Pilkada Gowa: Petahana Tanpa Lawan

APAKAH ini krisis kepemimpinan? Sejatinya tidak, juga bukan. Tidak dan bukan itu bisa dimaknakan bahwa sejatinya ada potensi dan peluang yang terbuka untuk seseorang maju. Tapi, “keder” duluan dengan berbagai pertimbangan.

Misalnya, petahana terlalu kuat untuk dilawan, tidak ada partai yang mau mengusung dengan dasar pertimbangan kecil kemungkinan menang, tidak cukup modal membiayai dirinya dan boleh jadi juga partai atau mungkin pula tidak punya keberanian.

Padahal, secara akademik dia sangat pantas, kemampuan penguasaan wilayah dan design pembangunan kota cukup mumpuni, malah tidak sedikit dari mereka dari kalangan kaum milenial atau paling masih mampu beradaptasi di era disrupsi ini.

Lalu, kenapa tidak ada relasi politik yang mencoba menggali potensi tersembunyi itu untuk kemudian dimunculkan di publik. Memfasilitasi mereka agar lebih dikenal oleh publik. Jawabnya hanya satu, partai tidak mau mengambil resiko. Yang selalu ada dalam benak elite partai, memastikan pengaruh politik terhadap kekuasaan itu harus ada.

Cara berfikir seperti ini, memang riskan. Betapa tidak, konsekuensi yang dilahirkan oleh sebuah terobosan hanya ada dua. Satu, berhasil, keduanya akan gagal. Yang kedua inilah jadi momok dalam perpolitikan di negeri ini. Akhirnya, berlomba lomba merapat kepada sesuatu yang nyaris pasti.

Menarik untuk Anda:

Sebuah cara pandang pragmatis. Tidak salah juga. Hanya saja, pejuang politik yang hebat adalah mau menerobos sesuatu yang tidak biasa. Meninggalkan zona nyaman untuk suatu inovasi politik yang berbeda dan canggih.

Tapi sudahlah, Kabupaten Gowa sepertinya hanya terpaku pada satu keluarga, sama dengan Amerika Serikat di era 50 sampai 70an, di mana kala itu, rakyat Amerika Serikat hanya menaruh asa pada Kennedy family, dinasti Kennedy.

Itu juga, tidaklah salah. Pada zaman itu jadi suatu kebutuhan politik dan didukung rakyat. Sama halnya di Kabupaten Gowa.

Dalam kurun waktu lebih dari dua dasawarsa kepemimpinan di tangan klan Yasin Limpo.

Selain mereka sangat cerdik juga tahu bagaimana memenangkan pertarungan yang didukung oleh sistem yang ada.
Sehingga, dalam masa itu, dan juga sekarang, menciptakan lawan untuk dirinya yang terjadi. Apakah itu wajar. Soal kewajaran itu relatif dari perspektif mana kita melihat dan menilainya. Oleh sebab politik itu ibarat permainan. Siapa yang menguasai taktik dan strategis serta didukung oleh sebuah tim yang solid sangat terbuka lebar memenangkan pertaruhan. Dan itulah yang terjadi.

Akankah ada lawan petahana?
Di satu sisi petahana diasumsikan berhasil memimpin dalam kurun satu periode ini. Terlepas apakah penilaian itu obyektif ataupun subyektifitas yang mengukurnya.

Selain itu, perubahan cara memimpin dibanding pemimpin sebelumnya, yang juga ayahandanya, dirasakan oleh masyrakat lebih “cool” membuat simpati warga lebih besar.

Cara pendekatan yang manusiawi dan beradab menampakkan kecerdasan memenej problema lebih terukur, itu bagian yang mendapat nilai positif dari warga, terutama dikalangan guru guru, yang nota bene punya massa yang jelas.
Begitu pula dikalangan aparatur sipil negara di jajaran birokrasi lebih rileks bekerja di bawah kepemimpinannya. Mereka lebih terbuka dalam mengakselerasikan ide ide kepada pemimpinnya .

Hal ini, menurut hemat saya, membuat petahana punya kapital yang lebih unggul.

Sementara bakal calon yang punya kemampuan sekaligus keberanian nyaris tidak mengemuka. Atau mungkin malu untuk melawan secara terbuka, sebab toh mereka ini juga bagian dari “binaan” klan ini.

Ataukah, sebenarnya ada tapi punya keterbatasan yang tidak mungkin bisa dipenuhinya untuk “berperang” melawan hegemoni kekuasaan yang hampir tidak terkalahkan(?) dalam lebih dua dekade terakhir, ataukah tumbuhnya sikap skeptis dan apatis terhadap isu isu kepemimpinan apatahlagi untuk berani merubah “sejarah” atau membuat terobosan yang diluar kebiasaan.

Saya tidak dalam kapasitas mengkonlusikan itu. Namun, apa yang saya lihat, bahwa deviasi elit politik yang terkooptasi dengan kekuasaan atau menjadi bagian kekuasaan dengan kalangan elit di luar politik terlalu dalam untuk dikatakan membangun peradaban baru bagi sebuah rekrutmen yang sehat.

Hingga saat ini, saya belum melihat itu bisa terjadi. Entah sampai kapan ini berlaku dan berlaku, agar seterusnya ada benih politik yang lebih kepada pemenuhan regenerasi elit yang lebih berkualitas ke depan.

Bagi saya, kualitas rekrutmen itu menentukan output kepemimpinan yang lebih baik ke depan. Sekarang, bagi warga Gowa, tidak ada pilihan lain selain berusaha “menikmati” apa yang tersaji, bukan mencari pemimpin yang mampu membuat legacy bagi terciptanya sistem pergantian kepemimpinan yang mengedepankan pilihan pilihan yang berbeda dan mengedepankan kecerdasan memilih pemimpin, pada saat yang sama, demokrasi terbangun dalam harmoni keberpihakan rakyat mendominasikan suaranya mendapatkan pemimpin terbaik. Wallahu ‘alam bisshawab.

Praktisi dan Pemerhati Pemerintahan

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Ketauladanan Ibrahim AS- 02

Money Politik, Diantara Larangan dan “Kebutuhan” Warga

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar