Masuk

Profil Hasnaeni ‘Wanita Emas’, Tersangka Kasus Korupsi PT Waskita Beton Precast yang Histeris Saat Ditangkap

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Hasnaeni telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Atas kasus korupsi serta penyelewengan dana pada salah satu anak perusahaan dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk Kamis, 22 September 2022 lalu.

Hasnaeni yang akrab disapa dengan sebutan wanita emas, itu sempat membuat geger karena meronta dan berteriak histeris saat penangkapan.

Baca Juga: Hasnaesni si ‘Wanita Emas’ Menggunakan Uang Hasil Korupsi Rp16,8 Miliar untuk Keperluan Pribadinya

Siapa sebenarnya sosok Hasnaeni si wanita emas?

Profil Hasnaeni

Berikut ini adalah profil dari seorang wanita emas, Hasnaeni Moein.

Baca Juga: Akankah Partai Republik Satu yang Dipimpin ‘Wanita Emas’ Hasnaeni Tersangka Tindak Kasus Korupsi, Tetap Melaju di Pemilu?

1. Nama Lengkap 

Nama lengkap dari Hasnaeni adalah Mischa Hasnaeni Moein. Ia lahir di Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada 17 Juli 1976.

2. Pendidikan yang Pernah Ditempuh Hasnaeni 

Dikutip Terkini.id dari Kompas.com, Hasnaeni menyelesaikan S1-nya di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana. 

Baca Juga: Hasnaeni si ‘Wanita Emas’ Ketahuan Pura-pura Sakit agar Tidak Ditangkap, Mengamuk dan Histeris Saat Dijemput Paksa Jaksa

Selanjutnya juga menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Krisnadwipayana dan meraih gelar magister manajemen.

Sedangkan program S3-nya adalah program Doktor Ilmu Ekonomi yang ditempuh di Universitas Merdeka Malang.

3. Karier dan Politik Hasnaeni

Hasnaeni pernah menjadi komisaris di PT. Misi Mulia Production dan PT. Misi Mulia Petronusa.

Kemudian Hasnaeni terjun ke dunia politik, dengan mencoba peruntungan di Pilkada Tangerang Selatan pada tahun 2010.

Waktu itu, wanita emas menggandeng artis Saipul Jamil untuk menjadi wali kota di Tangerang Selatan. 

Namun sayang, di tengah perjalanan, pasangan tersebut memutuskan untuk mundur.

Setelah gagal menjadi orang nomor satu di Tangerang Selatan.

Hasnaeni mencoba untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif DKI Jakarta saat Pemilu 2014 dengan bergabung di Partai Demokrat.

Akan tetapi, upaya Hasnaeni itu juga tidak berhasil.

Kemudian namanya mulai ramai terdengar saat ia bertekad untuk maju menjadi calon gubernur DKI lewat Partai Demokrat tahun 2017.

Sayangnya, Hasnaeni harus kembali menahan diri sebab Demokrat pada Pilgub DKI tersebut malah mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni.

Hasnaeni tetap tinggi hasrat, ia seolah penasaran dan tak pernah putus asa.

Di tahun 2019 Hasnaeni pernah menyatakan hasratnya untuk maju menjadi calon legislatif (caleg) DPRD DKI Jakarta.

Namun kali ini tidak lewat Demokrat, Hasnaeni mengaku akan mencalonkan diri melalui Partai PDI Perjuangan. 

Kendati demikian, rencana pencalonannya tersebut tidak terdengar lagi.

4. Julukan “Wanita Emas”

Hasnaeni dijuluki “Wanita Emas”. Julukan itu sudah melekat sejak 2010 saat maju di Pilkada Tangerang Selatan.

Julukan “Wanita Emas” mempunyai makna tersendiri.

Hasnaeni mengatakan bahwa “Emas” merupakan simbol dari kesejahteraan.

Pada kesempatan lain ia mengatakan “Emas itu sebenarnya adalah kepanjangan dari ‘Era Masyarakat Sejahtera’.” Jelas Hasnaeni.

Dengan memakai sebutan “Wanita Emas”, harapan Hasnaeni dapat menjadi wanita yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas.

5. Menjadi Tersangka kasus korupsi

Di tahun 2022 ini, namanya kembali santer terdengar. Namun, bukan sebagai calon Pilkada, melainkan karena menjadi tersangka kasus korupsi.

Hasnaeni diduga terlibat penyimpangan dan penyelewengan dana PT Waskita Beton Precast pada 2016-2022.

Hasnaeni dijerat pasal 2, pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Sekarang ia telah ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan empat orang lainnya.

Kuntadi, selaku Dirdik Jampidsus Kejagung menjelaskan, selama tahun 2016-2022 perusahaan tersebut melakukan pengadaan fiktif. Yaitu, pengadaan barang yang tidak dapat dimanfaatkan serta beberapa pengadaan yang tidak bisa ditindaklanjuti.

Atas perbuatanya tersebut, negara menaggung kerugian sebesar Rp 2.583.278.721.001.