Seribu Bayangan Kematian di Udara

Andika Mappasomba

Inilah halaman baru peradaban manusia di zaman gelombang elektron. Semua dinilai dengan pulsa dan data.

Belumlah menjadi wabah dalam dua puluh tahun. Tapi, dia telah menghapus jejak anak tangga ratusan, bahkan dua ribu tahun.

Logika menjadi lumpuh dalam empat belas hari. Pendidikan kemanusiaan menjadi sampah tak berguna.

Teori ekonomi soal produsen dan konsumen membuat manusia berubah menjadi serigala, menjadi singa, menjadi hiu dan fredator jiwa-jiwa yang lemah.

Masker menjadi emas

Pembersih tangan menjadi berlian

ADP menjadi mutiara

Diperebutkan bagai mata air di tengah gurun. Mengenangkan kita pada kisah sumur yahudi dan dermawan utsman bin affan.

Padahal sejak dahulu, pada zaman batu, kemanusiaan dijunjung tinggi di atas logika solidaritas pengorbanan kematian. Tapi, rupanya, semua tak berlaku bagi musim wabah ini.

Jika aku bisa hidup

Biarlah kau mati

sungguh biadab manusia ini…

Orang ramai berkeliaran

Mengejek perintah pemerintah

Orang harus hidup katanya

Orang-orang, memilih sikap bebal

Mereka memilih punah dari miskin sehari

Sabda nabi diabaikan

Fatwa ulama tak diacuhkan

Sebagian yang lain

Memilih menggunting di dalam lipatan

Menjadi duri di dalam daging

Atas nama politik dan uang kesejahteraan pribadi

Dikipasinya keadaan sulit ini

Dengan kipas api dari dendamnya

Wahai orang-orang yang tak takut wabah,

Lihat keluar jendela

Haruskah ambulans itu berubah menjadi konvoi truk tentara membawa jazad-jazad menuju lahat

Jazad-jazad yang masih berdetak jantungnya dalam kantung-kantung mayat.

Tentang seribu bayangan kematian yang mengintai

Nurani kita sedang diberitahu;

senjata-senjata berat takkan bisa menaklukkan musuh yang tak dikenal.

Kesombongan alat perang menjadi besi-besi tua tak berguna esok hari

Lihatlah matahari esok pagi

Lihatlah ke halaman rumah

Setangkai dua tangkai bunga bermekaran

Membawa kabar baru dan kisah kisah lama

Wabah Eropa

Wabah Timur Tengah

Wabah Afrika

Wabah Amerika

Wabah Kolonial

Wabah otak bebal

wabah hati mayat

Semua berawal cerita dan berujung kisah Tapi, seratus ratus tahun sepertinya membuat kita malas membuka lembar buku sejarah.

Orang-orangbebal lebih memilih tidak mau tahu dengan bergelas kopi dan konvoi-konvoi tak becus di jalan raya.

Karnaval dan kenduri pemujaan setan di tempat hiburan. Menulis fitnah dan caci maki soal mata uang yang kita pahami akarnya bersama.

Protes membahana soal Ibadah di masjid

Padahal di gereja dan vihara, kelenteng dan kuil, tak pernah mereka tampak.

Tuans bertuhan yang mana?

Seribu bayangan kematian mengintai di udara

Seperti mata tombak zaman batu

Ketika orang-orang berseliweran dan berburu hewan santapan. Cawat kulit kayu. Mahkota dari kerang-kerang laut. Jerat dan racun di ujung tombak.

Ketika zaman berubah menjadi peradaban elektron dan pulsa data

Ternyata sama saja di musim wabah ini dari dahulu. Siapa kuat, dia jadi pemangsa. Tapi tak lagi membawa panah dan pisau batu.

Orang-orang bebal itu membawa kematian orang lain pada matanya. Dia adalah penyebar wabah yang nyata. Manusia lain adalah konsumen. Dan merekalah produsen janji keamanan nyawa.

Ditimbunnya

Ditimbunnya

Ditimbunnya

Lalu diangkat harganya ke udara. Dia menjelma menjadi wabah yang nyata

Merekalah hama nusa bangsa.

Tembak di kepala!

Kuburkan dia dengan menggunakan cawat saja

Bagai dahulu

saat tak ada sekolah hati nurani

Saat manusia berpindah dari goa ke goa

Menyeret-nyeret daging dendeng hasil buruannya

Daging manusia lain di luar sukunya

Yang dipenggal dengan sembilu

Tanpa perikemanusiaan

Seperti penunggang hama di republik ini.

Komentar

Rekomendasi

Menyikapi Corona dan Hoax Melalui Intervensi Sosial

Corona oh Corona!

Mengharukan: Sepenggal Kisah Guru Pesantren di Tengah Covid-19

Dokter Tuhan

Opini: Jokowi Mendengar Saran Oposisi

SOP Salat Jumat Masjid ‘Jarang’

APD Jas Hujan

Sepenggal Cerita Awak Kabin Mengudara di Tengah Pandemi Covid-19

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar