviks), mereka menghadapi penyaringan ketat dari lendir serviks. Jika lendir serviks tidak ramah, maka sperma pun sangat sulit untuk masuk ke dalam rahim.
Lalu naik ke cavum uteri (rahim), dengan tantangan kontraksi rahim dan kekebalan tubuh sang istri.
Saat memasuki tuba falopi, jumlahnya tersisa sekitar 200–300 sperma saja. Dan dari semua itu, hanya satu sperma terbaik yang akan membuahi ovum. Satu dari 300 juta ada 99,9999% sisanya gugur di tengah jalan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
