Puasa itu Membawa Kejutan-Kejutan

Shamsi Ali Imam Masjid New York

Terkini.id, – Tidak diingkari bahwa bulan Ramadan itu adalah bulan yang penuh dengan kejutan-kejutan (surprises). Dalam bahasa agama kejutan-kejutan ini dikenal dengan “mukjizat” atau kemukjizatan.

Karenanya tidak berlebihan jika saya juga menamai bulan ini sebagai “Syahrul mu’jizah” (bulan kemukjizatan).

Mukjizat adalah peristiwa-peristiwa terjadi yang berada di luar jangkauan pikiran biasa manusia. Saya tidak mengatakan bahwa mukjizat itu logis atau rasional. Karena peristiwa-peristiwa mukjizah bukan tidak rasional atau logis. Hanya saja manusia tidak mampu memahami detailnya secara akal.

Mukjizat-mukjizat itu secara global sangat rasional. Kenapa? Karena logika yang benar adalah logika yang memahami “qadarullah” (kekuatan Allah) sebagai kekuatan Yang tanpa batas.

Selama sebuah peristiwa itu dikaitkan dengan kuasa Allah, maka apapun bentuknya itu adalah logis. Meragukannya justeru tidak rasional dan tidak logis karena jelas bertentangan dengan tabiat Kekuasaan itu.

Di bulan Ramadan ini sungguh banyak peristiwa-peristiwa terjadi yang berada di luar kemampuan akal manusia memahaminya. Beberapa contoh di bawah ini menyimpulkan jika memang Ramadan adalah bulan kemukjizatan.

Perang Badr adalah perang pertama yang terjadi dalam sejarah perjalanan umat ini. Perang ini sesungguhnya menentukan wajah perjalanan dakwah Rasul. Perang ini terjadi di bulan Ramadan.

Perang Badr dapat dikatakan satu dari kejutan-kejutan itu. Berapa tidak, secara akal biasa manusia susah untuk dipahami arahnya. Bagaimana mungkin dimenangkan oleh pasukan Islam? Selain jumlah Yang tidak berbanding, juga mereka dalam keadaan puasa. Apalagi perang ini terjadi di musim panas yang dahsyat.

Perang Badr itu komposisinya adalah  pasukan Muslim hanya 303 melawan kekuatan musuh kafir Quraysh sebesar 1000 lebih tentara. Artinya jumlah musuh tiga kali lipat dibanding jumlah pasukan orang-orang yang beriman.

Secara peralatan perang mereka jauh lebih unggul. Pasukan Rasulullah SAW hanya memiliki dua ekor kuda. Sementara lawannya memiliki seratus pasukan berkuda. Pasukan berkuda ketika itu merupakan pasukan elit. Kuda adalah alat perang yang paling canggih.

Dengan kenyataan itu, hasilnya di luar kemampuan akal manusia memahaminya. Rasulullah SAW dan sahabatnya memenangkan peperangan itu. Bahkan menahan 70 lebih dari pasukan kafir Quraysh.

Demikian pula Fath Makkah (penaklukkan kota Mekah). Peristiwa agung ini harusnya menjadi catatan emas sejarah peradaban manusia. Karena ini peristiwa penaklukkan sebuah kota atau negeri tanpa pertumpahan darah. Sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.

Mungkin yang paling menakjubkan adalah bahwa peristiwa ini terjadi bukan di zaman yang diakui sebagai zaman modern, lebih berpendidikan, berperadaban (civilized) dan seterusnya. Tapi justeru di zaman ketika dunia didominasi oleh prilaku barbar dan biadab.

Rasulullah SAW yang pernah disiksa, dihinakan, bahkan diusir secara paksa dari tanah kelahirannyan kini kembali dengan kekuatan besar dan dengan persiapan perang yang hebat. Tapi semua itu tidak merubah karakter damai dan kasih sayang Rasul.

Hasilnya inilah yang saya isitlahkan “mu’jizah taarikhiyah” (keajaiban sejarah).  Penduduk Mekah menyerah tanpa perlawanan. Dan yang lebih penting dicatat oleh sejarah adalah bahwa peristiwa penaklukkan Mekah juga terjadi “amnesti” umum pertama terjadi dalam sejarah manusia.

“Kamu semua hari ini bisa kembali ke rumah masing-masing dengan aman dan bebas. Bebas, termasuk bebas mengimani keyakinan mereka (freedom of religion) dan beribadah (worship) sesuai dengan keyakinan masing-masing”. Demikian bunyi amnesti umum itu.

Patung-patung memang dihancurkan karena letaknya di rumah Ibadah tauhid. Ada 360 lebih patung yang berada di sekitar Ka’bah. Di rumah suci di mana Allah disembah setiap saat. Karenanya keberadaan patung-patung itu sangat tidak etis dan mengganggu.

Bukan karena patungnya. Karena patung yang di rumah-rumah mereka, di halaman mereka, tidak diganggu oleh orang-orang beriman.

Mereka juga pada akhirnya masuk Islam,  bukan karena paksaan. Tapi belakangan justeru karena jatuh hati dengan ajaran Islam yang indah. Dan tentunya karena karakter (akhlak) orang-orang beriman saat itu.

Semua ini saya juga istilahkan peristiwa mu’jizah tariikhi atau keajaiban sejarah. Peristiwa yang pada zamannya, yang tiada tertandingi bahkan oleh zaman modern saat ini.

Keajaiban atau kejutan terbesar

Mu’jizah Ramadan yang tertinggi adalah karena memang di bulan ini diturunkan “miracle of all miracles” (mukjizat dari semua mukjizat). Itulah Al-Quran al-Karim.

Mengenai ini akan dibahas pada masanya. Tapi karena mukjizat inilah terjadi peristiwa-peristiwa besar lainnya.

Karena mukjizat Al-Quran itu manusia yang hina, miskin dan budak, berubah menjadi terhormat sejajar dengan semua saudaranya di sekitarnya. Ambillah Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, dan lain-lain, sebagai contoh.

Dengan Mukjizat itu pula seorang yang  karena kekuatan dan kekuasaannya terhinakan berubah menjadi mulia dan terhormat juga karena kekuatan dan kekuasaan. Umar bin Khattab sebagai misal.

Semua itu terjadi karena keajaiban yang terjadi di bulan Ramadan. Yaitu diturunkannya Al-Quran, Kitab mukjizat yang menggoncang dan mentransformasi dunia dan isinya.

Karenanya jadikanlah bulan ini sebagai bulan peristiwa-peristiwa yang mungkin secara akal di luar nalar. Siapa tahu orang yang kita anggap jahat seperti Umar karena mukjizat Ramadan mendapatkan orang yang membela kebenaran. Bahkan menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan (Al-faruuq).

Denan Ramadan ini satu hal yang menjadi bagian dari doa dan harapan kita. Semoga situasi umat yang sedang menghadapi tantangan luar biasa itu, dengan kemukjizatan Ramadan menjadi kemenangan.

Dengan keajaban bulan Ramadan, Semoga saudara-saudara kita di Palestina, Iran, Suriah, Yaman, Burma, Xingjian China, Kashmir, dan di berbagai belahan dunia mendapatkan hak-hak kemerdekaan dan keadilannya.

Untuk konteks dalam negeri tercinta, Semoga Ramadan ini melahirkan keajaiban dengan selesainya pemilu. Keajaiban yang akan menjadi kekuatan bagi bangkitnya bangsa dan negara ke posisi yang seharusnya.

Yaitu bangsa dan negara yang kuat, makmur dan berkeadilan. Bangsa yang damai, tentram dan sentosa. Bangsa dan negara Yang punya kharisma di mata dunia. Mampu berdiri tinggi sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya.

Di bulan Ramadan inilah di saat perasaan lemah, tak berdaya, merasa seolah tiada lagi jalan menuju harapan itu, bukan berarti harapan itu tiada. Karena dengan iman, harapan itu selalu ada.

Expect miracles. Tunggu kejutan-kejutan itu. Insya Allah

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Kekuatan Doa

DOA menyatukan seorang hamba dengan sang khalik melalui dialog munajatnya. Hamba berada dalam posisi membutuhkan sementara sang khalik yang mengabulkan doa hamba-Nya.Allah Swt menyeru
Opini

Nasib Pakistan Habis Lebaran

BEGITULAH nasib kita, eh, nasib Pakistan. Begitu sulit mencari jalan keluar. Bebannya begitu besar. Jalan berliku sudah dilalui. Oleh pemimpin baru mereka: Imran Khan.
Opini

Cahaya Ilahi

CAHAYA Ilahi senantiasa terpatri dari ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan sepanjang Ramadan ini. Salah satu kemuliaan dan cahaya Ramadan, karena di dalam bulan Ramadan,
Opini

I’tikaf dan Lailatul Qadar

PADA Jumat, 24 Mei 2019 bertepatan hari ke-19 ramadan 1440 Hijriyah, saya mendapat amanah khotbah Jumat di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar.Panitia memberi topik; “I’tikaf
Opini

Ramadan itu Bulan Alquran

DEMIKIAN dahsyatnya kekuatan ruhiyah Al-Quran sehingga sekiranya diturunkan di atas sebuah gunung niscaya gunung itu akan goncang. Goncang karena rasa takut terhadap Allah SWT,
Opini

Pilpres, Hoaks dan Darurat Literasi Digital

PILPRES  2019 mungkin arena pertarungan paling menguras energi sepanjang sejarah republik ini. Tidak hanya bagi kedua pasang kandidat dan tim pemenangan masing-masing, tetapi juga
Opini

Entertainisasi Ramadan

KEHADIRAN bulan Ramadan yang penuh hikmah, mestinya menjadi momentum bagi umat Islam melakukan resonansi penyucian jiwa, menuju pembentukan pribadi muslim yang paripurna.Berbagai ekspresi keagamaan
Opini

Pembunuhan Karakter di Media Sosial

ERA keterbukaan informasi merupakan gerbong yang luar biasa bagi masyarakat luas untuk mendapatkan informasi yang cepat, mudah dan tidak terbatas.Sebagai warga negara, memperoleh informasi
Opini

Puasa itu Menyuburkan Ruhiyah

Mankind is a spiritual being in a physical body.KALAU seandainya saya ditanya tentang defenisi manusia maka jawaban saya kira-kira seperti di atas. Bahwa manusia