Masuk

Satgas Covid-19 Ungkap Dampak Mengerikan Omicron, Berani Baca?

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Satgas Covid-19 ungkap dampak mengerikan Omicron, berani baca? Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengungkapkan jika lonjakan kasus di Tanah Air dapat tembus 400 ribu kasus seiring tingginya mobilitas masyarakat, protokol kesehatan (prokes) yang rendah, dan munculnya varian baru yang lebih menular dibandingkan Delta, yaitu Omicron.

Kendati Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah tidak menyebut varian itu Omicron, akan tetapi ia mengatakan kondisi parah akan sangat bergantung terhadap faktor-faktor tersebut.

Dewi menjelaskan, lonjakan kasus bisa mencapai sekitar 70 ribu kasus dengan kondisi kekebalan kelompok belum terbentuk, mobilitas penduduk tinggi, dan kepatuhan protokol kesehatan cukup baik.

Baca Juga: Perayaan Akhir Ujian Sekolah Menewaskan 21 Siswa di Klub Malam Afrika Selatan

Jika tidak ada varian baru yang lebih menular, namun mobilitas masyarakat tetap tinggi sementara protokol kesehatan dan cakupan vaksinasi rendah, maka jumlah kasus aktif diperkirakan melonjak mencapai 260 ribu kasus pada akhir Desember 2021 hingga Januari 2022.

Kendati demikian, Dewi juga memprediksi potensi lonjakan kasus pada akhir tahun ini tidak akan seburuk yang terjadi pada Juli 2021, seperti ketika Indonesia diterjang penyebaran varian Delta yang masif.

“Puncak kita mungkin tidak akan lebih dari ini (puncak kasus pada Juli 2021), karena vaksinasinya sudah jauh lebih luas cakupannya dibandingkan libur Idulfitri lalu, jadi kasus aktifnya naik tetapi mungkin angkanya sampai di kisaran 400 ribu saja,” papar Dewi melalui diskusi virtual pada Senin 29 November 2021.

Baca Juga: Berikut Tiga Bocoran Vaksin Corona yang Ampuh Lawan Varian Omicron

Ia menambahkan, perhitungan dan skenario tersebut dibuat sebelum muncul varian Omicron yang kemungkinan jauh lebih menular dibandingkan varian Delta dan telah dilabeli sebagai variant of concern (VOC) Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

WHO sendiri telah mengumumkan, daya tular dari varian Omicron masih dipelajari lebih lanjut dari para peneliti, namun situasi yang terjadi di Afrika Selatan (Afsel) menunjukkan angka infeksi melonjak akibat munculnya varian ini.

Oleh karena itu, Dewi mengingatkan ancaman varian baru ini harus diwaspadai dan penurunan kasus yang terjadi di Indonesia saat ini, tidak boleh membuat pemerintah maupun masyarakat lengah.

“Yang harus diingatkan adalah konsistensi, jangan sampai lupa. Mungkin kasus kita turun, tetapi bukan berarti kita sudah aman. Virus ini pintar banget, tiba-tiba muncul varian baru yang membuat ‘dia’ (Omicron) lebih menular, berpengaruh pada efektivitas pelayanan kesehatan di lapangan dan sebagainya,” imbaunya.