Makassar Terkini
Masuk

Sebelum Ahok Jadi Komisaris, Pertamina Untung Rp 9,5 Triliun

Terkini.id, Jakarta – Perusahaan BUMN, PT Pertamina (Persero) menjadi perbincangan besar di media sosial setelah mencatat kerugian hingga US$ 767,92 juta atau setara Rp 11,13 triliun (kurs Rp 14.500/US$) pada semester I tahun 2020.

Kabar kerugian menjadi heboh lantaran dikaitkan dengan Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama.

Akibat kabar kerugian tersebut, kata kunci ‘Ahok’ menjadi ramai disandingkan dengan narasi dan tautan berita soal kerugian Pertamina Rp 11 triliun tersebut

“Terbukti Ahok bukan siapa2 ( biasa2 aja ),” sebut salah satu netizen, @AcgungN lewat media sosialnya.

Akun lainnya, @BintangTimur27 yang mempertanyakan kenapa Pertamina rugi.

“Padahal Rakyat Sudah Di Peras Kenapa Masih Rugi Koh @basuki_btp, Katanya Dengan Adanya Ente Di Pertamina Semua Mafia Bakal Di Babat Abis?” cuitnya.

Untung Rp 9,5 Triliun

Seperti diketahui, PT Pertamina mengalami kerugian mencapai US$767,91 juta, atau setara Rp11,13 triliun pada Semester I-2020. Angka itu dengan asumsi kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat.

Angka tersebut sangat berbeda dengan perolehan sebelum Ahok menjabat .

Ahok sendiri resmi menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina sejak November 2019 lalu.

Jika dibandingkan dengan keuangan Pertamina pada periode yang sama tahun lalu, atau sebelum Ahok menjabat, perusahaan minyak pelat merah itu mampu menghasilkan laba sebesar US$659,95 juta atau sekitar Rp9,56 triliun.

Saat itu, ‎Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Mansury mengatakan, perseroan mencatat pencapaian laba bersih semester 1 2019 mengalami peningkatan 112 persen dibanding periode yang sama pada 2018.

Pencapaian laba bersih semester 1 2019‎ tersebut sebesar USD 660 juta atau Rp 9,4 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebear USD 311 juta atau Rp 4,4 trilin

Mengutip dari liputan6, ‎Pahala mengungkapkan, peningkatan laba bersih Pertamina disebabkan penurunan harga minyak dunia sepanjang periode tersebut dengan rata-rata USD 63 per barel, sehingga membuat biaya produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami penurunan.

‎”Memang komposisi signifikan adalah minyak mentahnya kita produksi BBM tapi crude diproduksi kilang kita,” tuturnya