Saat Corona Mulai Menyebar, Wuhan Sempat Gelar Pesta yang Dihadiri 40.000 Warga

Terkini.id, Jakarta – Enam minggu setelah virus corona baru yang mematikan menyebar dari sebuah pasar daging segar, warga Distrik Baibuting di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, menyiapkan pesta jamuan makan massal.

Pesta ini adalah tradisi tahunan. Untuk penyelenggaraan yang ke-20 pada tahun ini, Kota Wuhan berniat memecahkan rekor dunia untuk jumlah makanan yang disajikan dalam sebuah jamuan.

Dan meja-meja panjang pun mengisi 10 lokasi di distrik itu dengan 13.986 piring berisi makanan di atasnya. Media lokal menyebut semua makanan itu disiapkan melibatkan 40 ribu keluarga yang banyak di antaranya kemudian datang ke meja-meja itu dan bersuka cita dalam pesta. Wajah-wajah ceria terekam dalam aneka jepretan kamera.

Keceriaan itu cepat menjadi malapetaka. Distrik Baibuting kini menjadi simbol kelalaian Pemerintah Cina dalam mengantisipasi wabah virus corona 2019-nCoV. Virus itu mencabik Distrik Baibuting dan per Senin malam, 10 Februari 2020, virus telah membunuh 1.016 orang dan membuat sakit 42.638 orang di daratan Cina. Virus bahkan telah menyebar ke 27 negara lain dan telah menyebabkan dua tewas.

Distrik Baibuting terus menyumbang angka infeksi dari virus tersebut untuk kasus di Wuhan dan Hubei. Tulisan berbunyi ‘Blok Demam’ tersebar di 57 rusun di distrik itu.

“Saya merasa sangat beruntung tidak ikut dalam pesta jamuan makan itu. Waktu itu saya harus menjaga dua anak dan kerepotan kalau harus pergi ke sana,” kata Sally Zhang, warga distrik itu dikutip dari tempo.co. “Saat ini ada lebih dari 10 tetangga saya yang positif infeksi virus corona.”

Tiga minggu sebelum tradisi pesta jamuan makan itu, otoritas Wuhan sebenarnya telah diinformasikan tentang virus misterius yang menyebar di udara kota itu. Tapi respons yang dikeluarkan adalah tekanan untuk menutupi temuan itu. Pemerintah Kota Wuhan dituding malah berusaha menutupi dan mengabaikan keseriusan dari potensi wabahnya.

Yang dianggap paling fatal adalah, Wuhan malah memfasilitasi eksodus sekitar lima juta warganya seminggu sebelum kota itu akhirnya dinyatakan dikarantina pada 22 Januari lalu, atau tak sampai sepekan sebelum pesta di Baibuting. “Sudah jelas Pemerintah Kota Wuhan telah menggangap sepele penyakit ini,” kata seorang staf penasihat senior di pemerintah pusat Cina.

Virus telah menyebar dalam penyakit pneumonia yang tidak jelas penyebabnya sejak awal Desember 2019. Tapi beberapa pernyataan resmi yang dibuat Pemerintah Kota Wuhan tak sejalan dengan kesaksian para dokternya. Klaim yang berulang kali disampaikan adalah bahwa penyebaran virus dari manusia ke manusia terjadi sangat terbatas.

Zhou Xianwang, wali kota dari wilayah berpenduduk 11 juta jiwa itu, bahkan masih mengatakan itu dalam siaran di televisi pada 21 Januari saat jumah korban sudah mencapai 312 kasus. “Alasan kenapa kami masih menyelenggarakan tradisi jamuan makan massal di Baibuting adalah penilaian awal bahwa epidemik menyebar terbatas di antara mausia. Jadi memang tidak ada cukup peringatan,” katanya.

Faktanya, peringatan sudah ada setidaknya seminggu sebelum virus diketahui bisa menyebar antar manusia. Dalam sebuah wawancara denan situs berita kesehatan Huxijie pada 27 Desember 2019, ahli penyakit paru-paru di RS Tongji di Wuhan, Zhao Jianping, menyatakan telah mendiagnosa beberapa pasien yang kemungkinan terinfeksi virus corona.

“Kami tidak mengira penyakit ini bakal parah. Tapi kami yakin ini bisa menyebar antar manusia,” katanya dalam wawancara. Zhao mengaku telah langsung melapor ke Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Wuhan pada saat itu.

Komisi Kesehatan Masyakarat Wuhan (WMHC) juga menyatakan telah melapor langsung ke wali kota pada 16 Januari 2020 bahwa virus diduga telah menular antar manusia. Itu artinya dua hari sebelum pesta di Baibuting dan enam hari sebelum Wuhan diisolasi. Sebuah makalah di New England Journal of Medicine menyebut, sudah ada penularan antar manusia yang kontak dekat sejak pertengahan Desember di kota itu.

Menambah bukti Pemerintah Kota Wuhan yang berusaha menutupi keseriusan penyakit, Li Wenliang, dokter di Rumah Sakt Pusat Wuhan juga telah menginformasikan rekan-rekan sejawatnya dalam sebuah grup percakapan daring pada 30 Desember 2019 tentang tujuh kasus pneumonia misterius. Tapi pada hari yang sama pula, WMHC melarang rumah sakit-rumah sakit membuat pernyataan kepada publik.

Li bahkan sempat dilaporkan ke kepolisian Wuhan yang memaksanya meneken dokumen berisi pengakuan kalau pernyataannya tidak akurat. Sedikitnya tujuh petugas medis lain mendapat peringatan bersama Li untuk tuduhan meniupkan rumor. Li Wenliang belakangan meninggal pada 1 Februari lalu. Dia diduga tertular virus corona dari pasien yang dirawatnya.

Komentar

Rekomendasi

Jadi Primadona, Jemaah Haji-Umrah Indonesia Belanjakan 2 Miliar Riyal di Saudi Tiap Tahun

Cegah Virus Corona, Garuda Indonesia Kandangkan GA858 Rute Denpasar-Shanghai

Heboh Ribuan Burung Gagak Beterbangan di Atas Kota Wuhan, Tempat Virus Corona Muncul

Diwawancarai Reporter BBC, Nada Remaja Eks ISIS Nangis Ingin Pulang dan Minta Maaf ke Warga Indonesia

Tencent Klarifikasi Gambar Palsu Epidemic Tracker, Pelaku Akan Diberi Tindakan Hukum

Cerita Haru di Balik Foto OrangUtan Tawarkan Bantuan ke Petugas

Peternak dari Uighur Jual Kudanya untuk Bantu Warga di Wuhan

Hitung Volume Penerbangan dari China, Ilmuwan: Seharusnya Virus Corona Sudah Ada di Indonesia

Begini Keadaan Terakhir Ratusan WNI Awak Kapal Pesiar yang Ikut Dikarantina di Jepang

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar