Sempat Terkendala Biaya Diawal Mondok, Rahmaniah Raih Juara 1 Lomba Baca Kitab Kuning

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan
Lombabacakitabkuning
Foto: Rahmaniah saat penerimaan hadiah

Terkini.id, Makassar – Senyum semringah dan bahagia tidak henti-hentinya terukir dari wajah Rahmaniah saat mendengarkan namanya dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Baca Kitab Kuning Fraksi DPR RI yang diselenggarakan di Kantor DPW PKS Sulawesi Selatan pada 22 November 2020.

Betapa tidak, perjalanan jauhnya yang melelahkan dari Polewali Mandar ke Makassar, bisa terbayar lunas dengan menjadi yang terbaik di antara 50-an peserta lainnya dari berbagai daerah.

“Padahal awalnya saya hanya dapat info yang dibagikan teman, dan menyarankan saya ikut. Alhamdulillah, ternyata itu jalan saya untuk menjadi pemenang,” ucapnya tanpa kesan sombong sedikit pun.

Gadis kelahiran Passokorang, 17 Mei 1997 ini, ternyata hanya butuh waktu satu pekan untuk persiapan khusus mengikuti lomba. Selain itu, saat mendapatkan informasi lomba, dia juga mengaku harus mempersiapkan dirinya untuk berangkat KKN.

Namun, tentu saja belajar baca kitab kuningnya sudah sejak lama. Dia belajar kitab kuning sudah 11 tahun, tepatnya ketika dia mulai mondok di Ponpes Salafiyah Parappe. 

Menarik untuk Anda:

Ia mulai mondok sejak tamat SD sampai sekarang. 

“Sekarang saya kuliah di IAI DDI Polewali Mandar, sambil tetap mondok Ponpes Salafiyah,” ungkap putri Bapak Abdul Rauf dan Ibu Hindong ini.

Ditanya tentang tantangan terberat belajar kitab kuning, gadis asal Desa Mambu ini mengungkapkan bahwa dalam belajar baca kitab kuning, santri dibimbing tidak hanya mengandalkan otak untuk sekadar memberikan harokah pada kata atau kalimat per kalimat, tetapi bagaimana bisa lebih menggunakan hati untuk bisa menyatu dalam memaknai setiap kalimat. Dan tentu saja, butuh kesabaran lebih untuk tiba di level mahir.

Meski telah dinobatkan sebagai pemenang pertama, Rahmania tetap tak ingin memberi pengakuan bahwa dia sudah mahir membaca kitab kuning.

Gadis yang bercita-cita menjadi guru ini juga membagikan kisahnya ketika awal mondok dan belajar kitab kuning. Rupanya, butuh perjuangan kesabaran yang sangat ekstra untuk memulai karena orang tuanya tidak menyanggupi biaya sepenuhnya untuk mondok.

“Ya, mau nggak mau saya harus mandiri. Karena nggak bisa membayar uang makan di pondok, saya harus masak sendiri saat pertama mondok dulu. Apalagi saya enam bersaudara dan semua harus sekolah,” ungkapnya mengenang awal-awal mondok yang sangat berat. 

“Apalagi saya baru pisah dengan orang tua. Jika nggak punya kesabaran lebih, tentu saja saya nggak akan bertahan,” lanjutnya.

Kini, pohon kesabaran Rahmania yang selama ini dia rawat dan pupuk bertahun-tahun, telah dia petik buahnya. 

“Saya nggak ingin hanya menjadi beban di pundak kedua orang tua, saya harus melukis senyum kebanggaan di wajah mereka,” ujarnya.

Setelah mengantongi hadiah uang tunai senilai 3,5 juta, Rahmania akan mengadu peruntungan lagi di tingkat nasional. Jika menang, Ia akan mendapatkan tiket umrah dari Fraksi PKS DPR RI.

*(AM/FP PKS Sulawesi Selatan)

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Fakultas Teknik Unhas Mengadakan Seminar Bertajuk Al-Quran dan Teknologi Terhadap Engineer Muslim Masa Depan

Bupati Enrekang Pimpin 100 Mobil Bawa Logistik ke Sulbar

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar