Normalisasi Dosa

Normalisasi Dosa

EP
Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes.
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

SUATU ore datanglah seorang perempuan muda ke ruang praktikku. Kulitnya putih, rambutnya kecoklatan dengan model spiral.

Sepertinya ia cantik. Saya katakan “sepertinya”, karena wajahnya tertutup masker. Ia datang bersama seorang lelaki muda, seumuran, berpenampilan gagah dengan tubuh atletis dan kulit putih bersih.

“Dok, haid saya tidak teratur,” kata si perempuan muda itu. Kita sebut saja namanya Mawar. Sedangkan pemuda di sampingnya, Kumbara.

“Oh begitu. Sudah berapa lama tidak haid?” tanyaku. “Sudah tiga bulan, Dok.”

Aku lalu melanjutkan, “Kalian sudah menikah berapa lama?”

Baca Juga

Mereka beradu pandang sejenak, lalu Kumbara tersenyum. “Kami belum nikah, Dok. Kami masih kuliah, kebetulan satu kampus.”

Aku tercekat. Dalam hatiku ada rasa sedih. Mereka berbicara seolah ini bukan hal tabu. Seolah biasa saja.

“Sudah tes pack?” tanyaku.
“Sudah, Dok. Dua garis.” Jawab Mawar tenang.
“Saya bahkan sudah minum obat penggugur. Kami hanya mau memastikan, apakah sudah bersih.”

Wajah mereka tenang, seakan tanpa dosa. Seakan yang mereka lakukan bukanlah pelanggaran besar, melainkan hal lumrah.

Aku menarik napas panjang. Ada gumpalan perih di dada. Anak-anak muda ini, generasi Z, masih belia, tapi sudah berani bermain-main dengan sesuatu yang begitu besar taruhannya: Seks bebas, kehamilan di luar nikah, bahkan menggugurkan janin yang belum berdosa.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.