Rocky Gerung Sebut APBN Jadi Penentu Keberlangsungan Pemerintahan Jokowi

Rocky Gerung Sebut APBN Jadi Penentu Keberlangsungan Pemerintahan Jokowi

I
R
Indah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Pengamat politik Rocky Gerung kembali memberikan pendapatnya tentang pemerintahan era Presiden Jokowi. Menurutnya Presiden Jokowi akan tumbang pada tahun 2022 ini.

Melalui saluran YouTube Refly Harun, Rocky Gerung menyampaikan analisanya tentang situasi Indonesia saat ini.

Berdasarkan pengamatan Rocky Gerung, kondisi politik dan hukum Indonesia ini masih kelabu.

“Jadi di dalam kerangka itu kita evaluasi politik dan hukum kita hari ini, sebetulnya kita bisa terangkan bahwa langit masih mendung,” ujar Rocky Gerung, dikutip dari YouTube Refly Harun, Selasa 27 September 2022.

Lebih lanjut, mantan pengajar di Universitas Indonesia ini menyebutkan Indonesia masih diselimuti oleh badai yang akan menghantam di awal tahun 2022.

Baca Juga

Tidak hanya masalah kondisi politik dan hukum Indonesia, Rocky Gerung memprediksi tahun 2022 menjadi tahun yang paling berbahaya bagi kelangsungan APBN tanah air.

Diketahui jumlah utang Indonesia saat ini yaitu mencapai Rp7.163,12 triliun atau sama dengan 39,56 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

“Karena kita tahu 2022 itu adalah tahun anggaran yang paling berbahaya, hutang akan meningkat, sementara pendapatan pajak menurun,” kata Rocky Gerung.

Oleh karena itu, pemerintahan keberlangsungan Presiden Jokowi akan sangat bergantung pada APBN.

“Jadi anggaran 2022 itu yang akan memastikan apakah rezim ini berlanjut apa enggak, karena itu tadi kita mulai dengan istilah rezim fatigue, kelelahan rezim,” tutur Rocky Gerung.

Sebagai informasi, pada bulan Juli 2022 lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan seluruh negara anggota G20 (termasuk Indonesia) soal utang yang semakin menumpuk.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh IMF, utang selama masa pandemi Covid-19 dinilai semakin tinggi dan harus segera diatasi.

IMF juga mewanti agar tidak terjadinya gagal bayar akibat terlalu menyepelekan utang tersebut.

Disisi lain, Luky Alfirman selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berpendapat bahwa utang yang dimiliki Indonesia dalam batas aman.

Luky Alfirman mengatakan rasio utang terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pun masih stabil di bawah 60 persen.

“Sehubungan dengan kondisi Indonesia terkait concern IMF tentang beban utang global, dapat kami sampaikan bahwa pengelolaan utang pemerintah dilakukan secara prudent dan berhati-hati,” ucap Luky Alfirman.

Luky Alfirman menegaskan pengelolaan utang Indonesia selama ini dilakukan dengan cara pembayaran utang selalu tepat waktu sesuai tanggal jatuh tempo.

“Ditambah dengan upaya-upaya untuk melakukan reprofiling utang, sehingga tidak terlalu tinggi pada satu waktu tertentu. Misalnya dengan melakukan debt switch dan buyback untuk SBN dan reprofiling pinjaman luar negeri melalui debt swap dan/atau konversi pinjaman ke mata uang dengan tingkat bunga lebih lunak (loan conversion),” pungkas Luky Afirman.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.