Realisme Perang dan Kelangsungan Sejarah

Realisme Perang dan Kelangsungan Sejarah

A
HZ
Admin
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Dalam Perang Hunain, jumlah besar tidak menjamin kemenangan (QS. At-Taubah: 25). Superioritas kuantitatif, teknologi, atau retorika tidak otomatis memperpanjang umur sejarah. Yang menentukan adalah kejernihan membaca momentum dan soliditas internal.

Bahkan ketika perang tak terhindarkan, Nabi menetapkan etika yang ketat: tidak membunuh non-kombatan, tidak merusak tanaman, tidak menghancurkan rumah ibadah. Orientasi perang bukan penghancuran total, melainkan perlindungan komunitas. Dan ketika peluang perdamaian terbuka, beliau segera mengambilnya. Perjanjian Hudaibiyah menunjukkan bahwa stabilitas jangka menengah lebih bernilai daripada kemenangan simbolik sesaat. Dari situ lahir konsolidasi yang justru memperkuat posisi umat Islam di masa depan.

Dari seluruh rangkaian itu tampak pola yang konsisten: ketegasan eksternal selalu diimbangi dengan konsolidasi internal; pertahanan militer berjalan seiring diplomasi; dan setiap keputusan ditempatkan dalam horizon keberlanjutan sejarah, bukan sekadar kepuasan emosional hari ini.

Dalam konteks Iran, pelajaran ini membawa arti tersendiri. Membalas serangan bisa menjadi keniscayaan untuk menjaga daya tangkal dan martabat nasional. Namun pembalasan tidak identik dengan eskalasi tanpa batas. Ia dapat dirancang secara terukur, cukup untuk menunjukkan kapasitas pertahanan, tetapi tidak sampai membuka perang total yang menguras energi internal dan mengancam masa depan bangsa.

Dalam perspektif _maqaṣid al-syariah,_ menjaga jiwa (حفظ النفس) dan menjaga stabilitas sosial adalah prioritas. Negara hadir demi rakyatnya. Nasionalisme yang matang bukan sekadar keberanian membalas, tetapi kebijaksanaan memastikan bahwa pembalasan itu tidak mengorbankan keberlanjutan bangsa sendiri.

Baca Juga

Hannah Arendt mengingatkan bahwa kekuasaan bertumpu pada legitimasi dan dukungan kolektif, bukan semata pada kekerasan. Ketahanan sejati lahir dari kepercayaan rakyat, soliditas internal, serta kemampuan membangun jejaring diplomatik yang rasional. Dalam situasi diserang, kedewasaan politik diuji: apakah respons memperkuat legitimasi internal dan posisi eksternal, atau justru membuka ruang keretakan baru.

Pada akhirnya, pilihan strategis bukan sekadar antara membalas atau tidak membalas. Pilihan yang lebih mendasar adalah bagaimana merespons serangan dengan tetap menjaga masa depan. Sejarah dakwah Nabi Muhammad saw menunjukkan bahwa bahkan dalam perang defensif, tujuan akhirnya adalah perdamaian yang bermartabat dan kelangsungan komunitas.

Peradaban tidak runtuh karena ia diserang, tetapi karena gagal mengelola respons terhadap serangan. Dan dalam etika tanggung jawab seperti itulah, realisme menjadi bentuk tertinggi dari keberanian politik. Yakni keberanian untuk membela diri tanpa kehilangan arah sejarahnya.

Makassar, 1 Maret 2026.

Prof. Dr. Mustari Mustafa, S.Ag., Mubalig IMMIM dan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Sulawesi Selatan

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.