Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbud Gelar Bimtek Literasi

Bimtek Literasi Kemendikbud
Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kemendikbud Gelar Bimtek Literasi

Terkini.id, Jakarta – Bimbingan Teknis (Bimtek) Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Hotel Grand Cempaka, Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, 8-14 April 2019 berlangsung seru dan meriah.

Sejumlah 120 orang guru, penyuluh Bahasa Indonesia, serta pegiat literasi dari berbagai komunitas dari 34 provinsi di Indonesia terlihat bersemangat hingga hari terakhir. Mereka tetap setia mengikuti kegiatan hingga usai.

Keberanekaragaman Peserta

Berbagai instansi dan komunitas literasi yang terpilih mengikuti ini berasal dari berbagai penjuru negeri. Terlebih lagi para pakar telah menyampaikan berbagai materi yang kiwari dan komprehensif, seperti Prof Dr Dadang Sunendar Mhum, Prof Dr Marsudi Wahyu Kisworo, Dr Hurip Danu Ismadi MPd, Prof Emi Emilia Med PhD, Habiburrahman El Shirazy, dan Drs Krisanjaya Mhum.

Turut hadir Melvi, Dr Firman Hadiansyah Mhum, Bambang Trimansyah SS, Gol A Gong, Dr Tengku Syarfina Mhum, Retno Utami MHum, Billy Antoro SPd, Wien Muldian.

Narasumber inti, yakni Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, menyampaikan materi tentang Kebijakan GLN Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Diversifikasi Materi

Adapun materi lain yang disampaikan narasumber, yakni Upaya Pembinaan Bahasa melalui Pembudayaan Literasi Baca-Tulis dan Bernalar Aras Tinggi (BAT), Pemanfaatan Literasi Siber/Multimedia dalam Literasi Baca-Tulis, Hubungan Literasi Baca-Tulis dengan Kemampuan Bernalar Aras Tinggi (BAT) STEM dan 4K, dan Pemahaman Berbagai Jenis Teks dalam Pembelajaran Literasi Baca-Tulis, Proses Kreatif Menulis Karya Inspiratif.

Materi lainnya yakni Metodologi Pengajaran Literasi Baca-Tulis, Gerakan Literasi Masyarakat dan Cara Pengelolaan Komunitas Literasi, Menciptakan Kreasi dan Inovasi Literasi Baca-Tulis di Masyarakat, Jenis Strategi dan Teknik Membaca, Praktik Membaca berbagai Jenis Teks, dan Meringkas Menulis Ulang Menceritakan Kembali Mengonversi serta Merekonstruksi Teks, Praktik Meringkas Menulis Ulang Menceritakan Kembali Mengonversi dan Merekonstruksi Teks yang Telah Dibaca.

Selain itu juga dipaparkan materi Teknik Menangkap Ide dan Menulis Kreatif berbagai Jenis Teks Bacaan, Teknik Swasunting, Praktik Menyunting, Praktik Menulis Kreatif, Praktik Baik Berliterasi Baca-Tulis. Jumlah total proses pembelajaran mencapai 67 jam.

Beragamnya presentasi yang disajikan para peserta di depan dewan juri benar-benar memerkaya pengetahuan dan pengalaman peserta lainnya. Sebut saja Syamsurizal, penyuluh literasi dari Kantor Bahasa Bengkulu.

Ia menyampaikan presentasi berjudul “Menanamkan Nilai-nilai Kearifan Lokal pada Anak melalui Literasi Membaca Menulis”.

Difa Stefanie, pegiat literasi dari Yayasan Pustaka Kelana, Rawamangun, Jakarta Timur, menguraikan tentang menulis itu menyenangkan.

Sementara salah satu penggiat literasi dari Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan, dr Dito Anurogo MSc, menyampaikan presentasinya tentang Dokter Literasi Digital, dengan sub topik Melalui Opini, Menyehatkan Negeri.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah (FKIK Unismuh) Makassar itu menyemarakkan suasana malam dengan tembang Macapat “Pangkur” dan olahraga otak berupa senam jari.

Para peserta terlihat bahagia dan ceria. Meskipun saat penilaian ada kelompok yang selesai melakukan presentasi hingga dini hari, namun tidak mengurangi semangat mereka.

Jeda waktu istirahat digunakan para peserta untuk beribadah, melakukan dialog, menikmati kudapan, curah pendapat dan pikiran, swafoto, berkenalan, bersinergi, berkolaborasi, dan bertukar informasi tentang literasi dengan sesama peserta.

Uniknya, beberapa peserta menawarkan buku hasil karya mereka dan kalung mutiara. Usai acara, ada yang masih intensif berdialektika dan mengobrol santai di pinggir kolam renang hingga larut malam.

Dadakan sehingga Ketagihan

Menariknya, “ujian” yang sering dilakukan secara mendadak membuat peserta menjadi “ketagihan”. Maksudnya, para peserta menjadi lebih bersemangat di dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan.

Terlebih lagi, ada beberapa cenderamata khas dari Gol A Gong sebagai stimulus. Beberapa menit tantangan membuat puisi kontemporer, pantun nasihat, dan Haiku usai dibacakan, seorang peserta langsung memberikan kertasnya kepada panitia. Ia berhasil mendapatkan topi merah dari Singapura sebagai hadiahnya.

Tanggapan

Tanggapan dan komentar positif bermunculan dari kegiatan ini. Salah satunya dari Sekretaris Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud, Billy Antoro.

“Acara ini sangat bagus digelar untuk memberikan pembekalan standar di ranah literasi baca-tulis bagi penggiat literasi (sekolah, masyarakat, penyuluh bahasa) untuk berkiprah di daerah masing-masing. Namun menurut saya, yang lebih penting dari kegiatan pemberian materi itu adalah terjalinnya jejaring literasi di antara peserta dan munculnya kolaborasi kegiatan sekembali di daerah masing-masing,” kata Billy.

“Acara Bimtek lebih kepada wadah para penggiat literasi untuk berinteraksi dan menetapkan kerja-kerja bersama yang akan dilakukan untuk membangun daerah. Langkah awalnya adalah melalui kegiatan bersama antara penggiat dan Balai Bahasa,” tambahnya.

Di ranah sekolah, pihaknya berharap para penggiat literasi juga menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan pemangku literasi lain, seperti Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota, dan warga sekolah.

“Kolaborasi beragam pemangku literasi ini akan semakin menguatkan Gerakan Literasi Sekolah,” ucap Billy.

Lain halnya dengan Erni Wardhani MPd, guru bahasa Indonesia dari SMKN 1 Cianjur.

“Bimtek literasi penting sekali diadakan. Apalagi kalau yang menjadi peserta kemarin, seluruhnya dapat menindaklanjuti kegiatan. Jadi jangan terputus oleh 30 orang yang terpilih,” ujar Erni.

“Kalau perlu diadakan lagi semacam penggojlokan sehingga pada saat terjun ke masyarakat, kita benar-benar sudah siap dan mampu menjadi perwakilan yang memang dibutuhkan,” sambungnya.

Literasi, kata dia, bukan hanya sekadar kita mampu membuat karya, akan tetapi bagaimana kita mampu menyebarluaskan ilmu kepada orang banyak sehingga orang lain pun tidak hanya sebagai penikmat, akan tetapi mampu menjadi pelaku.

“Dengan ini, kita bersama masyarakat sudah berada di tingkatan bernalar aras tinggi,” katanya.

Seorang penulis 30 novel, Asri Rakhmawati, mengatakan bahwa Bimtek Literasi Baca Tulis membangun persepsi baru dalam gerakan literasi di masyarakat.

Selanjutnya, pegiat literasi TBM Rumah Pena, Banten yang juga dikenal dengan sebutan Achi TM ini mengakui banyak ilmu yang ia dapatkan dari para narasumber dan mentor yang luar biasa.

“Kegiatan ini begitu inspiratif, penuh pembelajaran, meningkatkan kompetensi personal demi meningkatkan kualitas literasi pemuda zaman milenial. Pemahaman terkait literasi menjadikan kita memahami proses penciptaan dan pemaknaan sebuah pembelajaran,” ujar Rahmad Azazi Rhomantoro, pegiat di Muda Mengajar.

Citizen Reporter: dr Dito Anurogo MSc (Pegiat literasi Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan, dosen tetap FKIK Unismuh Makassar, dan dokter literasi digital)

Berita Terkait
Komentar
Terkini