Sepeda Listrik Asal NTB Dijual Sampai Australia hingga Inggris, Ini Penampakannya

Penampakan sepeda listrik buatan produksen di NTB.(antarafoto)

Terkini.id, Mataram – Jangan salah, bukan cuma sepeda merek Polygon, Wimcycle hingga Pacific yang dibuat di Indonesia. Baru-baru ini, produsen sepeda di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga sukses membuat sepeda listrik.

Tidak kalah dengan sepeda Indonesia ternama lainnya, sepeda listrik buatan builder NTB tersebut juga sudah sukses mendunia. Dipasarkan ke Australia, Inggris hingga Amerika.

Produsen lokal sepeda tersebut bernama Le-Bui (Lombok E-Bike Builder).

”Pangsa pasar saya adalah konsumen luar negeri. Paling banyak ke Amerika. Kalau luar kota masih jarang, apalagi di Lombok,” kata Gede Sukarma Dijaya, owner Le-Bui seperti dikutip dari Lombok Post, 3 Juli 2020.

Produsen yang memulai produksi sepeda listrik sejak 2016 tersebut sudah terjual ke seluruh benua, kecuali Afrika. Salah satu ciri khas dari sepeda produksi Le-Bui adalah tenaga listrik yang powerfull dengan konsep sporty.

Menarik untuk Anda:

Kapasitas baterai dan jarak tempuh juga dibuat berbeda-beda. Tergantung anggaran dan permintaan pasar. ”Minimal bisa menempuh jarak 30 kilometer dengan durasi charge dua hingga empat jam. Ada juga yang bisa menempuh hingga 150 kilometer sekali pakai. Makin besar anggarannya, makin jauh jarak tempuhnya,” jelasnya.

Dia menceritakan, gagasan membuat sepeda listrik itu berawal dari inisiatifnya memodifikasi sepeda konvensional menjadi sepeda listrik.

Menurut dia, dibutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk memproduksi satu buah sepeda. Mulai dari design, cetak kerangka, dan pemotongan besi mengikuti bentuk lekuk dan tikungan model. Dilanjutkan pengelasan hingga pengecatan.

“Seluruhnya dibuat original atas kreatifitas sendiri, terutama di bagian design. Kalau lihat model di internet tidak bisa ukur jarak dan dimensi sepedanya. Secara fisik mungkin bisa, tapi fungsinya tidak akan maksimal,” katanya.

Sepeda listrik produksinya pun terhitung mahal. Ia mematok harga mulai dari Rp 15-70 jutaan. Untuk itu, ia lebih banyak memproduksi bingkai sepedanya saja. Hal itu menjadi pertimbangan mengingat biaya produksi, juga elektrik kit, dan baterai yang didatangkan dari Jakarta sudah cukup besar. Ia pun tidak memproduksi sepedanya secara massal.

”Karena handmade kan mahal. Jadi orang jarang tertarik sehingga dibuatnya terbatas saja. Kecuali bagi mereka yang benar-benar hobi sepeda listrik,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai pengelola alat berat di kawasan Keru, Narmada, tersebut.

”Kecuali kalau sudah punya pabrik dan bisa kejar kapasitas produksi, pasti akan lebih murah,” lanjutnya.

Meski banyak yang berasumsi harga teknologi tersebut cukup mahal, namun, menurut Gede, sebenarnya sepeda listrik justru jauh lebih ekonomis. Karena sepeda listrik tidak memerlukan perawatan khusus. Berbeda dengan motor yang memiliki banyak onderdil, bensin, dan oli.

Juga tidak butuh pembuatan SIM maupun STNK. Di sisi lain, sarana dan prasarana penunjang pun masih sulit dikembangkan.

”Kalau dihitung secara matematis sebenarnya sepeda listrik jauh lebih hemat. Orang yang rajin bersepeda juga lebih sehat. Kalau di luar negeri, ada subsidinya. Dibanding subsidi bensin, lebih baik disubsidi sepeda,” jelasnya.

Saat ini, dirinya sedang menyiapkan tiga unit sepeda pesanan Dinas Perindustrian. Kemudian perakitannya akan langsung dilakukan bersama peserta bimbingan teknis (bimtek) di Sains Techno Industrial Park (STIP) Banyumulek. ”Saya harap bisa menggunakan fasilitas di sana sebaik mungkin, dan saya senang nantinya makin banyak anak muda yang bisa memproduksi sepeda listrik,” jelasnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Viral Cuitan Wanita Mengaku Gagal Lolos Akpol Gegara Dituding Positif Covid-19

Waspada Sindikat Penipu Oknum WNA Iran, Berikut Cara dan Modus Pelaku

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar