Masuk

Sebut Orang Indonesia Mudah Percaya, Yahya Waloni: Saya Saja dari Kafir Langsung Dicap Ustaz

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Pendakwah Yahya Waloni menyebut masyarakat Indonesia mudah percaya. Ia memberi contoh bahwa ia saja yang mualaf langsung disebut Ustaz.

Pernyataan Yahya Waloni itu dapat dilihat dalam video berjudul ‘Kafir di Dunia Bisa Senang-Senang, Padahal Calon Neraka | Yahya Waloni Terbaru | Termometer Islam’ yang diunggah pada Rabu, 14 April 2021.

Awalnya, Yahya Waloni menceritakan soal perubahannya dari orang ‘kafir’ menjadi orang Islam.

Baca Juga: Muhammad Kece Resmi Divonis 10 Tahun Penjara, Warganet Bandingkan Dengan Yahya Waloni: Hukum di Negeri Ini Sudah Tidak Ada Artinya Lagi!

Katanya, wajah, watak, hingga posturnya tetap sama baik sebelum maupun sesudah masuk Islam.

Namun, jiwanya berubah sehingga lebih mudah mengerti hadis dan juga melafalkan ayat-ayat Alquran.

“Saya dari kafir masuk Islam. Wajah saya, watak saya, postur tubuh saya begini, nggak pernah berubah. Yang mana yang berubah? Di dalam jiwa saya,” ujar Yahya Waloni.

Baca Juga: Lagi! Megawati Sindir Pemuda Indonesia, Ustadz Yahya Waloni: Waspada! Nenek-nenek itu Biangkerok Perpecahan di Indonesia

“Yang dulunya tidak mengerti hadis, yang dulunya sulit ayat-ayat Qur’an,” lanjutnya.

Yahya Waloni lantas membandingkan orang muslim sejak lahir dengan mualaf sepertinya.

“Yang baca Alquran tadi, orang yang sudah biasa karena dia muslim, dia dari nenek moyang. Waktu setan mendengar di bawah pohon pisang sana, setan bilang begini ‘ya kalau ini, nggak bahaya, biasa, sudah sering saya dengar.’ Ah, begitu ini mik diserahkan kepada saya, lari itu setan di bawah pohon pisang itu,” kata Yahya Waloni yang disambut tawa para jemaah.

“Ini, kata setan, ini yang paling saya takut. Kenapa? Karena ini bekas kawan saya dulu,” lanjutnya disambut tawa keras dan tepuk tangan.

Baca Juga: Berani! Pria Ini Tegas Mengatakan Jika UAS dan Yahya Waloni Bangsat

Yahya Waloni pun melanjutkan bahwa perubahan iman seseorang itu bukan terlihat dari luar.

“Jadi perubahannya bukan dari luar. Kata orang Arab ‘Yastakhfuuna minannaasi walaa yastakhfuuna minallahi’ (artinya) kau bersembunyi di hadapan manusia, kau tidak mampu bersembunyi di hadapan Allah,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yahya pun menyinggung bagaimana tampilan luar sering dijadikan paramater taubat seseorang.

“‘Oh dia sudah berubah, waktu sebeluk Ramadhan nggak pakai jenggot, sekarang sudah ada jenggot. Celananya dulu panjang, sekarang sudah begini (berdiri lalu menangkat jubahnya hingga kakinya terlihat). Sudah bertobat dia.’ Woi kawan, orang bertobat bukan (dilihat) dari jenggot. Kalau ukurannya jenggot, Yahudi duluan masuk surga karena Yahudi jenggotnya sampai di perut,” tandas Yahya Waloni.

Ia lantas mengaitkan bahwa ada juga orang ‘munafik’ yang berpuasa, memakai sorban, dan mengaku ustaz.

“Kemarin, satu bulan, kelompok-kelompok munafik puasa, ada istilah buka bersama, saya nonton TV, innalillahi. Habis bicara A jadi B. Ada satu yang sering pakai sorban seperti ban pespa putih ke mana-mana (sambil menggerakkan tangan mengelilingi kepalanya, seolah melilit sorban). Ngaku-ngaku ustaz,” ujar Yahya Waloni.

Pada bagian inilah, Yahya Waloni menyebut bahwa orang Indonesia sangat mudah percaya padahal watak orang gampang berubah.

Contohnya ia sendiri yang mualaf namun langsung disebut ustaz oleh masyarakat Indonesia.

“Hei kawan, ini orang Indonesia ini, suka sekali percaya. Saya saja dari kafir, langsung dicap ustaz begini. Jangan dulu! Apalagi orang Indonesia ini wataknya suka berubah. Hari ini bicara A, besok jadi B, seperti bunglon, seperti gurita. Gurita, batu putih jadi putih, batu merah jadi merah, batu biru jadi biru, batu cokelat jadi cokelat, batu hitam jadi hitam, watak orang Indonesia,” kata Yahya Waloni.