Terkini.id, Jakarta – Aktivid dan pegiat media sosial, Nicho Silalahi melontarkan sindiran keras kepada Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengenai kelangkaan minyak.
Ia mengatakan bahwa Presiden Jokowi tak mampu mengurus masalah minyak goreng, namun malah berhalusinasi mengenai kemampuannya dalam hal lain.
Nicho Silalahi mengatakan ini sebagai respons terhadap berita berjudul “Jokowi: 400 Tahun Lebih Kita Tak Miliki Keberanian Melangkah”.
“Pak Jokowi, Indonesia Itu lahir sejak 17 Agustus 1945, Apa Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati hingga SBY para penakut melangkah gitu pak?” kata Nicho Silalahi melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa, 1 Maret 2022.
“Siapa sih pembisik bapak sehingga ngawur berkomentar? Ngurus Minyak Goreng aja ga mampu malah berhalusinasi,” sambungnya.
- Truk Minyak Goreng Terguling Depan UNM, Warga Makassar Berebut
- IKA Smansa Makassar Gelar Pasar Murah, Rp50 Ribu Dapat Beras 5 Kg, Gula Pasir 1 Kg, dan Minyak Goreng 1 Liter
- Sidang Perkara Minyak Goreng di KPPU Masuk Tahap Akhir, Periksa 27 Terlapor
- Mengatasi Harga Minyak Goreng Tinggi di Makassar, Sandiaga Uno Bakal Kolaborasi Kementerian Terkait
- Antisipasi Penimbun, Distributor Minyak Goreng Batasi Jumlah Pembelian
Dilansir dari berita yang ditanggapi Nicho Silalahi, Presiden Jokowi menyatakan sudah 400 tahun lebih Indonesia tidak memiliki keberanian dalam memanfaatkan semua kekayaan alam yang dimiliki secara maksimal untuk kepentingan dalam negeri.
Jokowi menyebut ketakutan itu tercermin dari ekspor Indonesia yang kebanyakan dalam bentuk bahan mentah.
“Sejak zaman VOC, 400 tahun yang lalu kita mengirim bahan mentah, yang kita kirim bahan mentah. Kayu kita kirim gelondongan, komoditas pertanian, perkebunan sampai sekarang juga (kita ekspor) mentah,” kata Jokowi saat memberikan pengarahan dalam Rapat Pimpinan TNI- Polri di Jakarta, Selasa, dilansir dari CNN Indonesia.
“Kita sudah 400 tahun lebih tidak memiliki keberanian untuk melangkah ke yang namanya transformasi ekonomi,” sambungnya.
Presiden Jokowi menilai bahwa karena ketakutan melangkah itulah, Indonesia tidak pernah dapat apa-apa dari kekayaan alam melimpah yang dimilikinya.
Atas dasar itulah, pemerintahannya melakukan perubahan pengelolaan sumber daya alam dengan melakukan transformasi ekonomi.
Dengan kebijakan itu, pemerintah berupaya untuk menghentikan ekspor sumber daya alam dalam bentuk mentah.
Menurutnya, langkah itu sudah dilakukan terhadap beberapa jenis kekayaan alam, salah satunya nikel. Ia tak mengizinkan lagi nikel diekspor dalam bentuk mentah.
“Nikel, gak boleh ekspor lagi nikel. Bahan mentah nikel nggak, setop (ekspornya). Kiriman ekspor harus minimal setengah jadi, kemudian nanti berikutnya harus barang jadi,” katanya.
Presiden Jokowi mengatakan langkah itu dilakukannya supaya kekayaan alam bisa memberikan nilai tambah bagi ekonomi di dalam negeri.
Dengan langkah itu, ia berharap ekonomi yang selama ini 56 persen sampai 58 persennya bertumpu pada konsumsi bisa digeser ke produksi.
“Jangan sampai tumpuan kita pertumbuhan kita 56-58 persen bertumpu pada konsumsi. Kita akan merubah dari konsumsi menjadi produksi. Yang tumpuannya konsumsi menjadi produksi, artinya lagi apa? Kita harus melakukan hilirisasi industri, kita harus melakukan yang namanya industrialisasi,” katanya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
