Sebagai Aktor Perdamaian, Pemuda Milenial Makassar Butuh Literasi

Perdamaian
Forum Deliberasi Jaringan Pemuda untuk Perdamaian Kota Makassar

Terkini.id, Makassar – Ketua Yayasan Masagena Center Samsang menyerukan partisipasi pemuda sebagai aktor perdamaian dalam menangani pelbagai persoalan yang kerap kali berulang.

Hal itu ia sampaikan pada forum Deliberasi Jaringan Pemuda untuk Perdamaian Kota Makassar.

Menurut Samsang, perlunya perhatian khusus melalui program pemberdayaan pemuda dalam membangun demokrasi tanpa kekerasan.

“Pemuda adalah yang paling banyak terlibat dalam konteks kekerasan, baik sebagai pelaku, maupun sebagai korban,” kata Samsang saat ditemui di Hotel Almadera, Jalan Somba Opu, Senin, 20 Mei 2019.

Program tersebut, kata dia, sudah berjalan sejak tahun 2017 silam. Samsang menyebut hanya ada 3 di Indonesia, yakni Makassar, Jakarta, dan Papua.

“Jaringan pemuda untuk perdamaian, Melalui aksi kampanye di tempat strategis, melakukan FGD, dan studi kasus untuk menularkan virus-virus perdamaian,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Samsang menyebut mengundang 80 jaringan dari berbagai latar belakang yang berbeda untuk mendiskusikan peran pemuda sebagai aktor perdamaian.

Dalam risetnya, Samsang memetakan konflik yang terjadi di Kota Makassar sering kali berulang. Hal tersebut, kata dia, karena selama ini konflik ditangani bukan di tingkat akar.

“Sesungguhnya pemuda membutuhkan ruang berekspresi,” terangnya.

LP3ES kritik aparat keamanan yang sering gunakan gas air mata

Projek LP3ES Erwan Halil mengatakan kekerasan terjadi akibat penggunaan instrumen kekerasan oleh masing-masing pihak. Ia mengkritik aparat keamanan yang sering kali menggunakan gas air mata dalam menyelesaikan persoalan.

“Dan mahasiswa pun dengan instrumen seperti bakar ban, dan melakukan provokasi terhadap petugas,” kata Erwan.

Erwan pun memaparkan langkah yang mesti ditempuh dalam pencegahan dini kekerasan dengan membangun paradigma baru penanggulangan konflik, sejak pencegahan sampai penanganan konflik.

“Maka perlunya pelibatan pemuda dalam pemetaan dan monitoring potensi konflik kekerasan,” jelasnya.

Menurut Erwan, partisipasi aktif pemuda dalam membangun narasi perdamaian dan keterlibatan pemuda dalam forum diskusi sangat diperlukan.

“Konflik itu tidak pernah singgle tetapi multifaktor,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Akademisi Unhas Andi M Akhmar berbicara soal generasi muda untuk perdamaian. Ia menyebut pemuda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah bangsa.

“Kata pemuda sangat historis, pemuda berjuang untuk memerdekakan bangsa ini, semangat untuk berjuang melekat pada pemuda,” kata dia.

Akhmar menerangkan hal yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi kondisi pemuda hari ini.

“Refleksi ‘Nasionalisme Kaum Muda Indonesia’ dari waktu ke waktu, penghormatan dan perawatan takdir kebangsaan, membangun strategi kebudayaan untuk kaum muda meniadakan prasangka dan memperbaiki asupan, serta membangun budaya akademik kaum muda, dan juga membangun semua lini kehidupan kaum muda,” paparnya.

Akhmar menekankan persiapan kaum muda sebagai respons terhadap generasi milenial Indonesia yang akan tumbuh mencapai 69 juta pada tahun 2030-2050.

“Hal tersebut sebagai bonus demografi bila Indonesia berhasil mengelola kaum mudanya, dan celakanya akan menjadi bencana demografi bila gagal mengaktifkan peran pemuda,” jelasnya.

Sebagai Akademisi, Akhmar menawarkan jalan melalui jalur kebudayaan dalam membentuk masa depan generasi muda yang berkualitas.

“Generasi muda membutuhkan literasi, kompetensi, dan kualitas masa depan,” tutupnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini