Surat Pendukung PSM untuk Ratu Tisha Ini Viral di Media Sosial

Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha/ist

Terkini.id, Makassar – Penundaan laga final Piala Indonesia leg 2 yang direncanakan di stadion Andi Mattalatta Makassar antara PSM vs Persija menjadi bahan pembicaraan netizen di media sosial.

Tertundanya laga antara PSM vs Persija pada pertandingan leg final piala Indonesia diumumkan oleh Sekjen PSSI Ratu Tisha bebebapa saat sebelum laga dimulai, Minggu, 28 Juli 2019.

Salah satu warga Maros, Imam Dzulkifli, misalnya menyampaikan surat terbuka untuk Ratu Tisha.

Surat itu menjadi viral di media sosial, karena berisi curahan hati sekaligus sindiran bernada satire dari seorang fans PSM Makassar untuk Tisha.

Berikut tulisannya:

“Dear, Ratu Tisha

Assalamualaikum. Saya berharap Mbak Tisha sehat-sehat saja di hari Minggu ini. Tadi pagi sempat joging kan?

Sayang kalau tidak. Mbak kan sibuk bukan main. Perlulah sesekali peras keringat. Tetapi jangan lupa lepas kacamatanya. Selain agar tidak mengganggu gerak, pasti tambah manis.

Oh iya, hari ini saya berkali-kali melihat tanda tangan Mbak. Dikirim banyak orang ke Ig. Bagus juga ya tarikan garisnya. Huruf R diiringi garis panjang, lalu dua huruf lagi yang lekukannya menyentuh stempel PSSI.

Ttd yang simpel. Namun sangat tidak sederhana untuk jutaan orang yang ada di Sulawesi Selatan loh, Mbak.

Belasan ribu di antaranya datang langsung ke Stadion Mattoanging. Sebagian dari mereka membeli tiket seharga cicilan sepeda motor sebulan.

Ada teman saya yang mengirit jatah makan siangnya berhari-hari demi menebus kertas yang akan membuatnya duduk di stadion. Hari ini dia gagah sekali pakai baju merah.

Tetapi bukannya hiburan yang dia dan para penonton itu dapat, melainkan kekecewaan.

Saat mereka sudah di dalam setelah sebelumnya berdesakan di pintu masuk, diguyur terik matahari, dengan enteng Mbak mengirim surat itu.

Pertandingan ditunda. Katamu, atas pertimbangan keamanan dan kenyamanan.

Mbak Tisha, kamu sedang mempermalukan kepolisian kami. Dua ribu lima ratus orang berseragam dan menenteng senjata sudah disiagakan. Tidak satu pun pejabat di kepolisian yang menarik surat izin keramaian.

Polda bahkan mengambil alih komando pengamanan. Personel ditambah menjadi 3.500. Ada kendaraan lapis baja, water canon, hingga baracuda. Kalau ada yang rusuh, dihentakkan kepalanya ke situ langsung retak, Mbak.

Lalu kamu simpulkan sendiri aparat keamanan tidak akan sanggup menghadirkan kenyaman? Hanya demi klub yang satu itu. Mereka bahkan sudah di bandara saat ribuan orang di stadion masih membayangkan kick off sebentar lagi sambil mengunyah kacang kulit.

Wajar jika banyak yang bilang anak papa. Bahkan kini anak mama juga, Mama Tisha. Karena apapun yang mereka pinta, pasti dikabulkan. Meski harus melukai seisi satu provinsi yang beradab ini.

Pagi kalian bilang pertandingan tetap dihelat, jelang sore kalian umumkan tidak jadi. Mengapa bukan malam sebelumnya, sesaat setelah beberapa biji batu itu mendarat di bus mereka? Peristiwa yang menurut saya biasa saja, lazim terjadi di banyak tempat.

Konon kamu telah pulang juga ya ke Jakarta, Mbak. Ada yang mengunggah videomu saat di bandara. Rambutmu panjang terurai.

Selamat menyambut hari Senin, Mbak. Oh iya, trofinya ikut dibawa pulang kan? Saya lihat kamu bawa ransel. Mungkin ada di dalam situ ya.

Baiklah, taruh di sana saja. Karena pasti kamu akan mengabulkan lagi permintaan mereka agar leg kedua final Piala Indonesia digelar di luar Makassar. Anak papa mama kan selalu bebas.

Dan tentu kami tak akan rela tim kebanggaan kami mengikuti kemauan mereka, yang kemudian akan dibuat resmi dengan stempel PSSI, stempel yang hari ini juga kamu pakai menempeleng niat baik kami.

Sudahlah. Trofi boleh pergi lagi, seperti di pengujung Liga 1 musim lalu saat anak papa diuntungkan wasit. Namun harga diri kami yang punya. Seutuhnya.

Eh, hampir lupa, saya dengar kamu mencari jodoh seorang lelaki yang mencintai bola. Sesungguhnya saya masuk kriteria itu, Mbak. Di lemari saya banyak baju bola.

Kalau pakai pomade, saya juga cukup gagahlah, Mbak. Dan kita sama-sama berkacamata.

Tetapi maafkan, saya nyaman dengan mamanya Alaikha. Dia juga cantik, hidungnya mancung, namun tidak mengobral tanda tangan dan kredibilitasnya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*Imam Dzulkifli, tinggal tak jauh dari tempatmu tadi menunggu boarding pesawat ke Jakarta, ke rumah anak papa mama*”

Unggahan itu pun viral dikomentari netizen, ada yang berkomentar bahwa itu adalah pembelajaran bagi suporter bagi kesebelasan dan ada netizen yang berkomentar jika di final leg 2 digelar di tempat netral dan PSM tidak datang pasti PSM kena WO dari PSSI.

“Pembelajaran buat supporter klub lainnya, dewasa lah. Dengan kejadian seperti ini sangat merugikan klub itu sendiri. Dan mengkambinghitamkan pihak-pihak terkait,” tulis akun Facebook Satrio A.

Sedangkan pemilik akun Facebook Ardy Wartheandto menulis: “kalau misalkan PSSI suruh bertanding di luar maksar terus PSM ngga mau menurutinya pasti pasti kena WO , anak mamah kan punya hak …”

Berita Terkait
Komentar
Terkini