Puasa Ramadan itu Menata Hati

Shamsi Ali Imam Masjid New York

Terkini.id, – Warna hidup manusia itu terbentuk oleh suasana hatinya. Segala gerak-gerik hidupnya adalah gambaran dari suasana hati. Dan karenanya hati adalah penentu hitam putih, sehat sakitnya prilaku manusia.

Hakikat inilah yang digambarkan secara sederhana oleh Rasulullah SAW: “Sungguh dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, yang jika baik, baiklah seluruh anggota tubuhnya. Tapi jika rusak, maka rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Itulah hati” (hadits).

Berbagai kerusakan yang digambarkan oleh Al-Quran: “nampak berbagai kerusakan di darat dan di laut karena tangan-tangan manusia”.

Tangan-tangan itu bergerak sesuai arahan motivasi manusia. Dan motivasi atau dorongan itu komandonya ada pada hati manusia.

Di sinilah rahasianya kenapa puasa menjadi sangat relevan dan urgen dalam membentuk karakter.

Ada dua alasan utama:

Pertama, karena puasa adalah bentuk ibadah yang bersentuhan langsung dengan “kata hati” yang paling dalam. Berpuasa itu adalah melakukan sebuah amalam yang benar-benar terbebas dari intervensi pihak ketiga. Interaksi yang terjadi hanya antara pelaku dan Allah SWT.

Maka puasa mengikat hati dengan sang Khalik secara langsung dan mendalam (intimate). Dengan ikatan itu hati menjadi lebih subur dan sehat.

Kedua, hati itu alaminya bersih dan esensinya kesucian (fitrah). Akan tetapi Allah juga menciptakan satu elemen dalam kehidupan manusia yan sangat diperlukan untuk menjalankan fungsi kekhilafahan (untuk membangun dunia). Tapi di sisi lain jika tidak dikontrol dengan baik akan menjadi pintu kerusakan hidup. Itulah hawa nafsu manusia.

Kerusakan pertama yang akan dilakukan oleh hawa nafsu yang tidak terkontrol adalah merusak kesucian hati manusia itu sendiri. Dan ketika hati telah terkontaminasi maka hati itu tidak lagi mampu memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah.

Oleh karena puasa yang esensinya adalah menahan diri dari ganasnya dorongan hawa nafsu menjadi benteng penjagaan hati. Makna puasa sebagai “junnah” (shield) terutama adalah menjaga hati dari najis-najis hawa nafsu.

Jelaslah sudah bahwa puasa adalah wahana terbaik untuk menata hati manusia. Melalui “mujahadah” melawan godaan hawa nafsu buruk, hati merasakan kebersamaan dengan Allah.

Jika kebersamaan itu telah hadir, maka hati menjadi lembut, merasakan ketentraman dengannya (dzikrullah). Menjadi terdorong untuk melakukan kebaikan dan sensitif dengan keburukan-keburukan.

Hati yang kuat dan sehat akan tegar menghadapi tantangan-tantangan dan godaan-godaan hidup. Inilah salah satu makna Sabda baginda: “ketika Ramadan telah tiba “pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syetan-syetan terikat (shuffidat)” (hadits).

Syetan-syetan terikat bukan karena tidak mampu menggoda. Melainkan karena manusia yang hatinya merasakan kedekatan itu tidak akan tergoda.

Apalagi puasa merupakan ibadah yang nilai ikhlasnya sangat tinggi. Dan keikhlasan ini merupakan senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan syetan. “Semua akan saya goda kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas” (Al-Quran).

Dan pada hari Kiamat nanti hanya dengan hati yang suci (qalbun saliim), akan menghadap Tuhannya dengan aman. “Di hari di mana harta benda dan anak-anak tidak lagi berguna. Kecuali siapa yang datang menghadap Allah dengan hati yang sehat (saliim).

Bahkan dengan hati yang sehat dan bersih inilah keridhooan Allah akan diraih dan dengannya pula akan masuk ke dalam syurga. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kamu ke Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi. Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu”. (Al-Quran).

Oleh karena itu di bulan yang penuh barokah ini, mari menata dan merajut hati. Lakukan pembersihan hati melalui puasa yang sesungguhnya. Puasa yang esensinya koneksi dekat dengan Allah. Dan dengan puasa seorang hamba mampu menata hidup jauh najis-najis kehidupan yang dapat mengotori hati. Semoga!

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Puasa itu Menyuburkan Ruhiyah

Mankind is a spiritual being in a physical body.KALAU seandainya saya ditanya tentang defenisi manusia maka jawaban saya kira-kira seperti di atas. Bahwa manusia
Opini

Pendidikan Qur’ani

MOMENTUM 17 Ramadan ini sejatinya menjadi titik pijak merenungkan ihwal konstruksi dunia pendidikan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan akhlak.Pendidikan berkualitas melahirkan sumber
Opini

Iqra’ dan Nuzulul Quran

IQRA adalah perintah pertama Alquran. Iqra artinya bacalah. Peristiwa pertama turunnya Alquran (nuzulul quran) kepada Rasulullah Saw terjadi pada malam 17 ramadan.Peristiwa itulah jadi
Opini

Puasa itu Menyehatkan

“Berpuasalan niscaya kamu sehat” (hadits).Tak dapat disangkal lagi bahwa berdasarkan penelitian pada ahli kesehatan, sebagian besar penyakit yang terjadi dalam tubuh manusia disebabkan oleh
Opini

Dakwah 4.0

ERA revolusi industri 4.0 menjadi penanda arus globalisasi tidak terbendung disertai kecanggihan teknologi. Era ini menjadi angin segar pengembangan dakwah Islam berbasis digital. Sejumlah
Opini

Warung Bertirai

SALAH satu pemandangan di siang hari pada pertengahan bulan Ramadan ini, berupa warung bertirai. Warung bertirai adalah warung yang dibuka di siang hari saat
Opini

Rekor Defisit Ekspor-Impor RI

SAYA lagi di Nha Trang saat berita ini muncul: neraca perdagangan Indonesia defisit lagi. Bahkan mencapai rekor baru lagi. Yang terparah lagi. Rekor baru
Opini

Taubat, Sekarang!

MEMASUKI hari sepuluh kedua Ramadan 1440 H ini, saatnya dibuka pintu taubat. Demikianlah bulan Ramadan dibagi dalam tiga bagian. Sepuluh pertama berupa rahmat, sepuluh
Opini

Puasa Ramadan itu Pengakuan Otoritas Ilahi

Terkini.id, - Salah satu kekeliruan besar manusia adalah perasaan kepemilikan (ownership) dalam hidup. Padahl sejatinya segala sesuatu dalam hidup duniawi kita bersifat amanah (titipan).