Masuk

Saat JK Pakai Uang Belanja Keluarga demi Biayai Proyek Pembangkit EBT

Komentar

Saat memberi sambutan dalam peresmian dua PLTA di Poso, 22 Februari lalu, Jusuf Kalla tidak lupa menyinggung nama istrinya, Mufidah Kalla. JK perlu memberitahukan informasi itu kepada para hadirin, termasuk Presiden Jokowi, yang hadir meresmikan PLTA, hari itu. 

Terkini.id – Dari dalam ruang Saoraja Ballroom Wisma Kalla, Selasa 4 Oktober 2022 lalu, Solihin Kalla memantik semangat para CEO dan pelaku ekonomi yang hadir di dalam forum tersebut, untuk selalu optimis. 

Memakai kemeja batik putih, Presiden Direktur KALLA itu tidak sepakat dengan moderator dan pengamat ekonomi tentang pemikiran ketidakpastian ekonomi. Kata dia, ketidakpastian itu cuma ada di pemikiran para ekonom.

Baca Juga: JK Ungkap Diler Mobil Terbesar dan Terpandang di Sulsel Bukan Haji Kalla

Bagi pengusaha, menurut dia, semua rencana dan pemikiran harus pasti. “Bagi kami, di swasta, kita harus selalu berpikir pasti. Kalau (berpikir) tidak pasti, bukan pemimpin bukan CEO bukan pengusaha, bukan entrepreneur. Bukan saudagar namanya,” ungkap Solihin saat berbicara dalam CEO Business Forum yang digagas Kalla Group, Celebes Media Group dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) itu.

Di forum itu, data-data yang disajikan terkait ekonomi dunia memang sedang tidak bagus. Terjadi ketidakpastian, menurut ekonom. Krisis melanda beberapa kekuatan besar di dunia, seperti Amerika, Eropa dan China akibat covid-19 dan perang Rusia-Ukraina. 

Wijayanto Samirin, Pengamat Ekonomi dalam forum tersebut mengungkap inflasi global yang tembus 6 persen (year-on-year) pada September 2022, beberapa negara mencatatkan rekor inflasi tertinggi dalam 30-50 tahun terakhir, hingga harga komoditas, energi hingga pangan yang naik masing-masing 92 persen, 64 persen dan 127 persen dalam 2,5 tahun terakhir.

Baca Juga: HUT ke-27 Tahun, Kalla Beton Siap Berpartisipasi untuk Pembangunan IKN

Namun dalam forum tersebut, Solihin yang mewakili KALLA memberi optimisme untuk para pengusaha yang hadir. Menurut dia, meskipun kondisi global sedang terganggu, seharusnya pelaku usaha di Indonesia tidak perlu pesimis.

“Penduduk kita di Indonesia 270 juta. Jadi otomatis marketnya besar, artinya kita jualan di dalam negeri aja laku,” ungkap putra Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla itu.

Di samping 270 juta masyarakat Indonesia, Solihin menerangkan sumber daya alam mineral sangat banyak, laut sangat besar, sementara khusus Sulawesi Selatan, merupakan pemasok besar terbesar di dalam negeri. 

“Itulah optimisme-optimisme yang harus kita punya sebagai pemimpin, sebagai swasta,” ungkap dia. 

Baca Juga: Kalla Beri Apresiasi untuk Ribuan Karyawannya lewat Kalla People Fest 2023

“Kalau orang bilang krisis, maka inilah saatnya pengusaha berkreasi. Biasanya setiap krisis itu kenikmatan bagi pengusaha, karena ini saatnya berkreasi, shifting,” ungkap dia lagi. 

Dari semangat dan optimisme itu, Solihin kemudian membeberkan rencana besar KALLA yang dahulunya dikenal dengan bisnis jualan mobil, kini menjadi perusahaan yang bakal dikenal sebagai grup perusahaan penggerak energi hijau di Indonesia.

Energi Hijau dan Terbarukan

Pemerintah Indonesia, bersama legislatif saat ini tengah menyusun rancangan undang-undang penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 23 persen, pada 2025 mendatang. 

Pembangkit listrik dengan tenaga fosil atau batu bara sudah harus ditinggalkan. Asap pembakaran batu bara sudah terlalu besar mencemari udara, membuat perubahan iklim yang besar.

Negara-negara khususnya Indonesia telah menerima kesepakatan, emisi karbon harus diturunkan hingga nol paling tidak tahun 2060 mendatang, demi kehidupan berkelanjutan yang lebih baik di masa depan. 

Di sisi lain, kebutuhan listrik akan terus meningkat. Lubang colokan tidak cuma untuk mengisi baterai ponsel, laptop atau barang elektronik lainnya. Kompor juga bakal butuh colokan, kelak sebagian besar kendaraan juga butuh colokan listrik.

Tujuh belas tahun lalu, KALLA sudah memperkirakan ini. Itu menjadi alasan founder Kalla Group, Jusuf Kalla menggenjot pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Poso, Sulawesi Tengah, 2001 silam.

“Kami sekarang fokus di green energy, dari awalnya trading, berdagang, diler Toyota,” ungkap Solihin.

Dia pun mengungkapkan bagaimana KALLA mengubah bisnisnya ke energi hijau sejak pertengahan 1990-an. 

“Pertengahan 1990-an itu, Kalla Group menjadi partner KSO Telkom dengan membuat jaringan sambungan telepon dari Bali sampai Papua. Kita kerjakan kabel-kabel itu. setiap rumah harus punya telepon. Pada saat akhir 90-an kami merasa teknologi begitu kencang dan terjadi perubahan wire telepon menjadi seluler. 

Lalu awal 2000 kita putuskan berhenti bisnis ini, kita shifting, waktu itu pada saat itu kita harus shifting. Setelah kita mencari ide, kita temukan pembangkit listrik tenaga air ini yang sangat bertahan, tidak mengalam disrupsi. 

Selain itu, Indonesia punya banyak alam yang mendukung , dan teknologi PLTA ini sudah ada sejak seratus tahun lalu, dan kabel listrik tegangan tinggi pun tidak akan berubah dalam 100 tahun lagi. Listrik tidak akan wireless,” ungkap dia.

Kini, menurut Solihin, total kapasitas listrik dari tiga pembangkit KALLA di Sulawesi mencapai 600 megawat. Dia menargetkan, dua tahun lagi kita akan meningkat menjadi 1,2 gigawatt atau 1.200 megawatt dengan pembangunan beberapa pembangkit.

Pembangkit Listrik KALLA

Di usia ke-70 tahun, KALLA telah memiliki tiga pembangkit besar, di antaranya Poso 1 dan Poso 2 di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah dengan kapasitas 515 megawatt, serta Malea Hydropower Tana Toraja berkapasitas 90 megawatt.

Saat ini, KALLA sedang mengembangkan PLTA di Kerinci Jambi, Mamuju dan Poso Energy 3 di Poso. Upaya ini menjadi persembahan KALLA untuk mendukung target bauran energi baru terbarukan hingga 23 persen pada tahun 2023 mendatang, dan mendukung lingkungan hijau.

Adapun dua PLTA KALLA, yakni di Poso dan Tana Toraja, telah diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Februari 2022 lalu. Dua PLTA ini menelan investasi hingga Rp17,1 triliun. Menariknya, pembangkit listrik KALLA adalah 100 persen karya anak bangsa, dengan menggunakan SDM lokal.

Jusuf Kalla 32 Kali ke Poso Demi Pembangkit Listrik

Saat memberi sambutan dalam peresmian dua PLTA di Poso, 22 Februari lalu, Jusuf Kalla tidak lupa menyinggung nama istrinya, Mufidah Kalla. 

JK perlu memberitahukan informasi itu kepada para hadirin, termasuk Presiden Jokowi, yang hadir meresmikan PLTA, hari itu. 

Bahwa, sebagian biaya untuk membangun PLTA yang nilai investasinya belasan triliun rupiah itu, adalah duit belanja rumah tangga keluarga Kalla.

“Minta maaf, ada 5 ‘Kalla’ yang hadir. Ada Achmad Kalla, Suhaedi Kalla, Solihin dan istri saya Mufidah. Karena awalnya belanja rumah tangga pun dikasih untuk ini (investasi pembangkit listrik). 

Uang rumah tangga dipakai menyumbang ini, biayanya sekian triliun uang habis tapi semangat tidak hilang untuk bangsa ini. Saya yakin kita bisa menjalankannya dengan semangat dan kemauan yang tinggi,” ucap JK.

Ya, dua PLTA tersebut, menurut JK, dibangun dengan menggunakan sebagian modal KALLA dan sebagian menggunakan pembiayaan hasil konsorsium Bank Mandiri, BNI, BRI dan Panin Bank. 

“Mula mula ini dikerjakan dengan dana sendiri sampai 50 persen. Nanti setelah itu, PLN baru percaya, pembiayaan juga. Jadi butuh perintisan yang tahan banting,” ucap JK.

Ada cerita lain yang disampaikan JK terkait awal mula KALLA membangun pembangkit listrik. Tahun 2001 silam, JK mendapat tugas untuk menyelesaikan konflik di daerah Poso.

“Tahun 2001 Poso berhasil kita selesaikan konfliknya dengan baik. Petanyaannya bagaimana mencegah konflik jika kesejahteraan masyarakat tidak naik, ekonominya nda jalan. Salah satu kekurangan Sulteng itu listrik tidak bisa menggerakkan industri dan rumah tangga. Karena itu, kita bangun pembangkit listrik tenaga air,” ungkap dia.

Dia kemudian menceritakan, saat mulai membangun PLTA tersebut, JK harus mengunjungi Poso sampai 23 kali. “Itu untuk memberi support moral kepada masyarakat. Kita datang untuk makan bersama-sama,” ungkap dia.