Soal Anies, Ruhut: Ingat Dia Jadi Gabenar dengan SARA, Fitnah, Ujaran Kebencian, Teror Melawan Ahok

Terkini.id, Jakarta – Politisi PDIP, Ruhut Sitompul menanggapi hasil survei bahwa elektabilitas Partai NasDem (Nasional Demokrat) merosot usai mengusulkan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres).

Ruhut Sitompul mengingatkan bahwa Anies Baswedan menjadi Gabenar dengan SARA, fitnah, ujaran kenbencian, dan teror melawan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Sudah kubilang jangan kau coba permainkan hati Rakyat,” kata Ruhut Sitompul melalui akun Twitter @ruhutsitompul, seperti dikutip Terkini.id pada Senin, 27 Juni 2022.

Baca Juga: Prabowo Maju Pilpres, Chusnul Chotimah Soroti Anies: Kemakan Omongan Sendiri!

“Jangan bisa menyesal nanti ingat dia jadi Gabenar dengan SARA Fitnah Ujaran kebencian Teror melawan Ahok yang kau dukung ha ha ha,” sambungnya.

Dilansir dari Suara, survei yang dilakukan Polmatrix Indonesia menyebutkan terjadi penurunan elektabilitas Partai NasDem, dari 5,1 persen pada 11—20 Maret 2022, menjadi 3,8 persen.

Baca Juga: Tak Sabar Tunggu Anies Baswedan Lengser Dari Jabatannya, Ferdinand Hutahaean:...

“Setelah mengusung Anies sebagai salah satu capres (calon presiden), elektabilitas Nasdem merosot hingga di bawah ambang batas parlemen,” ucap Direktur Eksekutif Polmatrix Indonesia, Dendik Rulianto dalam keterangan pers di Jakarta, pada Minggu, 26 Juni 2022.

Dendik menilai bahwa pilihan NasDem sebetulnya sangat rasional mengingat figur Anies Baswedan menjadi alternatif bagi sebagian publik Indonesia.

Ia menjelaskan, awalnya arah dukungan NasDem kepada Anies memang memberi insentif elektoral, seperti yang tergambar pada tingginya elektabilitas sejak Desember 2021.

Baca Juga: Tak Sabar Tunggu Anies Baswedan Lengser Dari Jabatannya, Ferdinand Hutahaean:...

Namun, ketika dukungan resmi diberikan oleh Nasdem, elektabilitas partai ini justru mengalami penurunan tajam.

Seperti diketahui, Ketua Umum Nasde, Surya Paloh pernah mengusulkan duet Anies-Ganjar untuk mengakhiri polarisasi di tengah masyarakat.

Akan tetapi, hal itu sangat bergantung pada koalisi yang terbangun dengan partai-partai lain, terlebih Ganjar Pranowo masih terikat sebagai kader PDIP.

“NasDem masih harus membuktikan apakah pencapresan Anies tidak mengancam semangat restorasi yang diusung,” kata Dendik.

Adapun posisi unggul elektabilitas partai politik masih ditempati oleh PDIP dengan elektabilitas 17,8 persen, disusul Gerindra sebesar 12,4 persen.

Selanjutnya, terdapat PKB (8,8 persen), Demokrat (8,5 persen), Golkar (7,3 persen), PSI (5,4 persen), dan PKS (5,1 persen).

Dengan demikian, hanya tujuh partai politik yang elektabilitasnya berada di atas ambang batas 4 persen.

“Selain Golkar, dua anggota KIB masih di bawah ambang batas, yaitu PPP (2,6 persen) dan PAN (1,6 persen),” ujar Dendik.

Di luar partai-partai tersebut, tersisa partai-partai kecil maupun yang baru dibentuk untuk mengikuti Pemilu 2024.

Elektabilitas tertinggi partai-partai kecil ini masih di kisaran 1 persen, yaitu Partai Ummat (1,4 persen), Gelora (1,2 persen), dan Perindo (1,0 persen).

Partai lainnya, yakni Hanura (0,6 persen), PBB (0,3 persen), PKPI (0,1 persen), dan Berkarya (0,1 persen).

Garuda dan Masyumi Reborn nihil dukungan, sedangkan partai-partai lainnya hanya mendapat dukungan 0,9 persen.

Di sisi lain, masih terdapat 21,3 persen yang menyatakan tidak tahu/tidak jawab.

Survei Polmatrix Indonesia pada tanggal 16—21 Juni 2022 terhadap 2.000 responden mewakili 34 provinsi.

Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error survei sebesar 2,2 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Bagikan